Archive for the ‘Travel’ Category

Oleh-oleh dari Budapest

Thursday, August 24th, 2006

Pic_0104 Cerita ini berawal dari lawatan saya beberapa waktu lalu ke Budapest, ibukota Hungary. Saya menyempatkan diri untuk meng-explore kota terindah di  Central Europe itu selama 2 minggu.

Budapest sangat indah. Dengan Danube river-nya. Dengan Buda var-nya. Dengan danau Balaton-nya. Dengan keramahan orang-orangnya.

Sebelum saya memutuskan diri untuk berlibur di Budapest, terbayang betapa angkuh Pic_0075 dan arogannya orang-orang Eropa Timur dengan stigma eks-negara komunis. Entah mungkin persepsi itu hasil dari propaganda Amerika yang sudah berhasil ditanamkan di benak saya, ataukah memang kenyataan nya seperti itu.

Tapi, alangkah terkejutnya saya melihat kenyataan yang sebenarnya. Budapest dan orang-orangnya sangat ramah. Walau mereka memang jarang tersenyum -itu mungkin sudah default mereka- tetapi perilaku mereka tidak se-angker propaganda Amerika tadi.

Satu hal yang membuat saya kagum. Negara tersebut baru mulai menggeliat dari keterpurukan Uni Sovyet sekitar tahun 1997. Persis dengan tahun dimana krisis ekonomi yang menimpa Indonesia. Tapi, kemajuan yang sudah mereka raih sungguh ajaib. Banyak isu berredar tentang kemajuan Hungary dibanding dengan negara-Pic_0072 negara eropa timur lainnya. Salah satu isu yang cukup santer adalah kehadiran jewish yang cukup dominan di negara itu. Dan kalau saya melihat dengan kepala sendiri, memang benar isu tersebut. George Soros sangat berperan di negara tersebut. Bahkan, di jantung kota Budapest, berdiri dengan megah Synagoge yahudi. Selidik punya selidik, bangsa hungaria memiliki keterikatan yang cukup dalam kepada bangsa yahudi. So, isu tersebut ternyata benar adanya.

Sejenak, saya ingat diskusi saya dengan teman serumah saya tadi malam. Betapa powerfulnya bangsa yahudi ini sehingga mereka seolah-olah menjadi ‘invisible hand’ dibalik kekuasaan yang ada di dunia. Lihat saja kejadian di Lebanon. Ngga ada satupun yang berani mengutuk dan memberi sanksi pada Israel. Kenapa? Karena semua orang sudah jadi bangsa yahudi, apalagi Amerika dan Inggris.

Tapi, sudahlah. Kembali ke Budapest.

Kota ini sebenarnya terdiri dari dua wilayah: Buda dan Pest. Kedua wilayah ini Pic_0029 dipisahkan oleh Danube river, dan ada sekitar 5 jembatan yang menghubungkan antara Buda dan Pest. Buda adalah wilayah yang lebih tenang dan lebih cantik. Di Buda ini lah terdapat tempat-tempat atraktif yang sangat membelakakkan mata. Buda Var, St Martin Church, Centinel.  Beberapa lokasi Bath and Spa juga banyak di sini. Ngga hearan banyak hotel-hotel disini. Sementara itu, Pest adalah pusat bisnis. Banyak kantor-kantor, pertokoan, dan klub malam di sepanjang Pest.

Buda dan Pest hidup dalam keteraturan mereka. Lokasi perumahan, pusat bisnis, bahkan pariwisata, sudah di set sedemikian rupa supaya tidak campur aduk. Ini juga Pic_0001 memudahkan dalam mengorganisir public transportasi. Di Buda dan Pest, selain transportasi reguler seperti bus dan metro (underground), mereka juga memiliki trem yang menghubungkan pusat-pusat strategis. Selama 2 minggu kunjungan saya disana, praktis saya sangat nyaman menikmati public transportation dan tidak pernah kepikiran untuk naik taksi.

Itulah, kenapa Jakarta tidak bisa mencontoh seperti itu ya? Hmm.. Mungkin Pak Sutiyoso sebaiknya harus study banding ke Budapest, daripada study banding ke Brasil beberapa waktu lalu untuk mempelajari sistem transportasi disana.

Gimana, Pak Sutiyoso.. nanti saya temenin kalo mau ke

Budapest

.. hehehe

Cannon Hill Park, 17 June 2006

Saturday, June 17th, 2006

Image_00050_1

Siang itu aku mencoba keluar dari gua aku di 58 Winnie Road. Aku ingin sejenak melupakan kepahitan-kepahitan duniawi yang sedang menghantuiku. Aku ingin kembali kepada pangkuan alam yang tenang. Meletakkan tubuhku di atas rumput, menikmati geliatnya sang surya, menghayati hembusan nafas pepohonan, dan sesekali mengintip segerombolan angsa yang sedang berceloteh ria di kolam.

Siang itu sengaja aku melangkahkan kaki ke Cannon Hill Park yang letaknya berdekatan dengan Edgbaston Cricket Ground. Lokasinya yang cukup kondusif untuk sebuah taman publik membuat ku semakin mantap melangkahkan kaki ke taman itu.

Siang itu aku engga sendirian. Banyak pasangan muda mudi, young parents dengan anak-anak mereka, granny, dan lonely lads-seperti aku sekarang ini. Mereka ‘the lonely lads’ terlihat sedang asik dengan dunianya masing-masing. Menikmati belaian lembut sang surya dan dewi angin, membaca "norwegian wood" racikan Haruki Murakami, atau sekedar manggut-manggut menikmati hentakan musik dari iPod nya.

Pemandangan seperti ini ngga dengan mudah ditemukan di Indonesia, apalagi di Jakarta. Hampir tidak ada ruang tersisa untuk taman publik seperti Cannon Hill Park ini. Ditambah lagi, amat sangat jarang penduduk Jakarta yang mau menghabiskan waktu di taman. Mereka lebih enjoy menghabiskan waktu di Plaza Senayan, Plangi, dan mall-mall terkemuka lainnya. Walhasil, taman-taman publik yang semula diperuntukkan menjadi sarana rekreasi buat warga Jakarta, berubah menjadi kawasan menyeramkan karena sering dihuni oleh para berandalan, pemalak, pemabok, Image_00071 pemadat, dan kadang-kadang jadi kawasan transaksi kemaksiatan lainnya. Memang absurd banget kedengarannya, tapi begitulah potret nyata akhir sebuah taman publik di Jakarta. Hanya Taman Monas dan Taman Suropati aja yang sepertinya masih bisa dikatakan taman publik. Itupun setelah Sutiyoso harus bergelut dan ‘bertempur’ dengan para mantan penghuni Taman Monas yang notabene para pemalak, berandalan, perek, dan pedagang asongan.

Kembali ke suasana Cannon Hill Park. Suasana tenang dan aman sangat terasa. Waktu aku masuk ke gerbang taman, persis di depan gerbang ada tulisan gede-gede ‘No Alcohol allowed’. Taman ini memang diperuntukkan khusus untuk sarana rekreasi warga Birmingham, khususnya warga Edgbaston. Jadi, Polisi juga udah stand by di sana-sini untuk mengamankan suasana di sekitar taman.

Aku mencari-cari tempat strategis untuk menggelar tikar. Tempat yang ngga terlalu panas, dan yang ngga terlalu adem. Maklum, kulit aku ngga gitu putih-putih banget kayak bule Birmingham, tapi ya ngga coklat kayak kebanyakan kulitnya orang Indonesia. Akhirnya aku pilih tempat yang dekat dengan kolam yang sedang dikelilingi oleh angsa-angsa yang sedang berceloteh dengan ria.

Image_00072 Anganku melambung sejenak saat aku merebahkan tubuhku di atas hamparan rumput yang lembut. Benderangnya mentari membuatku sejenak harus memoleskan sun block ke seluruh tubuhku. Entah ada tenaga dari mana, tapi suasana seperti ini cukup membuat batinku terhibur. Aku bisa relaksasi dan kembali merenungi kepahitan-kepahitan duniawi yang sedang menggayuti raga dan hati ku.

Andai aku bisa menari di awan dan bermain-main dalam gumpalan awan yang saat ini sedang berarak di atas langit Birmingham. Andai aku bisa menari bersama kedua angels ku yang saat ini sedang terlelap dalam mimpi mereka. Andai aku bisa menggapai semua angan dan harapan ku yang kemarin kandas. Andai aku bisa membuat bahagia semua orang yang ada disekelilingku.

Lamunanku cukup panjang di siang itu. Sampai akhirnya aku terjaga dengan sapaan seorang Granny yang dengan ramah menawari aku sandwich. Rupanya Granny itu butuh teman untuk bicara. Dari segi usia, Granny yang bernama Lisa ini ternyata seumuran dengan nenek aku. Nenek aku yang sedang tergeletak tak berdaya karena stroke. Tapi, granny Lisa ternyata masih sehat dan masih bisa menikmati indahnya summer time di Cannon Hill Park ini. Dia cukup bahagia karena dia masih bisa menikmati summer, setelah winter terpanjang dan terdingin tahun ini sempat membuat seluruh sendi-sendi tubuhnya serasa ngilu dan tak bisa digerakkan. Senyumnya cukup mengembang saat aku bantu dia membereskan peralatannya. Setelah setengah jam ngobrol dengan granny lisa, ia beranjak dan pamit pulang.. sendiri..

Granny lisa bertutur tentang dirinya di masa muda dan perjuangannya mengarungi hidup. Kenyataan bahwa suaminya meninggalkannya dan kelima anak mereka. Kenyataan hidup yang pahit untuk seorang wanita berusia 35 tahun pada saat itu. Terkadang kegagalan demi kegagalan kerap menghantui. Dengan selalu tersenyum menghadapi cobaan-cobaan duniawi, granny lisa mencoba memberikan pengalaman hidupnya padaku, seorang stranger yang baru dikenalnya.

Entah apa yang ada dalam benakku saat itu. Dalam hati aku marah pada diriku. Diriku yang baru 29 tahun tapi sudah rapuh dan tidak percaya diri. Diriku yang masih punya banyak tenaga dan pikiran, tapi seolah tak berdaya menghadapi permasalahan hidupku.

Well, semoga perjalanan ku siang ini memberikan sebuah pencerahan bagiku, bahwa tidak semua kegagalan harus berakhir dengan kegagalan. Bisa jadi sebuah kegagalan adalah sebuah proses dari sebuah kesuksesan. Mungkinkah itu terjadi padaku? Hanya Tuhan saja yang tahu…

Naik Bus Lagi

Thursday, April 20th, 2006

Pict1033Gara-gara ada isu Amrik mau nyerang Iran (menurut Aryati), harga unleaded semakin menggila. Pagi ini gue lihat di Shell deket Harborne, harganya sudah mencapai 92,9 p/litre. Padahal dua hari lalu waktu gue isi bensin pas Jeng Ika datang, harganya masih 90,9 p/l. Gilaaaa…..

Nah, demi mengamankan posisi keuangan gue, akhirnya gue memutuskan untuk naik bus lagi. Kebetulan banget gue tinggal di area yang dilalui bus nomer 46 yang free of charge. Walau harus sedikit jalan kaki karena jarak dari bus stop ke rumah lumayan jauh, tapi gue mencoba untuk tabah. Just like the old days.. sebelum gue dimanja ama Honda Accord merah gue itu..

Setelah menunggu sekitar 20 menit bersama housemate gue (Coletha), aGoing_home_bye_bye khirnya gue si bus datang juga. Wah ternyata nyaman juga naik bus, sepanjang cuaca cerah saja.. Dan, bener aja.. waktu gue meninggalkan rumah, sinar matahari kinclong banget menyinari 58 Winnie Road. Karena terbiasa bawa mobil, gue jadinya ngga siap2 dengan perabotan untuk survival, kayak payung or topi. Alhasil, setelah 2 jam gue meninggalkan rumah karena harus ngurusin surat extension gue ke John Watson dan moto kopi bahan untuk essay, eh… si hujan datang. Anjrit, gue kaga bawa payung.

Tapi.. memang gue lagi diblessed ama yang diatas. Pas gue lagi keujanan gitu, ada classmate gue nawarin pulang bareng dengan mobilnya… Wuih, emang dech.. nasib gue lagi untung gitu. Padhaal gue udah ngebayangin bakalan ujan-ujanan gitu dech

However, pengalaman naik bus lagi cukup menyenangkan juga, selama itu gratis .. hahahaha….

Unleaded.. oh Unleaded…

Monday, April 17th, 2006

Sudah dua minggu ini harga unleaded melonjak tajam. Terakhir saya isi bensin untuk mobil Honda Accord saya, dua minggu lalu, harga unleaded masih 89,9 pence/liter. Tapi hari ini, wuih… sudah mencapai 91,9 p/litre di Tesco dan 94,9p/litre di Total. Duh.. semakin berat aja buat pengendara mobil pas-pasan di UK kayak saya ini….. 

Ada apa gerangan yach??? Somebody tell me why…..

Sekelumit Kisah tentang Sebuah Negeri Bernama “Estonia”

Saturday, April 15th, 2006

Eestimapbmp Estonia -sebuah negara bekas persekutuan Soviet Union- dapat dijadikan sebuah potret ‘the winning of the youth’. Setelah menyatakan keluar dari Soviet Union pada tanggal 20 Agustus 1991, Estonia telah berhasil membentuk wajahnya menjadi sebentuk ‘gadis’ cantik yang siap disunting oleh para jejaka. Sebagai result dari upaya si ‘gadis’ mematut dirinya, pada tahun 2004 lalu Estonia telah resmi menjadi salah satu anggota European Union dan NATO.

Negara seluas 633 km dengan penduduk sekitar 1,4 juta dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar -0,64%  ini telah mampu bangkit dari keterpurukan akibat kolapsnya Soviet Union. Reformasi di bidang perekonomian dan perdagangan, khususnya, ditekankan kepada modern market economy yang berorientasi pada pasar, terutama pasar Eropa. Penetrasi teknologi dari negara tetangga -seperti Sweden dan Findland- memberikan advantage tersendiri bagi Estonia sehingga memudahkan ruang gerak dalam melakukan inovasi tekhnologi. Saat ini Estonia sudah berhasil mengembangkan berbagai tekhnologi yang cukup dikenal dikalangan per-tekhnologian. Skype, misalnya, adalah salah satu contoh inovasi tekhnologi berasal dari negara yang bermottokan "United We Stand" ini.

Tak terkecuali itu, free movement of labour -seiring dengan accession to EU-  memungkinkan perpindahan tenaga kerja Estonia ke negara-negara kawasan Eropa. Hal ini cukup membantu mengurangi tingkat pengangguran di negara tersebut menjadi hanya sebesar 9.2% tahun 2005. Semua ini membuat pertumbuhan ekonomi Estonia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu 7.4% pada tahun 2005, bahkan termasuk yang paling tertinggi di antara negara Eropa. Tallin_1

Selain tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan tersebut, ada satu hal cukup menarik perhatian saya selama 7 hari lawatan ke negeri yang terkenal dengan ‘Medieval’ style nya tersebut, yaitu kebangkitan angkatan muda Estonia di berbagai sektor perekonomian. Terlebih lagi di sektor pemerintahan. Dalam kunjungan saya ke beberapan instansi pemerintahan, betapa tercengangnya saya mendapati orang-orang yang saya kunjungi ternyata seperti ‘teman sebaya’.

Ello -salah satu Deputi di Ministry of Economics Affairs- adalah contoh anak muda yang menduduki posisi papan atas di pemerintahan. Ello, yang ternyata salah satu alumi Chevening Scholar tahun 2001, dapat menduduki posisi strategis bersama dengan kawan-kawan muda lainnya. Tugas dan tanggung jawab mereka cukup besar, terlebih lagi saat Estonia sedang menggeliat dan mencari perhatian dari EU dan NATO untuk menyunting negara tersebut. Serangkaian negosiasi harus dilakukan oleh Ello dan kawan-kawannya. Dalam kesempatan informal kami sewaktu dinner di restoran ‘Olde Hansa’ (restoran ala zaman Medieval), saya sempat bertanya sama Ello apakah ia mengalami kesulitan waktu melakukan negosiasi dengan para ‘tetua’ yang ada di EU dan NATO. Dan, Ello dengan confidence menjawab bahwa pada awalnya rasa kesulitan tersebut tetap ada karena mereka dianggap sebagai sebuah negara yang belum mature karena di-manage oleh kalangan muda yang terkesan ‘minim’ pengalaman dalam mengatur negara. Tetapi dengan tekad dan kapasitas yang mereka miliki, mereka bisa memposisikan diri mereka secara sejajar dan profesional. Saya cukup bangga mendengar hal tersebut, karena terbukti bahwa ‘anak muda’ yang katanya minim pengalaman ternyata bisa memerintah sebuah negara.

Interest saya ngga berhenti sampai disitu. Setelah mengunjungi Ello dan kawan-kawannya, saya mengunjungi rekan-rekan di Ministry of Finance.  Begitu saya memasuki ruang rapat, saya disambut oleh petinggi di kementrian finance yang, lagi-lagi, sebaya dengan saya. Klas Klaas, nama si pemberi ceramah buat saya di siang itu. Begitu mendengar dia memperkenalkan nama antiknya tersebut, sejenak saya tertawa kecil karena nama tersebut memiliki kesamaan dengan nama sunda yang cenderung melakukan repetisi, seperti ‘ajat sudrajat’, hehe.. Anyway, saat dia berceramah mengenai proses accesssion Estonia ke EU yang melalui proses yang cukup panjang dan njlimet, diam-diam saya menuliskan sesuatu dalam notebook saya, "kenapa orang-orang muda ini bisa masuk ke dalam posisi strategis di pemerintahan?"

Cityscuare Sungguh menarik melihat fenomena kebangkitan para pemuda di Estonia. Saya semakin penasaran, apakah ini juga berlaku di private sector. Akhirnya saya melangkahkan kaki ke sebuah enterprise yang merupakan sebuah foundation untuk mengembangkan entrepreneur skala kecil dan menengah. Saya bertemu dengan Sigrid, Direktur Enterprise Estonia, yang menurut saya sangat kompeten dalam memberikan pencerahan kepada saya tentang yayasan ini yang sudah berhasil mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat Estonia. Sigrid, seorang perempuan usia 35 tahun, dengan cakap dan confidence menjelaskan bahwa mereka saat ini sedang melakukan pendekatan kepada segenap rakyat Estonia untuk bersama-sama mengembangkan perekonomian Estonia. Saya cukup tergelitik saat Sigrid menceritakan sebuah success story sekelompok anak muda Estonia yang kreatif membentuk company yang memproduksi perahu kayak. Dengan bermodalkan kemauan keras dan daya kreativitas, sekelompok anak muda tersebut telah berhasil mengembangkan bisnis mereka sehingga produk mereka sudah diekspor ke manca negara. Usaha-usaha enterpreneurship seperti ini, menurut Sigrid, sangat perlu untuk menggiatkan perekonomian Estonia.

Menilik hikmah dari perjalanan saya ke institusi-institusi tersebut, saya hampir tidak melihat kegagalan yang cukup signifikan. Korupsi, yang menjadi duri dalam daging bagi pengelolaan sebuah negara, rasanya sangat minor. Saat saya mengunjungi sebuah LSM yang  bergerak dibidang research economic and development Estonia, saya menemui seorang researcher muda dan ganteng bernama Tarmo Kalvet. Tarmo, yang merupakan jebolan PhD dari UK, mengungkapkan bahwa tingkat korupsi di Estonia sangatlah rendah, bahkan hampir tidak terdengar. Dengan sallary civil servant yang cukup tinggi -bahkan equal dengan private sector- Tarmo bahkan tidak mengungkit masalah korupsi bisa membayangi pengelolaan keuangan di Estonia.

Interesting sekali bukan? Dengan jumlah sallary yang cukup fair serta pemberdayaan angkatan muda di jabatan strategis pemerintahan, tingkat korupsi di Estonia sangatlah minim. Selain itu, peraturan di bidang pengangkatan dan pemberhentian pegawai negeri juga dibuat se-fleksibel mungkin. Sistem rekrutmen civil servant tersebut tidak bersifat ‘life time employment’ sehingga turnover ke sektor swasta ataupun institusi lain sangat lah memungkinkan bila si PNS tersebut memutuskan ingin keluar dari institusi pemerintahan. Mari, seorang konsultan cantik berusia 36 tahun yang semula serving for the ministry of finance, bertutur bahwa ia sangat beruntung mendapatkan kesempatan berkarir di kementrian finance selama 4 tahun, sehingga saat ia memutuskan ingin menjadi konsultan di EU, ia menjadi lebih confidence. Mari, potret perempuan muda Estonia -yang merupakan salah satu penerima Chevening Scholar untuk tahun 2007- merasa bahwa empowerment terhadap angkatan muda di Estonia telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap Estonia dalam melakukan penetrasi kepada pasar Eropa and the rest of the world.

Estonia, yang baru merdeka tahun 1991, telah mencapai GDP per capita sebesar $16,400 di tahun 2005. Hikmah atas keterpurukan Soviet Union seakan memacu negara tersebut untuk terus memoles dirinya untuk menjadi bagian dari ‘dunia’. Angkatan muda Estonia yang me-manage negara kecil tersebut terus melakukan inovasi dan reformasi yang tak berujung (begitu kata Tarmo). Yah, kita doakan saja semoga angkatan muda tersebut tidak gamang ditengah godaan globalisasi dan kapitalis yang semakin menggila.

Apakah Indonesia bisa mengikuti jejak Estonia dalam memberikan empowerment terhadap angkatan muda di institusi pemerintahan? Well, doakan saja salah seorang penerima Chevening Scholar ini (saya, red.. hehe) bisa mewujudkan mimpi itu… 

Rotation_of_tallinn_058

Ohya, ada satu hal lagi yang mengingatkan saya pada Indonesia waktu saya di Estonia. Saat saya mengunjungi Tartu, kota kedua terbesar setelah Tallin, saya menyempatkan diri mengunjungi proyek-proyek yang dibiayai dari EU fund, yaitu antara lain proyek pembangunan Museum Toys. Begitu saya menyusuri koridor lantai 2 yang menampilkan koleksi mainan dari berbagai negara, saya terhenyak begitu melihat ‘wayang kulit’ dan ‘wayang golek’ juga menjadi salah satu bagian dari koleksi mereka. Tak terkecuali itu, sebuah boneka dari Papua ikut menjadi bagian dari koleksi mereka… Wah, saya cukup surprais menyaksikan pemandangan itu. Wayang kulit -yang udah out of date- ternyata cukup dihargai di negeri kawasan NORDIC tersebut. Hebat lah Indonesia…