Archive for the ‘intermezo’ Category

Minutes of Moments in Schools

Wednesday, March 15th, 2006

The Lost Best Friend .. Ika Damayanti

Ika ini temen dan sahabat gue waktu di SMP 127, Kebon Jeruk. Dari kelas satu sampe kelas dua, gue duduk sebangku sama dia. Orangnya periang, dan seneng banget menolong orang. Gue inget banget gimana dia selalu menghibur gue kalo gue lagi digodain ama temen cowok sekelas gue yang gue benci banget waktu itu -Santos. Gak jarang gue nangis gara-gara digodain ama si Santos jelek itu (sekarang kemana ya tu anak?).

Nah, si Ika ini adalah penghibur yang baik banget. Tapi sayangnya, kami sudah lama ngga pernah berkomunikasi dan bertemu untuk waktu yang cukup lama. Terakhir ketemu dia waktu dia married karena gue sempet datang ke pernikahan dia. Trus sejak itu ngga pernah ketemu lagi sama Ika. Gue dah coba kerumahnya, tapi ternyata si Ika udah pindah, en sialnya tetangga nya ngga tau kemana Ika pindah..

Well, Ika… kalo loe baca ini, please contact gue yach… loe tau dimana harus menemukan gue, karena rumah gue masih seperti yang dulu.. hehehe….

The First Love .. Nifira

Ini semacam confession buat gue, bahwa ngga semua first love akan terasa indah…

Kenapa Nifira menjadi the first love gue? Well, selama tiga taun di SMA, gue sumpe mati suka banget sama dia, walo ngga kesampean karena Nifi keliatannya ngga gitu ’suka’ seperti itu.. dia lebih suka berteman dengan gue…. hehe…. Nah, selama tiga tahun gue tetep menaruh harapan akan first love gue itu, sampe akhirnya gue punya pacar di SMA itu, tapi tetep aja hati gue cuman buat Nifi (saat itu bo….)

Nifi yang gue kenal dulu sangat pinter dan cool banget.. Wajahnya imut-imut gitu ditambah pembawaannya yang super kalem. Saking kalemnya, kayaknya dia dulu takut banget ama gue karena gue keliatan ngejar-ngejar dia… hahahha…

Memang, first love itu indah. Walau gue ngga bisa mendapatkan first love itu, tapi dengan mengingatnya kembali, gue sudah bisa merasakan keindahan itu. Thanks untuk Nifi yang udah mengisi keindahan gue terhadap first love itu… (Tapi gue ngga percaya kalo ‘first love never dies’, karena sekarang rasa itu sudah tidak ada sama sekali… hehehehe)

My Family…

Wednesday, March 15th, 2006

Mom and Dad

Ngga cukup kata-kata saja yang bisa saya ungkapkan selain rasa terima kasih yang sangat mendalam dan hormat saya kepada mama n papa. Kalian benar-benar hebat dalam mendidik dan menjaga saya. Menjaga saat kecil saya, teenager, dan mengantarkan saya ke gerbang kemandirian.

Saya ingat mama suka marah kalo saya pulang malam waktu saya SMA dulu. Mama sangat protective banget terhadap saya. Katanya kalo menjaga anak perempuan satu sama dengan menjaga anak laki-laki sepuluh. Nah lho…. Mungkin saat sekolah (sampe SMA) adalah tahap yang sangat fragile bagi seorang remaja. Walau saat itu saya sempat berontak abis, tapi ternyata tindakan mama ada benarnya yach. Jiwa saya sudah terbentuk dengan baik, bahkan saat saya diberikan kebebasan waktu kuliah. Sungguh, saya sangat menikmati suasana kebebasan saat kuliah, karena saya diijinkan untuk keluar dari rumah, alias nge-kos. Memang kebetulan saat itu tempat kuliah saya -STAN/Prodip- agak jauh, yaitu di Jurangmangu. That’s why saya diijinkan untuk keluar rumah. Namun, biarpun saat itu saya diberikan kebebasan, tapi karena saya sudah dibekali oleh akar yang kuat untuk bisa mengerti mana yang baik dan mana yang kurang baik, saya bisa tegar menghadapi segala macam godaan. Yah.. walau saya (terus terang aja-maaf ya Ma..) juga ikut-ikutan menikmati hal-hal yang sangat dilarang sama mama waktu itu (i.e. ngerokok, nge-bir, nge-gele .. oopss…), tapi ya itu cuman saya lakukan untuk coba-coba aja, dan .. saya ngga suka tuh dengan hal-hal itu. Terus terang, saya bener-bener ngga tau kenapa orang suka dengan hal-hal seperti itu. Dan Ma, saya coba cuman sekali aja, abis itu saya ngga ngelakuin lagi karena saya emang ngga tau dimana enaknya .. hehe..

Mama dan papa bener. Semua itu demi saya, hanya untuk kebaikan saya. Ngga untuk yang lainnya. Nah, dengan semua hal yang mama n papa berikan itu, saya bisa bertahan sampai sekarang.

Makasih sudah mendidik saya menjadi jiwa yang mandiri. Makasih untuk mendidik saya menjalani hidup dengan berbagai pilihan yang sulit, sehingga saya bisa mengerti dan mencerna dengan nalar saya -mana yang baik dan mana yang buruk. Makasih juga sudah menjaga saya di masa-masa fragile saya dan memberikan kebebasan kepada saya disaat saya memang sudah cukup mapan untuk mereguk kebebasan tersebut.

Tuh kan Ma.. Pa.. banyak banget kata terima kasih yang saya berikan kepada kalian.. Ngga cukup dech satu blog ini untuk ngungkapin rasa terima kasih saya kepada kalian. Dan khusus untuk papa, makasih ya papa dulu pernah berkata kepada saya :’papa engga bisa mewarisi harta yang banyak kepada kaka (sebutan untuk saya), tapi papa hanya bisa mewariskan ilmu, harapan, dan doa kepada kaka’. Dan itu semua menjadikan saya memiliki cita-cita dan berkeinginan keras untuk mendapatkan cita-cita saya.

Tanpa kalian, saya ngga akan bisa seperti sekarang ini. Maaf jika saya terlalu naif dan egois di hari lalu. Semoga pintu maaf itu selalu terbuka untuk saya, Ma.. Pa..

My husband and My angels

Mereka adalah inspirasi terbesar saya.Image137_1

Mereka adalah cita-cita terbesar saya.

Hidup dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna, merupakan impian terbesar saya .. bersama mereka. Kepada mereka pula lah saya mendedikasikan semua cita-cita saya. Mereka adalah muara perjalanan saya.

Saya sangat kagum dengan kegigihan dan ketegaran mereka. Mengikhlaskan ketiadaan saya selama lima musim. Betapa berat perjuangan si kecil Aji dan si kaka Bila… harus berjuang melawan beratnya dunia ini tanpa kehadiran saya sebagai Bunda mereka. Betapa berat perjuangan mas tedy sebagai single parent ditengah kesibukannya mengabdi pada rakyat Aceh dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Entah berapa banyak butiran air mata yang harus keluar dari mata my angels.. menyaksikan keabsenan Bunda mereka di tengah-tengah rumah mungil kami di Kemanggisan. Entah berapa malam kegelisahan pangeran saya menanti kehadiran puteri nya di tengah-tengah hamparan peraduan kami.

Mereka adalah my inspiration. Karena mereka pula lah saya begitu semangat untuk menuntut ilmu disini, meng-expand network dan kebisaan saya.. Sehingga kelak saya kembali ke pangkuan mereka, dan saya akan berkata bahwa "pengorbanan kalian tidak sia-sia..".Kaka_dedek_di_mobil

Minutes of Moments

Wednesday, March 15th, 2006

Dd_aam Mulai edisi kali ini (mungkin sampe gue bosen…hehe), gue akan menulis dan menceritakan tentang orang-orang terdekat dalam kehidupan gue. Ortu, suami, my angels, sahabat, teman-teman gue -mulai dari jaman-jaman oldskul dulu sampe sekarang gue ada di inggris raya ini.

Mungkin menarik kali yee untuk menghargai orang-orang yang berada dalam sekeliling kita. Yang telah memberikan motivasi, inspirasi, doa, dan keceriaan dalam kehidupan kita. Mungkin kita jarang banget mengucapkan ‘thanks’ sama mereka. Mungkin pula kita kurang menghargai Image137 keberadaan mereka, tapi yang jelas, mereka ternyata sangat berarti dalam kehidupan kita, yang mengisi hari-hari kita, tempat kita curhat dan menumpahkan segala gundah dan gulana. Kepada mereka pula kita berbagi tawa, hari-hari menyenangkan, dan hari yang sangat spesial. Foto29 

Baiklah, saya akan memulai penuturan saya dan penghargaan saya kepada orang-orang terdekat saya dalam edisi selanjutnya …

Dear Aji dan Bila

Tuesday, March 14th, 2006

Dear Aji dan Bila

Hari ini kembali Bunda menangis. Menangisi ketiadaan Bunda disisi kalian. Menangisi kealpaan Bunda untuk mengecek makanan kalian waktu sarapan tadi. Menangisi ketidakhadiran Bunda saat Pak Wawan menjemput kalian ke sekolah..

Terkadang Bunda menyesali diri Bunda. Keegoisan Bunda telah merampas kebahagiaan kalian untuk bisa mendapatkan kasih sayang dari Bunda. Keegoisan Bunda telah membuat kalian harus diantar si ‘Uwok’ saat kalian sekolah, pergi ke TPA, bahkan mengambil Raport hasil evaluasi belajar kalian. Maafkan Bunda atas keegoisan Bunda ini.

Aji, Bila..

Bunda tahu, Bunda yakin, kalian adalah anak-anak yang sangat tegar. Bahkan lebih tegar daripada Bunda. Ketegaran kalian membuat Bunda malu.. malu karena kalian adalah anak-anak yang sangat hebat. Kalian adalah anak-anak yang sangat mandiri. Kalian bisa belajar dan bertindak dengan mandiri, tanpa kehadiran Bunda disisi kalian. Kalian tidak malu saat teman-teman kalian mengejek karena ketiadaaan Bunda disisi kalian. Bahkan, khusus untuk Bila, kamu tidak protes saat Bunda tidak ada pada saat ulang tahun mu yang ke-enam..

Aji, Bila..

Entah penghargaan apa yang bisa Bunda berikan untuk kalian berdua.. Mungkin surat ini saja yang bisa mengungkapkan penghargaan Bunda atas pengorbanan yang telah kalian berikan untuk Bunda, untuk keegoisan Bunda. Someday, kelak kalian dewasa, semoga kalian bisa memaafkan ketiadaan Bunda di sisi kalian selama lima musim ..

Sayang..

Buliran air mata Bunda.. mengiringi doa Bunda untuk kebahagiaan kalian, dan harapan Bunda untuk kebersamaan kita lagi, September nanti.

Selamat tidur, anak-anak ku.. Mimpi indah.. Cium hangat untuk kalian selalu..

-Bunda-

Tunggu Bunda Dua Musim Lagi…

Monday, March 13th, 2006

Image157 Dua musim lagi masa perantauan saya akan berakhir. Kembali tersenyum menyongsong dua angels yang selalu membayangi langkah dan menceriakan hari-hari sunyi.

Dua musim lagi akan kembali akan terajut; asa dan kepastian menuju sebuah gerbang kebersamaan.

Tunggu Bunda dua musim lagi, my angels..

Dugem di Winter

Sunday, February 19th, 2006

Seperti malam minggu sebelumnya, malam itu saya kembali menyusuri pelataran Broad street saat waktu Inggris menunjukkan pukul 12 malam. Seperti biasanya, pasangan muda-mudi hilir mudik sambil tertawa penuh kebahagiaan dan kebanggaan memenuhi pub di areal Broad Street. Si cowok lengkap dengan white top dan dibalut dengan jaket kulit hangat, sementara si cewek tampil dengan pakaian yang sangat minim. Kadang hanya dibalut tank top dengan diselimuti rok tipis sepaha. Ck ck ck.. Amazing sekali perjuangan para wanita ini untuk sekedar dugem di winter ini..

Padahal, seperti biasanya pula, temperatur di Birmingham pada saat-saat itu paling banter 2 degrees celcius. Malah pernah satu ketika temperatur drop sampe minus 5. Dan para bidadari itu hanya mengenakan pakaian yang begitu minim, tanpa merasa kedinginan.

Sebenarnya mereka sangat kedinginan. Saat saya mencoba mendekati para bidadari itu, saya sempat memperhatikan bagaimana tubuh mereka menggigil kedinginan dan tangan yang bergemetaran menahan dingin yang sangat menusuk tulang. Saya -yang selalu mengenakan jaket dengan tebalnya- tidak kuasa menahan rasa dingin yang rasanya ngga ada habis-habisnya itu. Betapa amazing nya mereka bisa menahan itu semua.

Dalam hati saya menangis. Girls.. kenapa kalian sepertinya bersedia melakukan apa saja demi menarik perhatian? Atau, apakah saya yang terlalu narrow minded yang berpikir bahwa kalian melakukan itu hanya untuk menarik perhatian saja? Sungguh, saya sedih melihat kalian hanya menjadi bahan pertontonan bagi kaum yang sepertinya memiliki power untuk menundukkan kalian.

Saya kembali tertegun di tengah bisingnya dentuman musik dan gemericing gelas-gelas yang betebaran di lantai. Dugem di winter ini sangat dingin, para bidadari. Kenapa kalian dapat menghalau semua itu demi kebahagiaan sesaat dan demi memuaskan perhatian kaum yang hanya silau dengan pesona lahiriah yang kamu punya?

Kembali pikiran saya melambung jauh ke negeri akademika. Saya sangat bahagia saat menyaksikan betapa kaum adam meng-appreciate kamu hawa dengan kepintaran yang kita miliki, tidak hanya kepintaran kita memoles tubuh kita. Saya sangat terkesan saat prof. hillary dikampus saya mendapatkan ‘perhatian’ yang simpatik dari kaum adam dengan pesona beliau dalam memberikan pencerahan terhadap upaya pemberantasan poverty di negara-negara berkembang. Prof Hillary yang masih sangat muda dan cantik, lengkap dengan white top yang dibalut jaket Chanel serta rok mininya, menambah anggun penampilannya. Posisi antara para bidadari dan prof hillary pada saat itu adalah sama, yaitu bagaimana berupaya ‘menarik perhatian’. Hanya saja, prof hillay bisa menarik perhatian dengan cerdas. Cerdas dalam artian kecantikan lahiriah dipadupadankan dengan kecantikan batiniah dan kecerdasan intelektual.

Saya ngga mengatakan bahwa para bidadari itu berotak tumpul. Sebagian dari mereka, mungkin, mempunyai pemikiran yang sangat brilian. Dengan usia yang masih belia dan kecantikan lahiriah yang bisa diunggulkan, seharusnya itu dapat menjadikan sebuah instrumen bagi mereka untuk mem-value diri mereka sendiri.

"Learn to value ourself".

Itulah nasihat abang saya - Huda- yang selalu terngiang-ngiang dalam alam bawah sadar saya. Saya harus bisa mem-value diri saya. Bersikap dan bertindak yang cerdas dan menghargai diri saya sendiri. Seberapa besar orang lain akan mem-value diri kita, akan tergantung bagaimana kita mem-value diri kita sendiri.

Jika kita sudah memutuskan bahwa value kita akan lebih bertambah dengan dugem di winter dengan pakaian minim itu, tentunya surrounding kita juga akan memberikan value seperti itu juga -tentunya dengan berbagai persepsi yang beragam. Jika kita sudah memutuskan bahwa kita memvalue diri kita dengan berpakaian minim di forum akademika, value yang diberikan audiens tentunya akan berubah lagi. Sejauh mana kita memposisikan value diri kita, sedikit banyak menentukan persepsi society yang ada disekeliling kita.

Ah, lamunan saya harus berhenti sampai disitu. Waktu sudah menunjukkan pukul 1. Saya harus pulang dan kembali menghargai diri saya. Kembali mencoba mengkombinasikan kecantikan lahiriah, batiniah, dan intelektual seperti yang diusung Prof Hillary.

Apa Kabar Eyang Harto?

Wednesday, February 15th, 2006

Iseng-iseng browsing tentang Indonesia di Google, saya ketemu potret Eyang Harto waktu masih muda. Nih dia potretnya :Pak_harto 

Apa kabar ya Eyang Harto?

Keliatannya masih innocent gitu yach.. atau memang wajahnya innocent gitu?

Kenapa perilakunya ngga innocent ya?

Kenapa dia ngga berdaya menangkis semua ‘bisikan-bisikan’ dan godaan-godaan yang mampir pada saat dia menjabat jadi orang nomer satu di Indonesia?

Dia cuman human.. se-innocent apapun seseorang, tapi kalo godaan dan tuntutan yang begitu menohok, mungkin dia ngga kuat menangkisnya.

Walo saya ngga nge-fans sama eyang Harto, tapi saya tetep respect lah sama beliau, sebagai orang tua.. dan ya, mungkin saya seperti kebanyakan orang Indonesia yang cukup luluh kalo ngeliat orang tua..

Maaf buat yang anti-Soeharto.. hehe