Dugem di Winter

Seperti malam minggu sebelumnya, malam itu saya kembali menyusuri pelataran Broad street saat waktu Inggris menunjukkan pukul 12 malam. Seperti biasanya, pasangan muda-mudi hilir mudik sambil tertawa penuh kebahagiaan dan kebanggaan memenuhi pub di areal Broad Street. Si cowok lengkap dengan white top dan dibalut dengan jaket kulit hangat, sementara si cewek tampil dengan pakaian yang sangat minim. Kadang hanya dibalut tank top dengan diselimuti rok tipis sepaha. Ck ck ck.. Amazing sekali perjuangan para wanita ini untuk sekedar dugem di winter ini..

Padahal, seperti biasanya pula, temperatur di Birmingham pada saat-saat itu paling banter 2 degrees celcius. Malah pernah satu ketika temperatur drop sampe minus 5. Dan para bidadari itu hanya mengenakan pakaian yang begitu minim, tanpa merasa kedinginan.

Sebenarnya mereka sangat kedinginan. Saat saya mencoba mendekati para bidadari itu, saya sempat memperhatikan bagaimana tubuh mereka menggigil kedinginan dan tangan yang bergemetaran menahan dingin yang sangat menusuk tulang. Saya -yang selalu mengenakan jaket dengan tebalnya- tidak kuasa menahan rasa dingin yang rasanya ngga ada habis-habisnya itu. Betapa amazing nya mereka bisa menahan itu semua.

Dalam hati saya menangis. Girls.. kenapa kalian sepertinya bersedia melakukan apa saja demi menarik perhatian? Atau, apakah saya yang terlalu narrow minded yang berpikir bahwa kalian melakukan itu hanya untuk menarik perhatian saja? Sungguh, saya sedih melihat kalian hanya menjadi bahan pertontonan bagi kaum yang sepertinya memiliki power untuk menundukkan kalian.

Saya kembali tertegun di tengah bisingnya dentuman musik dan gemericing gelas-gelas yang betebaran di lantai. Dugem di winter ini sangat dingin, para bidadari. Kenapa kalian dapat menghalau semua itu demi kebahagiaan sesaat dan demi memuaskan perhatian kaum yang hanya silau dengan pesona lahiriah yang kamu punya?

Kembali pikiran saya melambung jauh ke negeri akademika. Saya sangat bahagia saat menyaksikan betapa kaum adam meng-appreciate kamu hawa dengan kepintaran yang kita miliki, tidak hanya kepintaran kita memoles tubuh kita. Saya sangat terkesan saat prof. hillary dikampus saya mendapatkan ‘perhatian’ yang simpatik dari kaum adam dengan pesona beliau dalam memberikan pencerahan terhadap upaya pemberantasan poverty di negara-negara berkembang. Prof Hillary yang masih sangat muda dan cantik, lengkap dengan white top yang dibalut jaket Chanel serta rok mininya, menambah anggun penampilannya. Posisi antara para bidadari dan prof hillary pada saat itu adalah sama, yaitu bagaimana berupaya ‘menarik perhatian’. Hanya saja, prof hillay bisa menarik perhatian dengan cerdas. Cerdas dalam artian kecantikan lahiriah dipadupadankan dengan kecantikan batiniah dan kecerdasan intelektual.

Saya ngga mengatakan bahwa para bidadari itu berotak tumpul. Sebagian dari mereka, mungkin, mempunyai pemikiran yang sangat brilian. Dengan usia yang masih belia dan kecantikan lahiriah yang bisa diunggulkan, seharusnya itu dapat menjadikan sebuah instrumen bagi mereka untuk mem-value diri mereka sendiri.

"Learn to value ourself".

Itulah nasihat abang saya - Huda- yang selalu terngiang-ngiang dalam alam bawah sadar saya. Saya harus bisa mem-value diri saya. Bersikap dan bertindak yang cerdas dan menghargai diri saya sendiri. Seberapa besar orang lain akan mem-value diri kita, akan tergantung bagaimana kita mem-value diri kita sendiri.

Jika kita sudah memutuskan bahwa value kita akan lebih bertambah dengan dugem di winter dengan pakaian minim itu, tentunya surrounding kita juga akan memberikan value seperti itu juga -tentunya dengan berbagai persepsi yang beragam. Jika kita sudah memutuskan bahwa kita memvalue diri kita dengan berpakaian minim di forum akademika, value yang diberikan audiens tentunya akan berubah lagi. Sejauh mana kita memposisikan value diri kita, sedikit banyak menentukan persepsi society yang ada disekeliling kita.

Ah, lamunan saya harus berhenti sampai disitu. Waktu sudah menunjukkan pukul 1. Saya harus pulang dan kembali menghargai diri saya. Kembali mencoba mengkombinasikan kecantikan lahiriah, batiniah, dan intelektual seperti yang diusung Prof Hillary.

One Response to “Dugem di Winter”

  1. Hadi Says:

    learn to value ourself..
    bener nen.. setuju.. :-) Menarik liputannya soal per-dugeman… saya dulu pernah diajak temen2 ke diskotik.. nggak berani euy… hahaha.. takut ketagihan.
    Apa yang dilakukan cewek2 tsb bagian dari usaha untuk diakui eksistensi sosialnya. Padahal sebenarnya jika kita (terlalu) bergantung kepada penilaian orang lain (which is outside our control).. siap-siaplah kecewa… karena merekapun punya segudang masalah. salam. hadi

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.