Archive for the ‘Current Affairs’ Category

Ternyata susah ya menetapkan tarif transportasi..

Wednesday, February 15th, 2006

Hari ini saya belajar tentang bagaimana menetapkan pricing charges for services provided by government -particularly local government.

Kasus yang tadi dilempar oleh Prof Nick Devas adalah bagaimana menetapkan tarif public transport untuk low-middle income country. Dilemanya adalah perusahaan daerah yang menyediakan public transport itu mengalami defisit yang cukup berkepanjangan dimana banyak sekali mengeluarkan expenditure untuk operating cost tetapi mengalokasikan sedikit untuk replacement cost. Tarif yang berlaku sangat rendah dan menggunakan flat rate untuk setiap jarak tempuh dan bila dibandingkan dengan tarif yang dicharge perusahaan swasta kesenjangannya bisa dua kali lipat. Public_transport2

Sempat tergelontar wacana bahwa kenapa ngga diprivatisasi saja perusa haan daerah tersebut supaya bisa memaksimalkan benefit dan ngga merongrong budget pemerintah daerah? Namun, ada konsiderans yang perlu ditekankan disini. Siapakah yang biasanya mendapatkan benefit terhadap public transport itu? Umumnya, bagi negara berkembang, those beneficiaries to public transport are mostly the poor. The rich -karena memiliki kapasitas untuk membeli mobil- akan mikir2 untuk naik publik transport. Inilah yang menjadi dilema. Jika tarif dinaikkan, maka akan berdampak pada kemampuan bagi kamu the poor yang menggunakan jasa publik transport tersebut.

Lalu apa konklusinya?

Sebenernya ngga ada model yang clear-cut untuk bisa meng-address permasahalan tersebut. Tapi saya berpendapat bahwa perusahaan daerah tersebut harus memberlakukan klasifikasi atas pembedaan tarif. Kenapa perlu? Pemberlakuan tarif yang berbeda ini dapat dilakukan dengan pertimbangan:

1. equity .. ini tentunya sejalan dengan prinsip bahwa yang menikmati pelayanan yang lebih harus membayar lebih

2. capacity constraint yang diakibatkan oleh marginal cost .. dalam artian apabila kapasitas bus selalu dalam keadaan penuh dan penumpang dicharge dengan tarif yang sama, tentunya akan merugikan orang lain yang juga ingin naik bus tersebut tapi kapasitas bus ngga bisa menampung semua penumpang

3. kompetisi dengan perusahaan swasta. Kalo perusahaan swasta bisa men-charge lebih atas pelayanan yang diberikan, mengapa perusahaan daerah tidak bisa menaikkan tarif (tentunya dengan tarif yang berbeda)

Namun, sistem ini tentunya akan ada kelemahan. Misalnya, akan ada tambahan cost untuk sistem pentarifan tersebut, yang berimplikasi -misalnya dengan penambahan staf untuk checking mechanim. It means, biaya yang akan dicharge untuk penerapan sistem ini tentunya akan bertambah lagi, dan itu harus dimasukkan ke dalam salah satu perhitungan dalam marginal cost pricing tadi. Mungkin cost ini akan dirasa berat untuk tahun-tahun pertama, tapi untuk tahun berikutnya (karena sudah ada sistem) bisa lebih direduce dan dengan asumsi yang sama dengan kondisi saat ini, tentunya akan meningkatkan revenue.

Tapi permasahalannya ngga berhenti sampai disitu. Jika kita konsern about the poor, apakah rekomendasi tadi tidak counter argument dengan upaya memberikan akses transportasi untuk the poor?

Well, argumen yang tadi saya berikan adalah bisa aja diberikan subsidi bagi komunal tertentu yang memang bisa dikategorikan sebagai wilayah yang poor. Dengan demikian untuk penduduk di area itu akan mendapatkan subsidi dan membayar lebih murah untuk akses terhadap transportasi tersebut. #

Tapi ternyata itu saja tidak cukup, karena ada lagi problem, apakah bisa di-ensure bahwa benefit itu memang bisa sampai kepada poor?

Weleh.. weleh… saya jadi binun… waktu presentasi di depan, saya jadi bengong karena ternyata ngga semudah yang saya pikirkan dalam mengurus pelayanan publik ini. Biasanya saya cuman bisa memaki pemerintah daerah kalo menaikkan tarif seenak udelnya. Tapi begitu saya dihadapkan pada posisi mereka, saya juga geleng-geleng kepala.

Akhirnya saya kembali kepada mindset pemerintahan bahwa dalam setiap policy yang ditetapkan, pasti akan ada trade-off antara satu kepentingan dan kepentingan yang lainnya. Sejauh mana pePublic_transportmerintah sensitif terhadap kepentingan yang lebih luas (dalam hal ini public benefit) tentunya akan membuat pemerintahan itu menjadi populer dimata publik.

Ternyata.. susah juga menetapkan tarif untuk service provision..

Gloomy sunday

Sunday, February 12th, 2006

Minggu pagi rasanya males banget untuk beraktivitas. Kepengennya nongkrong di depan tivi atau melototin screen laptop. Padahal .. duh duh .. ngga kreatif banget sich jadi anak muda! Jalan keq, cari inspirasi keq.. Ya, paling ngga baca buku keq..

Tapi mau jalan.. duh, Inggris ini dingin banget bo. Mau keluar pake jaket tebel tapi segen, mau keluar pake jaket gaul yang tipis semriwing tapi dingin banget. Serba salah kan. Mau keluar bawa mobil tapi bayar parkirnya mahal abis, tapi mau keluar naik bus musti jalan kaki ke bus stop. Emangnya kayak di Indo yang bisa naik bis darimana ajah.. hehe.. Duh kalo udah inget gitu, gue jadi kangen banget ama Indo. Enak banget bisa sesuka hati naik bus dari tempat mana aja dan bisa berhenti dimana aja. Belum lagi ada bajaj dan tukang ojek yang sangat berjasa sekali kalo pas gue dah telat atau dah nenteng barang belanjaan segambreng gitu.

Gimana khabarnya si abang bajaj dan tukang ojek ya?

Apa mereka masih setia menunggu klien di setiap pengkolan jalan ibukota? Ngga peduli ujan, panas, siang, malam .. mereka selalu setia menanti klien mereka. Kadang gue kagum dengan mereka. Begitu survive dengan kehidupan seperti itu. What for? Ya untuk makan lah dan tentunya sebagai bentuk responsibility mereka kepada keluarga mereka. Isteri tercinta, dua anak atau lebih (maybe). Sukur-sukur bisa menabung untuk cicilan rumah setelah dipotong dengan cicilan motor yang sekarang dipake untuk ngojek. Apa mereka punya cita-cita ya?

Tentu, mereka punya cita-cita.. gue pernah ngobrol sama salah satu tukang ojek yang biasa mangkal di perempatan Slipi Jaya. Dulu waktu mobil gue lagi sering di bengkel, gue sering numpang ojek sama abang jali. Orangnya ramah banget dan suka ngasih gue diskon (hehehe). Abang Jali punya 2 anak yang masih SD, satu kelas 6 SD dan yang satunya lagi masih kelas 3 SD. Abang Jali ini keluaran STM Penerbangan dan isterinya keluaran SMA swasta di salah satu kecamatan di Jakarta Barat. Waktu masuk STM itu, Abang Jali bercita-cita ingin menjadi montir yang handal. Dia ngambil STM dengan harapan begitu keluar sekolah langsung bisa kerja dan melanjutkan cita-citanya itu. Tapi apa daya, kalah saingan dan ngga punya chanel yang bisa membawa dia ke bengkel idamannya membuat Abang Jali terpaksa menjadi montir bagi motor bebeknya sendiri. Sedih memang, tapi ya apa daya.. begitulah kenyataan pahit yang harus dialami orang kecil seperti abang jali itu.

Tapi abang jali ngga menyerah sampai disitu. Dia masih punya cita-cita. Terhadap anaknya tentunya. Dia dan isterinya bekerja mati-matian supaya anak-anak mereka bisa meneruskan cita-cita mereka. Isteri Abang jali kerja serabutan, mulai dari tukang cuci pakaian, bantu-bantu rumah tetangga, dan paginya berdagang nasi uduk di depan rumah. Sungguh tipikal keluarga yang pekerja keras. Kalo dari obrolan saya dan bang Jali sih, tujuan hidup keluarga mereka simple banget, Bang Jali dan isterinya kepengen anak-anak mereka masuk perguruan tinggi dan jadi pegawai negeri. Mungkin bagi sebagian kita merasa, ‘duh apalah artinya cuman perguruan tinggi doang’ apalagi dengan kata ‘pegawai negeri’, banyak banget anak orang-orang kaya yang anti dengan kata-kata itu. Buat apa jadi pengawai negeri? Ngga mutu

Tapi sisi lain kehidupan (seperti kehidupannya bang jali dan keluarga) menunjuukan bahwa sebuah nilai akan sangat berarti tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Dalam kaca mata bang jali dan keluarga, masuk ke perguruan tinggi merupakan sebuah gerbang untuk ke arah masa depan yang lebih cemerlang. Apalagi bisa masuk ke pegawai negeri, mungkin bagi sebagian orang seperti abang jali akan melihat sebagai sebuah prestise tertinggi yang mungkin bisa diraih untuk ukuran orang-orang seperti mereka.

Ngga cuman Abang Jali aja yang punya pikiran seperti itu. Masih banyak (mungkin) abang jali-abang jali yang lainnya yang mempunyai ‘narrow’ objective seperti itu. Tapi sense of value nya sangat tinggi sekali. Itulah the ultimate achievement yang mereka harapkan.

Kembali mengingat fenomena yang ada di negeri sendiri tentunya sangat menarik untuk dijadikan sebuah refleksi diri, untuk sekedar mengingatkan, untuk sekedar memberitahu, dan mencoba meng-overcome. Walaupun kita ngga bisa sedramatis itu untuk melakukan perubahan, teteapi perubahan cara berpikir dan pola pandang kita akan membuat kita semakin mature dan tentunya suatu saat kalo kita sudah bisa menduduki posisi puncak di pemerintahan (amin), kita bisa mengaktualisasikan apa yang pernah terpendam dalam alam bawah sadar kita dan pas lagi ngelamun gini di hari minggu yang gloomy..

Well.. gloomy sunday ngga sepenuhnya gloomy.. masih ada secercah harapan akan sinar mentari menyinari Birmingham, walau hanya secuil sinar.