Archive for the ‘Uncategorized’ Category

A day without a smile

Monday, December 18th, 2006

Have you ever experienced with a lousy day without a single smile? Maybe you can smile, but it’s so bitter.

When you had this circumstances, you might ever wanna turn your head to the wall or even a glismpse of killing yourself.

A smile is worthed to begin and to end a day. It is so worthed, at least for me.

Even a smile can conquer the rocky mountain, that’s what the wiseman said. A smile can give a warning.. of happiness or sadness.. that’s why a smile can mean everything.

If you try to search upon the sky, where is the best smile ever in the world.. answers are flying according to the message. I might end up with the answer of my angels’ smile which are the best smile ever.

My angels..

Today I miss their smile.

Today I miss their kiss.

Today I miss their love.

Hopefully it’s not too late to get the smile again, tomorrow

Menyikapi Perubahan

Monday, December 11th, 2006

Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa sepulang saya dari Inggris banyak hal yang berubah dari diri saya. Mulai dari cara bicara, cara berpikir, sampai dengan penampilan saya.

Sebagai diri pribadi yang menjalani, terus terang saya tidak bisa menjawabnya secara lugas dan tepat. Kenapa? Karena saya tidak merasa ada perubahan yang berarti dalam diri saya.

Menurut saya, saya masih seperti ini, masih seperti saya yang dikenal teman-teman saya setahun yang lalu. Saya yang menjalani kehidupan yang simple, ceplas ceplos dan selalu berusaha untuk open minded. Itu yang bisa saya gambarkan tentang diri saya; diri saya yang dulu sampai sekarang.

Lalu kenapa orang memandang terjadi perubahan dalam diri saya?

Kalau sejenak saya berpikir dan merenungi tentang diri dan kehidupan, memang saya menyadari ternyata ada perubahan dalam diri saya. Saya sendiri tidak tahu apa yang membentuk dan membuat perubahan itu.

Kecurigaan saya adalah karena saya memakai prinsip biarkan air mengalir dalam kehidupan saya. Proses pembelajaran dalam hidup saya anggap sebagai sebuah proses pendewasaan dan proses pencarian hakikat hidup itu sendiri. Pengalaman kesendirian selama setahun mau tidak mau telah menempa saya untuk bisa survive dan diterima di lingkungan saya yang baru, pada saat itu. Saya merasa menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak. Saya juga lebih menggunakan pola pikir yang jauh ke depan dalam segala hal, baik dalam hal berteman sampai terkait dengan kondisi finansial. Pertimbangan dan pemikiran seperti itu mungkin membuat saya merasa tertempa untuk lebih bersikap dewasa dan bijaksana.

Pola pikir yang open minded dan cenderung liberal dengan sendirinya juga terinfiltrasi ke dalam cara berpikir saya seperti sekarang ini. Mencermati secara objektif permasalahan dan gejala yang ada di sekeliling saya adalah hal yang harus saya lakukan jika ingin bisa tune in dalam kesendirian dan perjuangan saya saat itu. Dan memang saya tidak pernah punya masalah dengan berpikiran terbuka tersebut.

Saya menghargai segala bentuk perbedaan dan perubahan, baik itu ditinjau dari perspektif ideologi ataupun agama. Saya menghargai berbagai bentuk opini yang ada. Bagi saya, timbulnya berbagai opini merupakan benih dari sebuah proses komunikasi yang sehat. Tuhan menganugerahi umatNya dengan sebuah mesin otak yang dapat dioptimalkan untuk menjawab rahasia-rahasia alam yang ditinggalkan oleh Tuhan. Bentuk perbedaan tersebut dapat dijadikan sebuah jembatan dalam proses mencari jawaban atas rahasia2 tersebut.

Sejauh mana kita bisa menyikapi bentuk perbedaan dan perubahan?

Semua tergantung dari sudut mana kita melihat. Pro dan kontra terhadap sebuah sikap dan kebijakan selalu terjadi. Bahkan dalam sebuah teori pengambilan keputusan akan selalu ada trade off serta kondisi dimana kita tidak bisa memuaskan semua pihak.

Untuk itu, perubahan dan perbedaan harus disikapi secara menyeluruh dan bijak. Kita bisa melihat proses perubahan pada diri Aa Gym yang berubah pandangan tentang poligami. Kalau sebelumnya beliau sepertinya emoh ber-poligami, tapi sekarang malah beliau menjadi pelaku poligami. Tentunya proses untuk perubahan tersebut harus kita hormati dan hargai sebagai salah satu bentuk proses pembelajaran bagi diri Aa, keluarga Aa, dan kita semua.

Proses perubahan bisa menjadi positif dan destruktif. Saya tidak bisa mencap proses perubahan sikap Aa dari yang semula ‘berpikir-pikir’ untuk poligami sebagai proses perubahan yang destruktif. Itu merupakan hak prerogatif Aa dan juga keluarga Aa. Tentunya semua keputusan telah berdasarkan pertimbangan yang matang, baik dari segi the best case maupun dari sisi the worst case.

Begitulah, perubahan tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Selalu ada trade off dibalik perubahan yang terjadi. Hal ini sebuah proses yang alamiah sehingga harus disikapi secara bijaksana dan legowo.

So, bila saya berubah, bila Aa Gym berubah, bukan berarti kami mengenyampingkan rambu-rambu sosial dan stigma di masyarakat. Kami hanya berkaca pada pengalaman, dan berangkat dari kesadaran akan keharusan untuk dapat lebih baik dari hari kemarin. Semoga perubahan yang terjadi bisa menjadi positif dan tidak bersifat destruktif.

Walaupun demikian, kami memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Itulah salah satu trade off yang harus kami hadapi …..

Kemiskinan Itu Dekat

Saturday, November 18th, 2006

Sebenarnya kalo kita mau membuka mata dan hati, kita akan terpojokkan dengan sebuah situasi bahwa kemiskinan itu dekat, bahkan sangat dekat.

Sejak kita membuka mata, kita akan melihat kehadiran pembantu di rumah kita. Melayani, mengopeni, dan melakukan apa saja yang kita perintahkan. Kenapa mereka mau? Karena mereka miskin dan mereka butuh uang untuk menghidupi diri mereka dan keluarga mereka. Bahkan, dibayar dengan gaji dibawah UMR pun akan mereka lakoni agar mereka bisa keluar dari kemiskinan mereka.

Kemudian saat kita berangkat ke kantor, kita kembali dihadapkan dengan fakta kemiskinan. Betapa banyak anak-anak dan para pengemis yang sudah stand by di sepanjang perempatan lampu merah. Para joki yang siap menemani pengendara yang akan melewati sudirman-thamrin. Atau, para pedagang kaki lima yang sedang siap2 menjajakan dagangannya.

Mereka miskin dengan kondisi dan kesempatan yang ada pada mereka. Mereka mau berusaha dan keluar dari kemiskinan mereka.

Lalu pertanyaannya, apakah yang bisa kita lakukan untuk orang-orang miskin seperti itu? Orang miskin yang mau berusaha.

Kalo saya jadi Presiden, saya mungkin akan lebih banyak menyamar dan naik bus atau kereta. Jadi, saya tau penderitaan orang miskin.

Itu kalo jadi presiden, tapi karena sekarang belum jadi Presiden, ya tetep naik mobil ke kantor.. hahaha

Lagi-lagi horoscope

Wednesday, June 21st, 2006

"Let your imagination drive you today. There are many interesting places to explore. It’s all about imagination! Revert back to your childhood days of making up the world around you — because imagining something in a new form is the first step toward making real improvements. Exercise creativity in everything you do and put a new twist on how you dress, communicate or spend your money. Folks around you might not know what to make of you at first, but they will certainly be delighted by your unique take on life. Your ideas may inspire a similar change in others."

Gue ngga tau kenapa, gue jadi keranjingan baca horoscope yang selalu terpampang di menu friendster. Gue ngga bisa melepaskan temptation untuk sekedar mengintip, kira2 apa sich ramalan tentang kehidupan gue besok.. dan seterusnya. Kadang ada yang bener, dan kadang ada yang meleset. Kadang gue heran sendiri, bagaimana si peramal bisa tahu apa yang sedang ada di hati gue, ya.. ataukah itu semua hanya kebetulan saja.

Seperti apa yang diramalkan friendster untuk gue hari ini. Gue harus berimajinasi dan mengeksplor dunia ini. Banyak hal yang engga gue tau dan banyak kesempatan bagi gue untuk mengetahuinya. Ini bagus untuk diri gue dan improvisasi atas kehidupan yang tengah gue jalanin.

Thanks ya friendster..

Ngga Ada Ide

Wednesday, June 14th, 2006

Pernah ngga, satu ketika merasa blank dan ngga punya ide sama sekali??Question_1

Ini sedang gue alamin saat ini.. ngga ide sama sekali mau nulis apa… emang segala sesuatu ngga bisa dipaksain ya.. harus berjalan sesuai dengan mood kita juga..

Thanks for comin’, Ika

Thursday, April 20th, 2006

Rotation_of_rotation_of_image_00013 Hari minggu lalu gue kedatangan tamu dari kampung sebelah -Coventry. Tamu gue itu namanya Ika. Asli, gue bahagia banget kedatangan tamu di sela-sela kesunyian gue karena cuman bercokol di kamar dan ngerjain assignment. Akhirnya, ada alasan untuk keluar rumah dan menghibur diri dari kekangan reading lists yang menggunung di kamar gue.

Ika anaknya asik banget. Ngocol dan bocor abis. Kita pernah ketawa ngakak pas berhenti di lampu merah dan ada iklan ‘cum 2 bed’ persis di tiang lampu merah Selly Oak. Ngebayangin kalo iklan kayak gitu ada di Jakarta, langsung dech bakalan di sobek-sobek ama FPI. Kalo perlu tiang lampu merahnya dicopot dan dimusnahkan, hehe.

Setelah asik menyusuri pelataran kota Birmingham, ngga lupa untuk melongok suasana malam di Broad street. Ditemenin ama Mayang, akhirnya kita memutuskan untuk sekedar kongkow di Velvet. Waktu kita lagi asik2nya ngobrol ngalor ngidul, ada bule mabok ngedeketin kursi kita. Rada takut juga sich karena tau ndiri lah kalo orang lagi mabok kan ngga bisa dikontrol. Tapi untungnya ada temen si bule mabok itu yang ngikutin dari belakang, jadinya kita selamet. Dan, akhirnya kita pulang ke rumah masing2 setelah lewat jam 1 pagi.

Keesokan harinya, acara muter2 bersama Ika lebih gila lagi. Seharian jalan di canal dan belanja di one stop shopping. Gue cuman menahan napas supaya kaga keikutan napsu pengen belanja. Tapi, tetep aja bo… 40 pounds melayang karena gue ngga kuat menahan diskon nya Next clearance.. hehe.. 

Sorenya kita memulai acara masak-memasak. Karena kedatangan tamu Indonesia, akImage_00014hirnya gue memutuskan untuk memasakkan makanan khas Indonesia. Akhirnya, sayur asem dan tumis ikan teri kacang menjadi sasaran gue. Belanja di Sing Fat, dan memulai meracik bumbu seadanya. Alhasil, sayur asem lengkap dengan ikan teri kacang. Nuikmat luar biasa… Ika makan dengan lahapnya, dan dalam hati gue bersyukur, kalo kaga ada Ika, mana mau gue repot2 masak beginih.. hehe.. Wah pokoke sayur asem gue ngga terkira dech nikmatnya. Nikmat luar biasa.. keke.. Nih dia fotonya…Image_00015

Tapi, berhubung jeng Ika harus pulang dan meneruskan proposal disertasi dia yang harus dikumpul hari Jumat, akhirnya dia memutuskan untuk pulang hari selasa. Selasa siang, setelah mengunjungi Cadbury World, akhirnya jeng Ika pulang.. I hate good bye.. makanya, I just said ’see you again’..

Well, thanks for comin’, Ika…. si yu ley eh…

Medium-Term Expenditure Framework

Saturday, April 15th, 2006

Jakarta_euy Salah satu reformasi budgeting yang sedang menggejala di berbagai belahan dunia adalah Medium-Term Expenditure Framework (MTEF). Metode ini sangat gencar diadvokasi oleh lembaga donor seperti World Bank dan IMF. Dengan jargon sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan sebuah ‘Poverty Reduction Strategy Programs’, kedua lembaga donor tersebut meng-enforce negara-negara yang menerima bantuan dari kedua institusi tersebut untuk mengimplementasikan MTEF dalam proses penyusunan dan pengimplementasian budgeting mereka.

Sebenarnya, apa sich MTEF itu? Menurut definisi dari World Bank (1998), MTEF merupakan sebuah kerangka berpikir yang mensinergikan antara perencanaan (dari sisi penerimaan dan pengeluaran pemerintah), pelaksanaan anggaran, dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara untuk tahun bersangkutan dan beberapa tahun yang akan datang. Sekilas sich sama dengan bentuk metode budgeting biasa, tetapi yang membedakan adalah proses kesinambungan dari sebuah public expenditure management. Dengan demikian, yang difokuskan tidak hanya bersifat short term saja, tetapi juga kepada broad policies untuk jangka menengah. Dalam MTEF, unsur terpenting yang harus dilakukan adalah institutional arrangements. Unsur penentu kebijakan dibidang perencanaan dan finance sebaiknya diintegrasikan untuk mempermudah dalam proses pengelaborasian broad policies tadi.

Mengapa MTEF menjadi penting? Pertama, menjamin predictability. Dengan berbasiskan metode 100_1486 forward estimates aggregate resources, unsur predictability menjadi lebih mudah untuk diraih. Kendala yang selama ini dialami oleh negara berkembang adalah overly estimates terhadap proyeksi penerimaan negara. Sementara itu, sikap yang terlalu optimis ini tidak dibarengi oleh kapasitas ‘pemungut’ pajak ataupun tax potential itu sendiri. Di sisi pengeluaran, terdapat perbedaan pandangan antara Ministry of Finance dan  Line ministries, dimana MoF menganggap bahwa expenditure estimation tergantung pada "availability", sementara Line ministries umumnya melakukan estimasi terhadap iberdasarkan "needs". Mismatch perception ini kerap menimbulkan friksi dalam proses penyusunan anggaran.

Dengan mengimplementasikan MTEF, kemungkinan konflik tersebut bisa diperkecil. Dengan mengkonstruksi sebuah kerangka kerja dan prioritas jangka menengah yang mendeskripsikan broad policies untuk -at least- lima tahun ke depan, hal ini akan lebih memudahkan dalam melakukan kontrol terhadap uang publik. Khusus bagi bagi MoF, kondisi ini akan mempermudah dalam mengenalkan istilah ‘hard budget constraints’ kepada line ministries.  Hal ini karena penyakit yang selama ini menjalar di negara berkembang adalah line ministries cenderung melakukan rent-seeking behaviour dalam menetapkan anggaran belanja mereka. Kecenderungan untuk tidak efisien dan memaksimalkan anggaran pengeluarannya, membuat MoF kesulitan dalam mengatur uang negara tersebut. Terkadang upaya ‘pemotongan’ anggaran line ministries tersebut dianggap sebagai upaya ‘pengurangan’ kualitas atas public service, padahal dari kaca mata MoF, segalanya tergantung availability keuangan negara. Makanya, MTEF menjembatani konflik tersebut melalui perencanaan yang berkesinambungan dan terkontrol, dan lebih penting lagi, menjamin predictability dalam resource flows dan kriteria untuk public expenditure.

Kedua, meningkatkan kualitas dalam pengambilan kebijakan. MTEF menjamin terbentuknya sebuah mekanisme untuk sarana konsultasi dan debat antara MoF, line ministries, parlemen, dan civil society (salah satu bentuk citizen participatory dalam budgeting). Dengan adanya serangkaian diskusi dan pembahasan yang ’sehat’ antara para pengambil kebijakan tersebut, kualitas proses penyusunan anggaran tersebut dapat legitimate. Untuk itu, para ekspatriat di WB dan IMF menyebut MTEF sebagai sarana untuk me-legitimate proses pengambilan kebijakan.

Daerahkumuh Ketiga, MTEF juga terbukti dapat menjadi sarana untuk mekanisme transparansi dan accountability. Pengalaman di negara-negara berkembang yang telah mengadopsi MTEF (seperti South Afrika dan Uganda) menunjukkan bahwa MTEF terbukti meningkatkan audit trail dalam rangka meningkatkan akuntabilitas publik. Bentuk dan jabaran anggaran negara ke dalam sebuah konstruksi berdasarkan fungsi (organisasi), program, kegiatan, dan jenis belanja dari sisi nilai ekonomi membuat penganggaran berdasarkan MTEF ini memberika ruang gerak bagi MoF, Parlemen, dan civil society dalam melakukan check and balances terhadap kinerja dan performance line ministries.

Namun, tidak semua model sempurna. Problem yang mungkin ditimbulkan dari information assymetry antara MoF dan line ministries dapat mengganggu kesinambungan dalam proses kerja sama antar instansi tersebut. Sebuah kondisi yang menempatkan MoF sebagai planner sementara  line ministries sebagai administrator, membuat distance antara MoF dan line ministries. Bila kondisi ini tidak di-overcome melalui sebuah rekonsiliasi politik, maka problem assymetry tersebut agak sulit untuk diminimalisasi.

Permasalahan yang lain adalah dibutuhkannya kombinasi antara top-down dan botton-up decision yang harmonis. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang kapabel untuk bisa mengelaborasi kedua pendekatan tersebut. Pentingnya informasi yang valid dan reliable, juga menentukan keberhasilan pengimplementasian MTEF di negara berkembang.

Permasalahan lain yang cukup penting adalah political will. Tanpa komitmen politik yang cukup tinggi untuk menerapkan MTEF, maka mustahil MTEF akan berlaku secara efektif. Mengapa ini menjadi sebuah bentuk permasalahan? Hal ini karena the nature of MTEF itu sendiri yang menjamin tercapainya akuntabilitas publik  melalui audit trail tersebut sehingga menyebabkan dibutuhkannya political commitment dari kalangan eksekutif, legislatif, dan judikatif. Tentunya hal ini akan sangat ‘membahayakan’ bagi para rent-seeker yang mengambil ‘keuntungan’ dari uang publik. Political commitment juga terkait dengan bekerjanya law enforcement sehingga memungkinkan proses akuntabilitas publik ini dapat terlaksana.

Dari uraian tersebut kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna.  Sebuah model akan diperbaharui lagi dengan model yang lainnya karena adanya kelemahan terhadap model tersebut. Begitu seterusnya sampai ditemukan metode yang terbaik yang dapat mengakomodasi kemungkinan kelemahan yang mungkin ditimbulkan. MTEF belum tentu merupakan model yang terbaik untuk menyusun, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan anggaran negara, tetapi konsep dasarnya yang mengedepankan prinsip kesinambungan, transparansi, dan akuntabilitas sangatlah menarik untuk dikaji lebih lanjut.Anak_indo