Poligami Dalam Pandangan Isteri Kedua

Akhir-akhir ini gosip miring tentang pernikahan kedua Aa Gym seakan menjadi jualan laris di stasiun tivi maupun tabloid gosip. Kebanyakan mencemooh, menyesali, bahkan tak segan-segan menghujat keputusan Aa untuk menikah lagi. Namun, ada pula yang mendukung sikap Aa, terutama dari kaum lelaki agamis yang berpegang teguh pada ketentuan agama.

Para ibu ada yang simpati dan ada yang empati pada Teh Ninih, sang isteri pertama. Mereka memuji sikap Teh Ninih yang begitu tegar dalam menghadapi cobaan ini. Sebagai wanita normal, tentunya perasaan Teh Ninih bagaikan dicabik-cabik kala menyadari harus berbagi kebahagiaan di hati Teh Ninih. Kita juga bisa melihat di tivi, walaupun teh Ninih kelihatan tegar, tapi terlihat semburat keletihan dan kekecewaan dari wajahnya.

Itu ekspresi dari Isteri Pertama. Lalu bagaimana dengan Teh Rini, sang isteri kedua?

Sepanjang liputan infotainment, hanya ditampilkan foto Teh Rini saja dan sesekali kilasan gambar Teh Rini saat menghadiri acara bersama dengan Aa dan Teh Ninih. Teh Rini hanya bisa tertunduk sambil sesekali membetulkan jilbabnya. Walaupun dalam posisi tertunduk, kita masih bisa melihat raut muka cantik Teh Rini. Maklum, Teh Rini dikabarkan sebagai mantan model.

Tentunya banyak yang mencemooh Teh Rini, walau ada pula yang memuji Teh Rini. Teh RIni dipandang sebagian orang sebagai duri dalam daging, dan akan membuat popularitas Aa akan terenggut.

Jika saya membayangkan posisi saya saat ini sebagai Teh Rini, saya sepertinya angkat topi. Betapa berat ujian dan cobaan yang harus dijalani Teh Rini.

Menjadi isteri kedua itu bukan sebuah keputusan yang mudah. Pertama, ia harus bisa mengalahkan egonya untuk membagi suaminya dengan isteri yang lain. Ini bukan hal yang mudah diterima seorang wanita. Setegar apapun seorang wanita, ia tidak akan rela pasangannya berbagi hati dengan wanita lain. Saya rasa, laki-laki juga akan seperti itu. Mereka tidak akan rela jika pasangannya berbagi hati dengan laki-laki lain. Itu sangat manusiawi sehingga bisa terjadi pada laki-laki maupun wanita.

Kerelaan membagi ’suami’ tersebut harus dari segala hal, baik materi maupun imateri. Secara materi, jika suami hanya beristrikan satu orang, otomatis semua harta suami akan dikelola oleh satu isteri. Tetapi, jika sang suami memiliki dua isteri, otomatis kue penghasilan harus dibagi dua secara adil. Pengertian adil itu sendiri harus bisa didefinisikan secara benar agar tidak menimbulkan suasana kecemburuan dari semua pihak.

Kecenderungan yang terjadi di masyarakat awam, isteri pertama akan mendapatkan porsi yang "lebih" dibanding dengan isteri kedua. Sebagian komuniti menganggap wajar karena si isteri tua harus rela berbagi dengan isteri pertama. Tetapi, pada dasarnya, sang isteri kedua juga memiliki harapan-harapan dalam hidupnya. Namun, karena dia ditakdirkan untuk jadi isteri kedua, banyak pengorbanan yang harus dilakukannya.

Selain yang bersifat materi, pengorbanan yang bersifat imateri juga harus dialami isteri kedua. Sang isteri kedua (sama hal nya dengan isteri pertama) tentu harus mengalami malam-malam sepi karena sang suami sedang berada di tempat isteri yang lain. Setegar apapun, sang isteri tetap memiliki naluri alamiah seorang wanita dan manusia yang juga memiliki keinginan batiniah. Di saat sang suami sedang bersama isteri yang lain, tentunya sang isteri kedua harus rela membagi tubuh suami nya untuk orang lain. Ini bukan ujian yang ringan.

Kedua, sang isteri kedua harus tebal telinga dengan berbagai cemooh dan omongan orang. Stigma yang diberikan di masyarakat adalah isteri kedua sebagai pengganggu rumah tangga, terlebih lagi jika proses pemilihan isteri kedua tersebut tidak melalui proses harmonisasi antara interested parties, baik isteri pertama, anak, dan keluarga besar lainnya. Untuk itu, resiko paling dekat yang dihadapi isteri kedua adalah harus tebal telinga dalam menghadapi berbagai macam cacian dari komuniti.

Ujian-ujian tadi tidak bisa dianggap remeh. Sehingga, keputusan menjadi isteri kedua juga merupakan sebuah keputusan yang berat, bahkan mungkin bisa dikatakan melebihi keputusan seorang wanita normal saat ingin dinikahi seorang pria.

Begitulah, pro dan kontra pernikahan kedua Aa gym sebaiknya jangan hanya dilihat dari sudut Aa saja. Sebagai laki-laki -katanya- sudah kodrat mereka untuk ingin memiliki pasangan lebih dari satu. Tetapi, bagaimana dengan wanita? Kodrat wanita -katanya lagi- sebagai pendamping bagi laki-laki.

Namun, satu hal yang membuat saya berpikir. Hubungan antara isteri dan suami ibarat pakaian. Isteri adalah pakaian bagi suaminya, begitu pula sebaliknya, suami adalah pakaian bagi isteri. Namun betapa sedihnya apabila pakaian itu harus disobek dan dibagi dua. Hanya ikhlas lah yang bisa mengantarkan seorang wanita untuk bisa merelakan pakaiannya dirobek dan diberikan kepada wanita yang lain. Dan hanya wanita yang ikhlas saja lah yang rela menerima pakaian robek tadi.

Mudah-mudahan pakaian yang robek tadi bisa ditambal dengan kebijakan dan keadilan sang suami. Sehingga, pakaian yang robek tadi tidak menjadi tambah lebar robeknya.

2 Responses to “Poligami Dalam Pandangan Isteri Kedua”

  1. Ketut Says:

    Hmmm… intinya mau nggak jadi istri kedua ? :D

  2. enharsema Says:

    Funny foto here

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.