Archive for the ‘Current Affairs’ Category

Poligami Dalam Pandangan Isteri Kedua

Monday, December 11th, 2006

Akhir-akhir ini gosip miring tentang pernikahan kedua Aa Gym seakan menjadi jualan laris di stasiun tivi maupun tabloid gosip. Kebanyakan mencemooh, menyesali, bahkan tak segan-segan menghujat keputusan Aa untuk menikah lagi. Namun, ada pula yang mendukung sikap Aa, terutama dari kaum lelaki agamis yang berpegang teguh pada ketentuan agama.

Para ibu ada yang simpati dan ada yang empati pada Teh Ninih, sang isteri pertama. Mereka memuji sikap Teh Ninih yang begitu tegar dalam menghadapi cobaan ini. Sebagai wanita normal, tentunya perasaan Teh Ninih bagaikan dicabik-cabik kala menyadari harus berbagi kebahagiaan di hati Teh Ninih. Kita juga bisa melihat di tivi, walaupun teh Ninih kelihatan tegar, tapi terlihat semburat keletihan dan kekecewaan dari wajahnya.

Itu ekspresi dari Isteri Pertama. Lalu bagaimana dengan Teh Rini, sang isteri kedua?

Sepanjang liputan infotainment, hanya ditampilkan foto Teh Rini saja dan sesekali kilasan gambar Teh Rini saat menghadiri acara bersama dengan Aa dan Teh Ninih. Teh Rini hanya bisa tertunduk sambil sesekali membetulkan jilbabnya. Walaupun dalam posisi tertunduk, kita masih bisa melihat raut muka cantik Teh Rini. Maklum, Teh Rini dikabarkan sebagai mantan model.

Tentunya banyak yang mencemooh Teh Rini, walau ada pula yang memuji Teh Rini. Teh RIni dipandang sebagian orang sebagai duri dalam daging, dan akan membuat popularitas Aa akan terenggut.

Jika saya membayangkan posisi saya saat ini sebagai Teh Rini, saya sepertinya angkat topi. Betapa berat ujian dan cobaan yang harus dijalani Teh Rini.

Menjadi isteri kedua itu bukan sebuah keputusan yang mudah. Pertama, ia harus bisa mengalahkan egonya untuk membagi suaminya dengan isteri yang lain. Ini bukan hal yang mudah diterima seorang wanita. Setegar apapun seorang wanita, ia tidak akan rela pasangannya berbagi hati dengan wanita lain. Saya rasa, laki-laki juga akan seperti itu. Mereka tidak akan rela jika pasangannya berbagi hati dengan laki-laki lain. Itu sangat manusiawi sehingga bisa terjadi pada laki-laki maupun wanita.

Kerelaan membagi ’suami’ tersebut harus dari segala hal, baik materi maupun imateri. Secara materi, jika suami hanya beristrikan satu orang, otomatis semua harta suami akan dikelola oleh satu isteri. Tetapi, jika sang suami memiliki dua isteri, otomatis kue penghasilan harus dibagi dua secara adil. Pengertian adil itu sendiri harus bisa didefinisikan secara benar agar tidak menimbulkan suasana kecemburuan dari semua pihak.

Kecenderungan yang terjadi di masyarakat awam, isteri pertama akan mendapatkan porsi yang "lebih" dibanding dengan isteri kedua. Sebagian komuniti menganggap wajar karena si isteri tua harus rela berbagi dengan isteri pertama. Tetapi, pada dasarnya, sang isteri kedua juga memiliki harapan-harapan dalam hidupnya. Namun, karena dia ditakdirkan untuk jadi isteri kedua, banyak pengorbanan yang harus dilakukannya.

Selain yang bersifat materi, pengorbanan yang bersifat imateri juga harus dialami isteri kedua. Sang isteri kedua (sama hal nya dengan isteri pertama) tentu harus mengalami malam-malam sepi karena sang suami sedang berada di tempat isteri yang lain. Setegar apapun, sang isteri tetap memiliki naluri alamiah seorang wanita dan manusia yang juga memiliki keinginan batiniah. Di saat sang suami sedang bersama isteri yang lain, tentunya sang isteri kedua harus rela membagi tubuh suami nya untuk orang lain. Ini bukan ujian yang ringan.

Kedua, sang isteri kedua harus tebal telinga dengan berbagai cemooh dan omongan orang. Stigma yang diberikan di masyarakat adalah isteri kedua sebagai pengganggu rumah tangga, terlebih lagi jika proses pemilihan isteri kedua tersebut tidak melalui proses harmonisasi antara interested parties, baik isteri pertama, anak, dan keluarga besar lainnya. Untuk itu, resiko paling dekat yang dihadapi isteri kedua adalah harus tebal telinga dalam menghadapi berbagai macam cacian dari komuniti.

Ujian-ujian tadi tidak bisa dianggap remeh. Sehingga, keputusan menjadi isteri kedua juga merupakan sebuah keputusan yang berat, bahkan mungkin bisa dikatakan melebihi keputusan seorang wanita normal saat ingin dinikahi seorang pria.

Begitulah, pro dan kontra pernikahan kedua Aa gym sebaiknya jangan hanya dilihat dari sudut Aa saja. Sebagai laki-laki -katanya- sudah kodrat mereka untuk ingin memiliki pasangan lebih dari satu. Tetapi, bagaimana dengan wanita? Kodrat wanita -katanya lagi- sebagai pendamping bagi laki-laki.

Namun, satu hal yang membuat saya berpikir. Hubungan antara isteri dan suami ibarat pakaian. Isteri adalah pakaian bagi suaminya, begitu pula sebaliknya, suami adalah pakaian bagi isteri. Namun betapa sedihnya apabila pakaian itu harus disobek dan dibagi dua. Hanya ikhlas lah yang bisa mengantarkan seorang wanita untuk bisa merelakan pakaiannya dirobek dan diberikan kepada wanita yang lain. Dan hanya wanita yang ikhlas saja lah yang rela menerima pakaian robek tadi.

Mudah-mudahan pakaian yang robek tadi bisa ditambal dengan kebijakan dan keadilan sang suami. Sehingga, pakaian yang robek tadi tidak menjadi tambah lebar robeknya.

Arti Sebuah Kebersamaan

Tuesday, August 29th, 2006

Ngga terasa waktu berjalan begitu cepat. Hampir setahun aku sudah di UK. It’s time to go back. Gank_of_fiveFacing the reality and meeting the old friends. Meninggalkan semua cerita di UK, meninggalkan teman2 tercinta selama di UK. Teman-teman yang selalu menghiasi hari-hari kelabu gue. Tema n2 yang selalu ada di samping gue kalo gue butuh.

Besnik, Marina, Mariella, Christiana, Mellisa..they are my best mates ever from Kosovo, Bolivia, Peru, Jerman, and Venezuella.

Minggu kemarin, Besnik sudah lebih dulu meninggalkan kami. Dia harus pulang ke Kosovo dan mungkin baru akan kembali pas graduation nanti.

Besnik adalah sahabat yang kami sayangi. Aku, Marina, Mariella, Christiana, dan Mellisa adalah thBesnik_chris_mariellae Besnik’s girls. Kami sudah sahabatan sejak awal kami masuk di IDD. Banyak suka, cerita, duka sudah kami alami sama-sama. Kini Besnik telah pergi ke negara nya. Sebentar lagi, my lovely Chris and Marina juga akan pergi. Oh God, ngga tau perasaan aku jadi ngga keruan gini. Serasa ada sesuatu yang missing yang ngga mungkin bisa terdeskripsikan. Mereka sudah seperti jadi bagian dalam diri aku dan sekarang semua nya dicabut dari aku. Entah kapan aku bisa bersama-sama mereka lagi.

Kebersamaan dan persahabatan dengan mereka ngga ternilai dengan apapun.With_besnik Jadi, walau pun Kosovo, Peru, Venezuella, Bolivia, Jerman dan Indonesia sangat berbeda kultur, bahasa dan jarak, tapi kebersamaan itu tetap ada dan akan selalu ada. Kebersamaan yang akan selalu membawa kenangan akan indahnya menjalani hari-hari di UK.

Selamat jalan sahabat-sahabatku..Me_christiana Hasta Luego, and till we meet again…. God Bless you all…

Belajar Terbiasa Dengan Globalisasi

Saturday, August 19th, 2006

Group4_1

Kata-kata globalisasi tentunya bukan hal yang asing buat kita. Maknanya bisa luas; bisa mencakup hubungan politik internasional, perdagangan, ekonomi, komunikasi, sampai badan intelijen.

Buat saya, makna globalisasi tidak lain adalah pertukaran informasi. Dengan adanya globalisasi, kita jadi tahu apa yang terjadi di Libanon saat digempur pasukan Israel. Kita juga tahu bahwa ada busung lapar di Ethiopia dan negara-negara Afrika. Dengan globalisasi, kita juga bisa ikutan mengutuk Bill Clinton saat terlibat skandal dengan Monica Lewinski.

Itulah hebatnya globalisasi.

Kita bisa menikmati gurihnya KFC dan McDonald. Kita juga bisa dengan leluasa menelpon pacar dengan HP Nokia buatan Findland. Kita juga bisa dengan mudah berkomunikasi via Skype buatan Estonia untuk menghubungi teman dan sahabat kita yang ada di luar negeri. Selain itu, kita juga bisa jalan gaya dengan tas Gucci dan jam Benetton untuk berangkat kerja.

Itulah hebatnya globalisasi.

Banyak orang yang kagum dengan kecanggihan globalisasi. Banyak pula yang mengecam bahaya dibalik globalisasi. Bahaya akibat kapitalisme dan konsumerisme selalu diusung kaum penggugat globalisasi. 

Tapi, lagi-lagi, itulah hebatnya globalisasi.

Rasa ketakutan yang berlebihan bisa ditepiskan dengan serentetan keuntungan yang diberikan dalam globalisasi. Kemudahan komunikasi dan jaringan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, sampai kepada akses ke lembaga peminjam internasional.

Namun, saya tidak mau beropini terhadap serentetan keuntungan tersebut. Selain udah basi dan terlalu sering diusung oleh orang lain, saya ingin memberikan sedikit wacana tentang globalisasi dari sudut pandang yang lain, yaitu mengenai pertukaran informasi.

Pertukaran informasi menjadi krusial agar kita bisa cope dengan lingkungan dan perubahan dunia yang demikian cepat. Bagaimana kita bisa dengan mudah beradaptasi dengan perubahan tersebut dan bisa berkompetisi dengan orang-orang dari negara lain?

Tentunya kita harus bisa menguasai alat komunikasi, yaitu melalui bahasa. Saat ini, dunia mengenal 6 jenis bahasa yang diakui secara internasional, yaitu bahasa inggris, perancis, jerman, china, spanyol, dan arab. Keenam bahasa asing ini diyakini sebagai bahasa internasional berdasarkan populasi yang menggunakan bahasa tersebut.

Kita kecilkan ke dalam bahasa inggris saja. Sejak saya TK sampai sekarang, pelajaran bahasa inggris sudah menjadi lalapan saya sehari-hari. Saya masih ingat betapa orang tua sangat menggembleng saya untuk bisa mahir berbahasa Inggris. Alasan mereka, kalo saya ingin maju dan bisa menembus dunia internasional, saya harus pintar bahasa inggris. Tentunya, buah ini saya petik sekarang. Saya bisa confidence cas cis cus berkomunikasi dengan orang lain di negara nya Prince William ini, karena saya dulu begitu menghayati pentingnya bahasa inggris ini.

Namun, seiring waktu dan jam terbang saya menembus dunia internasional, saya semakin ragu dengan ide globalisasi dari perspektif bahasa sebagai alat komunikasi global. Dalam beberapa kiprah saya di beberapa negara eropa -yang notabene dekat dengan negara Inggris- masih banyak masyarakatnya yang tidak mau dan tidak bisa bahasa inggris. Tak terkecuali dengan orang Perancis yang dulu terkenal anti dengan bahasa inggris. Kesulitan berkomunikasi juga kerap saya jumpai di negara-negara eropa timur, walau sebenarnya hal tersebut wajar aja karena mereka baru saja menggeliat dari rejim komunis pasca kejatuhan Uni Sovyet.

Bahkan, dalam kunjungan saya ke Markas PBB di Vienna beberapa Img_0002 waktu lalu, ada cerita bahwa bahasa inggris ternyata bukanlah menjadi bahasa pengantar dalam rapat pleno di PBB. Argumen yang diberikan adalah lebih kepada kenyamanan dan kepercayaan dalam berkomunikasi. Untuk itu, peran interpreter atau penerjemah sangat krusial untuk menjembatani language problem tersebut.

Dari sini saya kemudian mencoba mencari, apakah benar justifikasi ayah saya bahwa kalo saya ingin terjun ke dunia internasional saya harus pintar bahasa inggris?

Saya kemudian teringat dengan kejadian lucu dan cukup memalukan yang dialami Nadine, seorang putri cantik Indonesia yang diikutkan dalam acara Miss Universe 2006. Mungkin masih ramai dibicarakan di milis-milis betapa memalukanya seorang putri cantik Indonesia tidak bisa berkomunikasi secara lancar dalam bahasa Inggris di ajang internasional.

Tapi, lagi-lagi, Nadine bukanlah perempuan super. Dia memang cantik dan berbakat. Hanya saja kemampuan bahasa Inggris dia perlu diasah lagi kalau dia ingin lebih confidence dalam berbicara dalam bahasa asing.

Tapi Nadine juga tidak salah. Bahasa Inggris belum lah menjadi second language di Indonesia. Nadine mungkin tidak berkomunikasi secara aktif dalam bahasa inggris. Lain dengan Nadine-Nadine di Malaysia dan India yang menjadikan english sebagai second language mereka.

Melihat kenyataan Nadine ini, ada dua proposisi yang mungkin bisa ditarik. Pertama, jika Nadine aware, at least dia tidak perlu menceburkan diri dalam globalisasi bahasa yang dia sendiri tidak kuasai. Alangkah elegannya jika Nadine berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan bahasa Indonesia-bahasa yang setiap hari diucapkan oleh 250 juta orang. Itu bukan suatu hal yang buruk dan memberikan penilaian yang sedikit buat Nadine. Karena, terbata-batanya Nadine dalam menjawab pertanyaan, membuat Nadine dan dunia pendidikan di Indonesia (terutama pendidikan Bahasa Inggris) menjadi tercemooh.

Kedua, jika Nadine aware untuk terjun ke dunia internasional, jangan lah setengah-setengah. Kesempatan selalu ada untuk bisa meng-up date kemampuan berbahasa asing agar bisa mampu berkompetisi di arus globalisasi bahasa tersebut. Proposisi kedua inilah yang dikenalkan ayah saya sehingga saya merasa confidence untuk melebarkan jaringan internasional saya.

Kesimpulannya, belajar terbiasa dengan globalisasi bisa dilihat dari dua sisi. Menerima informasi dan perubahan yang ada, atau mencoba membuat perubahan dari sebuah bentuk kesepakatan informal yang selama ini telah terbangun. Dalam hal ini, kasus pengenalan bahasa indonesia dalam wawancara Nadine dapat merefleksikan sisi yang kedua.

Dengan melihat globalisasi dari kedua sisi tersebut, kita tidak perlu takut untuk belajar terbiasa dengan globalisasi.

Img_0080 Anda boleh sependapat, boleh juga tidak .

Refleksi Merah Putih

Saturday, August 19th, 2006

Burung_garudaBirmingham, Kamis-17 Agustus 2006

Tidak seperti biasanya, hari ini seperti ada yang tidak biasa. Ada sesuatu yang mengganjal yang sepertinya tidak bisa saya hilangkan begitu saja.

Rasa gundah saya t erjawab dengan text dari salah satu teman di Amsterdam yang mengingatkan pada detik-detik proklamasi kemerdekaan RI. Saya tersadar bahwa berada jauh dari negeri tercinta, semangat dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara tetap saja ada. Seketika saya rindu dengan Indonesia.

Saya rindu dengan masa-masa kecil saya saat perayaan 17 Agustusan. Mulai dari pagi dimana harus ada ritual upacara di sekolah, sampai ikutan berbagai lomba yang  diadakan di sekolah dan lingkungan RT. Walaupun tidak pernah menang, tapi at least, ada sesuatu yang tersirat dari perayaan tersebut sehingga saya sangat menantikan kedatangan hari kemerdekaan tersebut.

Saat ini saya terjaga dari lamunan masa kecil tentang indahnya perayaan 17 Agustus-an bagi seorang anak kecil. Yang kemudian tersisa adalah bagaimana Anak_indomerefleksikan gempitanya perayaan tersebut, bagaimana bisa merefleksikan kehadiran merah putih dalam jiwa dan hati saya?

Banyak kawan yang menyebut negara Indonesia dengan negara kampret. Jujur harus diakui, bahwa porsi rakyat kampret sudah cukup menggila. Politisi, pejabat pemerintahan, kalangan bisnis, bahkan kalangan pendidik, bisa terbilang kampret.

Politisi yang berpakaian perlente di DPR, berbondong-bondong ‘merayakan’ kemerdekaan di gedung DPR. Entah persepsi ‘merayakan’ apa yang mereka anut. ‘Merayakan’ kemerdekaan dari belenggu kemiskinan mereka sendiri, karena sebelum jadi politisi, mereka hanya bajingan tengik. Atau, apakah masih ada politisi tersebut yang memang membela kemiskinan rakyat? Itu patut dipertanyakan. Saya tidak bermaksud mengecilkan arti dari sebuah perjuangan sekelompok orang yang ‘katanya’ memperjuangkan nasib wong cilik. Wong cilik yang mana? Tukang becak? Tukang Jakartanasi pecel? Guru di daerah terpencil? Bagi saya, platform wong cilik yang diusung sekelompok orang ini juga belum jelas. Seandainya wong cilik tersebut akan dibela dan dibantu, seperti apakah bantuannya? Membagi-bagikan uang pada wong cilik tersebut? Itu juga sama tidak jelasnya.

Kemudian, para pejabat di lingkungan pemerintahan rame-rame berkumpul di lapangan upacara untuk mengenang detik-detik proklamasi dengan khidmat. Sepatah dua patah kata dari sang pemimpin upacara selalu mengorasikan hal-hal klise dimana kita harus bisa mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang. Kita juga harus bisa mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah kita raih. Tapi, bagaimana kita bisa merefleksikan pengorbanan para pahlawan itu disaat para pejabat di pemerintahan berlomba-lomba untuk korupsi? Pejabat di pusat maupun di daerah terlibat dalam korupsi secara berjamaah. Mungkin justifikasi ‘manuasiawi’ dan ‘kewajaran’ melakukan kowupsi yang berlaku di banyak tempat, bahkan di negara sekaliber Amerika, membuat para pejabat dan kalangan institusi pemerintahan semakin giat memupuk korupsi tersebutAnak_sekolah. Jika lingkaran setan korupsi berjamaah itu diputus, maka akan timbul lingkaran setan yang lain yang semakin sulit untuk ditembus.

Tidak hanya di jaringan Senayan dan institusi pemerintahan, gegap gempita perayaan 17 agustus juga dilakukan oleh pelaku bisnis. Dengan menebarkan spanduk-spanduk berisi mendukung penuh perayaan kemerdekaan dan jiwa kemerdekaan, pelaku bisnis -yang notabene kapitalis- tak lupa menyertakan simbol-simbol produk mereka sebagai sarana marketing mereka. Semua juga tidak terlepas dari propaganda kapitalis barat yang mencoba menginflitrasi ke dalam sendi perekonomian. Justifikasi globalisasi, perluasan investasi demi efisiensi, serta pertumbuhan ekonomi adalah alasan mujarab yang dilontarkan oleh ekonom neo-liberalism. Demi alasan tersebut pula lah, pelaku bisnis mulai mengepakkan sayap mereka dengan merayu para pejabat dan koruptor ulung untuk menelurkan kredit ringan yang akhirnya membuahkan bencana bagi anggaran negara. Kasus BLBI yang tidak tuntas-tuntas sampai sekarang semakin blur dan tidak bisa lagi dilihat dengan kaca mata telanjang.

Refleksi tadi merupakan bentuk ajaib wajah negara yang mendapatkan kemerdekaan sejak tahun 1945. Sebenarnya patut dipertanyakan apakah memang para pahlawan kita berjuang mati-matian untuk kemerdekaan ataukah kita menghiba-hiba untuk mendapatkan kemerdekaan? Karena, kalo kita menilik sejarah, kita adalah bangsa tertindas yang diuntungkan dengan adanya World War yang membuat Jepang harus bertekuk lutut dengan pasukan sekutu. Kecanggihan negosiasi para the founding fathers juga yang bisa membuat Indonesia merdeka.

Namun, sebuah negosiasi tidak hanya menguntungkan satu pihak saja. Tetap ada conditionality di balik semua negosiasi. Entah negosiasi seperti apa yang dulu dilakukan oleh SOekarno cs waktu mengadakan serangkaian perundingan-perundingan. Entah mengapa pula Kerajaan Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 2004 yang lalu. Itu menjadi sebuah tanda tanya buat saya, dan tentunya buat rakyat Indonesia yang juga concern.

Seorang anak kecil mungkin akan membayangkan sebuah perayaan 17 Agustus sebagai ajang lomba makan kerupuk, joget balon, gigit kelereng, atau karnaval sepeda hias. Anak kecil tersebut tida k salah, karena hanya itu yang dia tahu tentang makna hari kemerdekaan. Bahkan jiwa dan semangat hari kemerdekaan ini tidak saya temukan sampai saya memasuki bangku sekolah menengah umum. Yang ada di otak saya adalah menang lomba di sekolah.

Mungkin refleksi merah putih ini bisa membangunkan saya dari hanya sekedar memenangkan lomba di perayaan 17 Agustusan. Mungkin pula refleksi ini bisa membangunkan saya untuk bisa memberi arti dan kontribusi yang terbaik bagi negara yang bersimbol merah putih ini.

Anak_timor_1

Selamat ulang tahun, Indonesia

Kreativitas Menjelang Pagi

Saturday, August 19th, 2006

                                      GreetingsPic_0097

Terkadang ide dan kreativitas bisa muncul kapan saja. Tak mengenal waktu, tak mengenal tempat, tak mengenal sikon. Karena ini pula lah yang membuat ide dan kreativitas menjadi suatu hal yang mahal, dan kadang menjadi irasional karena tidak bisa ditaksir secara materi.

Buat saya, menjelang pagi adalah masa dimana ide dan kreativitas saya muncul dan berubah menjadi sebuah karya yang cukup membanggakan buat saya.

Menjelang pagi adalah waktu dimana saya berefleksi dan berusaha mengungkap keseharian dan pencarian berharga saya dalam hidup. Terkadang, moment bertemu dengan beggar di jalanan city centre Bullring di siang hari bisa membuat saya terjaga sampai menjelang pagi, hanya sekedar merenungi "what, why, when, where, and how" tentang si beggar tadi. Makanya, ngga melulu ide dan kreativitas superb yang harus saya elaborasikan. Pelajaran penting dari arti pencarian diri dalam hidup adalah satu hal yang sangat berati dalam mengungkapkan ide dan kreativitas saya tersebut.

Namun, saya ngga mau terkekang oleh munculnya ide dan kreativitas. Justru saya ingin mengendalikan mereka. Itulah sebabnya, saya menciptakan waktu khusus menjelang pagi untuk berekspresi bebas dan menuangkan kreativitas tersebut.

So, selamat menikmati ide dan kreativitas saya yang biasanya saya telurkan menjelang pagi.

Today’s Horoscope

Friday, June 16th, 2006

103_0719 "For inspiration, look at the bright green leaves fluttering on the trees and filtering the sunlight. Stay flexible and flow with whatever forces are in power. Hold firmly to what grounds you and connects you to nourishment. Bask in the sunlight and spend as much time outdoors as you can, even if the weather doesn’t cooperate. Getting back in touch with earth, sky and water will help give you a calm escape from the conflicts in your life."

Kalimat di atas adalah ramalan bintang gue untuk besok (17 June 2006). Bagaimana dia tau ya kalo gue sedang berusaha untuk escape from the conflicts in  my life? Kadang2 gue suka mengagumi sendiri keajaiban para horoskopers yang kadang suka bener. Walo banyak orang yang bilang, itu kan cuman kebetulan aja.. tapi, gue tetep salut aja ama keajaiban itu. Gue menghargai kecermatan mereka dalam mencerna gejala-gejala supranatural yang kemudian diramu dalam kalimat-kalimat penuh makna. Ngga semua orang memiliki kemampuan seperti itu.

Dan, sepertinya sudah waktunya gue keluar dari gerbang kebodohan gue. Gue harus wake up dan 103_0717 move on. Ngga selamanya kegagalan menghantui hidup gue. Begitu banyak achievements yang telah gue raih, dan kegagalan dalam satu hal bukan berarti kegagalan untuk seluruh hidup gue. Gue harus tetap survive, untuk diri gue, untuk anak-anak gue.

Mudah-mudahan besok cuaca di Birmingham bisa bersahabat, so gue bisa keluar dari gua gue, dan kembali optimis dalam menghadapi semua tantangan dan rintangan.

Here comes the sun again for me…

One Day in Your Life

Saturday, April 22nd, 2006

Pernah ngga one day in your life kepikiran untuk menjadi sesuatu atau seseorang yang sangat  berbeda dengan diri kita yang sebenernya?

To be honest, gue pernah kepikiran tentang hal ini. Waktu itu gue merasakan boring yang luar biasa dengan kehidupan gue, dan I made a wish ‘one day I want to be somebody new in a new place and different kind of people around me’. World34Rupanya, waktu gue make a wish itu, ada bintang jatuh yang menyebabkan my wish is coming true now.

Gue saat ini memang menjadi seseorang yang ‘baru’ di tempat yang ‘baru’ dan bertemu dengan orang-orang yang ‘baru’ pula. Gue juga melakukan hal-hal yang ‘baru’ yang ngga pernah gue lakukan di tempat ‘lama ‘ gue. Gue juga memiliki pemikiran yang ‘baru’ ditengah absurdnya mindset gue yg sudah terpola menjadi birokrat. Dan gue juga mendapatkan kekecewaan ‘baru’ yang ngga pernah terdeteksi sebelumnya.

Memang, mensyukuri dan memahami hakikat diri adalah sesuatu yang sangat sulit. Kadang kita bisa aja memberi nasihat kepada sahabat, kepada pacar, kepada adik, kakak.. tapi memaknai diri kita sendiri itu sebenernya sangat sulit. Seperti dalam kasus gue ini. Gue kepingin menjadi ‘orang lain’ bagi diri gue sendiri. Untuk sebagian orang, mungkin hal seperti ini aneh atau bahkan ngga pernah terlintas dalam pikiran. Seberapa keras gue mencoba untuk mensyukuri hakikat diri gue, ujung-ujungnya gue selalu menemukan kekecewaan yang bermuara pada keinginan untuk menjadi somebody else tersebut.

Gue ngga tau apakah dari teori psikologi ada nama untuk penyakit yang sedang gue derita ini (Ozy, please help me). Apakah gue mengalami krisis identitas? Ataukah memang sebenernya gue ngga punya identitas? Gue hanya menjalani hidup dan kehidupan gue seperti layaknya air mengalir. Dari kecil, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, Kawin.. kehidupan yang ‘biasa’. Walau disela2 proses kehidupan itu banyak sekali riak-riak kecil yang kadang menggoyahkan ‘kayak’ gue ditengah arus air yang cukup tenang. Apakah memang hidup seperti ini yang gue cari?

Entah lah, namanya juga lamunan ‘one day in your life’. Sah-sah aja kalo kita kepingin melakukan sesuatu yang sesuai dengan lamunan kita. Gue menganggapnya sebagai bahan introspeksi diri dan ajang ‘tepo seliro’ dengan diri gue dan lingkungan gue. Walau terkadang, gue jadi bingung kemana harus melangkah saat gue melewati ’spaghetti junction’ seperti yang ada di motorway Birmingham ini. Mudah-mudahan gue bisa melangkahkan kaki ke junction yang tepat, yang membawa gue ke pemberhentian terakhir tujuan gue.

One day in your life.. There will be no ‘you’ in ‘you’.

Keep the spirit, guys….

Tips untuk mengusir kesepian di negeri orang

Saturday, April 15th, 2006

Aditya Semua orang yang berada jauh dari keluarga, teman-teman, pacar, suami, Ari isteri, tentunya pernah merasakan situasi dimana ia merasa sepi dan empty -walaupun banyak orang disekelilingnya. Ngga terkecuali saya, yang sedang menata hidup dan kehidupan saya di negeri Prince William ini. Suasana sepi, empty, lonely, kerap menghinggapi saat sendiri saya. Ngga jarang buliran air mata menetes kala mengingat anak-anak dan keluarga saya yang terpaksa harus saya tinggalkan, betapa berharganya arti pertemanan dengan Ari, Andini, Syadam, Eko, dan Adit selama kami menjalani rutinitas di departemen keuangan, dan betapa berharganya arti seorang tukang bakso, tukang somay, tukang pempek, dan tukang ayam bakar langganan saya. Andini

Eko Saat saya merasakan kegundahan seperti itu, kerap pula saya menjerit dan melarikan angan saya sekencang-kencangnya ke dunia maya yang bernama indonesia. Namun, semuanya ngga bisa membuat saya menghilangkan rasa sepi dan empty tersebut.

Untuk mengurangi kegundahan saya, ngga ada gunanya cuman nangis dan teriak-teriak. Ngga produktif dan cuman nyakitin diri sendiri. So, saya mencoba menganulir kebodohan itu dengan melakukan hal-hal berikut : Sadam_1

  • rajin meng-update blog. Ini bisa dijadikan sarana untuk menumpahkan segala macam keluh kesah yang saya rasakan. Blog merupakan sebuah diary untuk saya, dimana saya bisa mengekspresikan seluruh keinginan saya. Dengan rajin meng-update blog, saya sedikit terhibur, paling engga, saya punya kegiatan produktif, yaitu dengan menulis. Ya, siapa tahu dari blog ini bisa dijadikan ‘memoirs’ di kemudian hari ..
  • rajin mengeksplore. Kebetulan saya hobi banget travelling sendiri yang menguji ketahanan saya dalam mengeksplorasi segala sesuatu. Dari dulu sampe sekarang, saya suka banget travelling by myself. Selain bisa mengoptimalkan kemampuan saya dalam survival, saya juga bisa semakin confidence dalam menghadapi masalah. Walau ngga jarang sich kesendirian dalam ber-travelling malah membikin semakin mellow aja, tapi ngga jarang pula justru itu menjadi obat untuk mengatasi kesepian. Travelling disini ngga melulu harus keluar kota gitu, bisa juga di sekeliling kita. Seperti tadi pagi, saya mengeksplore kampus saya -Birmingham University- ditengah keheningan. Saya baru sadar betapa ‘jam gadang’ yang berdiri dengan megah di kampus saya ternyata menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Ditambah dengan mulai bermekaran daffodils yang semakin menambah semarak suasana kampus saya pagi itu. Saya terus mengeksplore sampai pada satu titik saya mendapatkan angle keindahan kampus saya. Melihat semuanya itu, sejenak saya merasa bangga dan bahagia bahwa saya saat ini menjadi bagian dari sebuah bangunan megah dan indah ini… dan kelak kenangan ini akan saya bawa sepulangnya saya dari sini..
  • nonton telly. Ini terbukti cukup ampuh untuk mengusir sepi saya. Kalo saya lagi sedih dan sendiri, saya kerap nonngkrong di depan telly, gonta ganti channel dan langsung pencet paramount comedy1 (nomer 130 buat pelanggan telewest). Banyak banget komedi yang lucu-lucu yang bikin saya ketawa dan rileks. Sitkom ‘Stacked’ yang dibintangi Pamela Anderson itu super duper kocaknya. Dengan penampilan ‘huge boops’ nya itu, Pam udah berhasil memancing saya untuk ketawa dan ngga mellow. Trus, kalo dah bosen dengan komedi, saya pindah ke channel yang lebih serius, biasanya di Hallmark (nomer 190) disajikan film-film yang lumayan asik-asik. ‘Bravo’ juga kadang-kadang menyuguhkan film yang seru pula, walo kalo dah tengah malam berubah menjadi adult channel gitu… hehehe. Intinya, nonton telly bisa membuat urat syaraf yang tegang bisa kendur lagi… (maaf, tips ini berlaku buat yang punya telly.. hehehehe)
  • Exercise. Ini cukup ampuh untuk mengurangi stress dan tentunya membuat badan jadi fit. Kebetulan saya suka berenang, dan biasanya saya berenang di Aston Uni. Kolam renangnya lumayan bagus, bersih, dan tentunya hangat… Ini membuat saya semakin betah untuk melakukan exercise. Thanks banget buat Donke yang udah mengenalkan saya dengan kolam renang di Aston Uni ini.. Dhonke kangen sama kamu….
  • Mengingat tuhan. Tentunya ini menjadi aji pamungkas saya dikala sepi dan merana. Ngga ada tempat kembali selain kembali ke hadapan Tuhan.. Dengan kembali mengingat Dia dikala saya sedih dan gulana, seketika hati saya tenteram dan damai. Kembali berada dalam pangkuan Nya membuat saya merasa saya adalah orang yang paling beruntung di muka bumi ini. Diberikan anugerah sedikit kepintaran sehingga bisa mendapatkan scholarship, diberikan anugerah wajah yang cukup enak dipandang mata sehingga membuat saya confidence enough untuk bersocialise, diberikan anugerah anak-anak yang begitu lucu dan pinter, diberikan keluarga yang penuh supportive, diberikan anugerah bos-bos yang begitu baik dan pengertian, juga diberikan teman-teman yang selalu sayang dan care sama saya. Semuanya itu bangkit setelah saya kembali mengingat Nya. Mengingat semua nikmat yang telah saya peroleh dan ngga boleh saya sia-sia kan.

Dsc00504 Mungkin itu sedikit tips saya untuk mengurangi rasa sepi, empty, dan gundah saya selama berada di UK. Dan yang terpenting, enjoy your life.. don’t make it complicated, coz the nature of life is already complicated.

Lagipula, September 2006 tinggal 5 bulan lagi…

End of second term

Wednesday, March 22nd, 2006

Dududu…. ngga kerasa udah end of my second term in Birmingham University. Capek banget sich soalnya seharian tadi gue ada kelas. Pagi kelas Public Finance dan sore kelas Decentralised Finance. Yang paling bikin bete adalah.. keduanya dengan dosen yang sama.. dan itu dosen adalah supervisor gue… dan yang pualing bikin gue bete setengah mati, dia perhatian banget ama dia, sampe2 kalo gue agak pendiam dikelas or ngantuk dikelas, or even gue kaga masuk kelas, eh dia langsung ngimel gue en bertanya alasan gue kenapa sampe ngga masuk kelas. Gubrak ngga!!! Kalo kata classmates gue sich, ini dosen cinta mati ama gua… hua ha ha..

Tapi tadi beneran, kelas terakhir di second term. Sedih juga bakalan pisah ama classmates gue.. hik hik… Marina.. Mariella.. Tim.. Besnik… Islam… Young.. Huuu… kalian sudah menemani hari-hari suntuk gua di IDD.. bersama2 belajar, becanda.. dan bertukar pikiran. Ya, sebenernya ngga pisah begitu aja seh, pasti masih ketemu lagi… pas jalan2 ke Estonia (cihuy….) dan pas masa2 revision nanti (hueekk.. streess gue)

Masa2 itu ternyata cepet banget berlalu. Perasaan baru kemaren gue datang ke Priorsfield. Ketemu ama Mbak Debra (resepsionis di IDD) dan gue ngambil course pack beserta modulnya. Hmm.. kebayang dech waktu pertama kali menjejakkan kaki di perpus dan mulai meminjam buku di perpus (padahal waktu itu masih musim welcome week..) Makanya sampe temen gue si Inne bingung gitu ngeliat gue udah heboh minjem  buku di perpus, padahal kelas aja belum mulai… hehe… Tapi ya begitulah… Kalo Madonna bisa bilang ‘time goes by so slowly’ tapi gue malah berkata sebaliknya ‘time goes by so fastly’… beneran, guys… cepet banget berlalu… dan bentar lagi spring…

Mengingat kata ’spring’, gue jadi tersenyum ngeliat bunga yang sudah bermekaran di sepanjang jalan kampus gue.. bunga2 yang warnanya bagus banget.. apalagi kalo dah ada yang berwarna ungu -warna favorit gue… duh duh… bener2 indah banget pas bunga2 dah mulai bermunculan gitu. Tapi, tetep aja udara masih dingin gitu. Hari ini sich masih aja 5 degrees bo, dan malam ini sekitar 2 degrees… Walo gitu, di prakiraan cuaca, sunday besok bakalan dikasih terang dan sunshine n temperatur bisa naik menjadi 14 degrees.. hore…. bisa ber-skirt ria dech… hehe….

Hm.. biarpun begitu.. gue tetep harus semangat untuk ngerjain assignment.. walo masih lama dikumpulinnya (24 April) tapi gue ngga boleh berleha2… duh duh… ribet juga nich, soalnya gue ngga bisa menghindari temptation untuk nulis blog sich.. Again_minus_besnik_2

So… hasta luego, mi amigos.. see you again….

Tips untuk penulisan assignment

Sunday, March 19th, 2006

QuestionSekedar sharing..

Tips ini sebenernya simpel aja sich, tapi mudah-mudahan bisa berguna buat temen-temen yang lagi ‘kemrungsung’ dengan segala tetek bengek assignments. Emang, musim2 deadlines assignment ini sangat menyiksa dan cukup membuat kita sebagai student stress out beneran bo…

Karena ada beberapa temen yang bertanya bagaimana tips gue dalam menggarap assignment, apa salahnya lah gue tuliskan dalam blog ini. Mudah-mudahan bisa berguna, buat diri gue sendiri (untuk mengingatkan) dan untuk temen2 yang meluangkan waktu untuk membaca blog gue.

Sebelum gue memulai mencari resources untuk bahan assignment, hal pertama yang gue lakukan adalah gue bener2 pelajari dan memahami pertanyaan assignment yang dikasih sama dosen. Kadang pertanyaan nya suka tricky gitu kalo kita ngga bener2 memahaminya. Tehnik yang gue pake adalah mengenali jenis pertanyaannya, apakah kita diminta untuk discuss, describe, clarify, dan lain sebagainya. Soalnya bentuk pertanyaan seperti itu memang memerlukan treatment yang berbeda. Kebetulan gue udah punya primbon khusus untuk jenis pertanyaan tersebut.

Nah, kalo udah mengenali bentuk pertanyaannya, baru dech gue cari keywords nya.. sebenernya yang dimau-in ama pertanyaan ini apa dan sejauh mana. Ini penting banget biar gue ngga terlalu ngelantur dalam mencari bahan referensi dan dalam menuliskannya nanti. Soalnya tau sendiri, constraint words limit sangat mengganggu aktivitas menulis gue, yang kadang2 suka membuat tulisan berbunga-bunga indahnya… hue he he… Nah, pencarian keywords ini menjadi penting banget karena kalo kita menemukan keywords yang tepat, it means that we’re on the right track..

Abis itu, barulah guue memulai pencarian referensi. Utamanya dari buku yang compulsory dan recommended dari dosen gue, abis itu baru cari sumber lain dari internet, baik dalam bentuk jurnal ataupun artikel. Ini penting untuk memperkaya analisa gue nanti, soalnya apa yang diutarain dibuku kadang suka out of date, sedangkan apa yang ditulis diartikel biasanya lebih more recent time. Nah, dalam proses referencing ini, gue mempraktikan apa yang gue sebut dengan ‘membaca cerdas’, jadinya membaca nya bener2 harus difokuskan pada apa yang akan gue address nanti dalam tulisan gue.. sehingga akan memudahkan gue dalam membentuk kerangka berpikir dan menyusun outline nanti.  Gue selalu mengambil at least tiga referensi untuk argument ‘for and against’, biasanya gue membuatnya dalam sebuah matriks dengan mengungkapkan keunggulan dan kelemahan masing2 argumentasi tersebut. Biasanya sich, dari matriks itu, 50% kerangka berpikir gue sudah bisa terbentuk.

Setelah itu, gue bikin outline. Biasa lah.. Introduction, literatur review dan problem, analisa, dan conclusion. Dalam outline itu gue bikin bullets yang menjadi guide gue dalam menulis nantinya. Ini penting karena bullets tadi akan mengingatkan gue hal-hal apa aja yang mau gue tulis.

Outline udah kelar, tinggal proses penulisan. Kalo udah begini, gue biasanya butuh waktu 2-3 jam untuk essay 3000 words. Dengan catatan, outline sudah mantap, semua referensi sudah dimeja dan perut sudah dalam kondisi prima.. hehe…

Terakhir, editing.. ini yang biasanya lama.. karena dari draft penulisan awal, biasanya gue selalu lebih dari limit 3000 words, kadang suka dua kali lipatnya.. hehe… Editing inilah yang biasanya memakan waktu bisa seminggu, karena gue harus bener-bener careful untuk menentukan tulisan mana yang harus masuk ke body text dan mana yang bisa dimasukkin di note saja.

Yang paling bikin lama adalah.. proses bikin apendix, karena biasanya gue akan menyuguhkan dalam bentuk tabel2 ataupun grafik yang cantik…. ya, biar tulisan gue bisa cantik kayak gue juga … wakakakaka…. Trus, jangan lupa, bibliografi penting banget untuk menilai seberapa banyak buku dan referensi yang sudah kita baca. Biasanya sich, untuk tulisan 3000 words, minimal 15 resources yang gue baca (walo semua ngga dimasukkin ke literatur review), tapi tulisan2 itu juga memperkuat analisa gue.. dan kebanyakan sich gue ambil dari internet… google or scholar google.. emang tob dech tuh mesin pencarian google itu…

Ok… sekian dulu tips untuk penulisan assignment. Semoga bermanfaat… selamat menulis..