Archive for February, 2006

Dugem di Winter

Sunday, February 19th, 2006

Seperti malam minggu sebelumnya, malam itu saya kembali menyusuri pelataran Broad street saat waktu Inggris menunjukkan pukul 12 malam. Seperti biasanya, pasangan muda-mudi hilir mudik sambil tertawa penuh kebahagiaan dan kebanggaan memenuhi pub di areal Broad Street. Si cowok lengkap dengan white top dan dibalut dengan jaket kulit hangat, sementara si cewek tampil dengan pakaian yang sangat minim. Kadang hanya dibalut tank top dengan diselimuti rok tipis sepaha. Ck ck ck.. Amazing sekali perjuangan para wanita ini untuk sekedar dugem di winter ini..

Padahal, seperti biasanya pula, temperatur di Birmingham pada saat-saat itu paling banter 2 degrees celcius. Malah pernah satu ketika temperatur drop sampe minus 5. Dan para bidadari itu hanya mengenakan pakaian yang begitu minim, tanpa merasa kedinginan.

Sebenarnya mereka sangat kedinginan. Saat saya mencoba mendekati para bidadari itu, saya sempat memperhatikan bagaimana tubuh mereka menggigil kedinginan dan tangan yang bergemetaran menahan dingin yang sangat menusuk tulang. Saya -yang selalu mengenakan jaket dengan tebalnya- tidak kuasa menahan rasa dingin yang rasanya ngga ada habis-habisnya itu. Betapa amazing nya mereka bisa menahan itu semua.

Dalam hati saya menangis. Girls.. kenapa kalian sepertinya bersedia melakukan apa saja demi menarik perhatian? Atau, apakah saya yang terlalu narrow minded yang berpikir bahwa kalian melakukan itu hanya untuk menarik perhatian saja? Sungguh, saya sedih melihat kalian hanya menjadi bahan pertontonan bagi kaum yang sepertinya memiliki power untuk menundukkan kalian.

Saya kembali tertegun di tengah bisingnya dentuman musik dan gemericing gelas-gelas yang betebaran di lantai. Dugem di winter ini sangat dingin, para bidadari. Kenapa kalian dapat menghalau semua itu demi kebahagiaan sesaat dan demi memuaskan perhatian kaum yang hanya silau dengan pesona lahiriah yang kamu punya?

Kembali pikiran saya melambung jauh ke negeri akademika. Saya sangat bahagia saat menyaksikan betapa kaum adam meng-appreciate kamu hawa dengan kepintaran yang kita miliki, tidak hanya kepintaran kita memoles tubuh kita. Saya sangat terkesan saat prof. hillary dikampus saya mendapatkan ‘perhatian’ yang simpatik dari kaum adam dengan pesona beliau dalam memberikan pencerahan terhadap upaya pemberantasan poverty di negara-negara berkembang. Prof Hillary yang masih sangat muda dan cantik, lengkap dengan white top yang dibalut jaket Chanel serta rok mininya, menambah anggun penampilannya. Posisi antara para bidadari dan prof hillary pada saat itu adalah sama, yaitu bagaimana berupaya ‘menarik perhatian’. Hanya saja, prof hillay bisa menarik perhatian dengan cerdas. Cerdas dalam artian kecantikan lahiriah dipadupadankan dengan kecantikan batiniah dan kecerdasan intelektual.

Saya ngga mengatakan bahwa para bidadari itu berotak tumpul. Sebagian dari mereka, mungkin, mempunyai pemikiran yang sangat brilian. Dengan usia yang masih belia dan kecantikan lahiriah yang bisa diunggulkan, seharusnya itu dapat menjadikan sebuah instrumen bagi mereka untuk mem-value diri mereka sendiri.

"Learn to value ourself".

Itulah nasihat abang saya - Huda- yang selalu terngiang-ngiang dalam alam bawah sadar saya. Saya harus bisa mem-value diri saya. Bersikap dan bertindak yang cerdas dan menghargai diri saya sendiri. Seberapa besar orang lain akan mem-value diri kita, akan tergantung bagaimana kita mem-value diri kita sendiri.

Jika kita sudah memutuskan bahwa value kita akan lebih bertambah dengan dugem di winter dengan pakaian minim itu, tentunya surrounding kita juga akan memberikan value seperti itu juga -tentunya dengan berbagai persepsi yang beragam. Jika kita sudah memutuskan bahwa kita memvalue diri kita dengan berpakaian minim di forum akademika, value yang diberikan audiens tentunya akan berubah lagi. Sejauh mana kita memposisikan value diri kita, sedikit banyak menentukan persepsi society yang ada disekeliling kita.

Ah, lamunan saya harus berhenti sampai disitu. Waktu sudah menunjukkan pukul 1. Saya harus pulang dan kembali menghargai diri saya. Kembali mencoba mengkombinasikan kecantikan lahiriah, batiniah, dan intelektual seperti yang diusung Prof Hillary.

Apa Kabar Eyang Harto?

Wednesday, February 15th, 2006

Iseng-iseng browsing tentang Indonesia di Google, saya ketemu potret Eyang Harto waktu masih muda. Nih dia potretnya :Pak_harto 

Apa kabar ya Eyang Harto?

Keliatannya masih innocent gitu yach.. atau memang wajahnya innocent gitu?

Kenapa perilakunya ngga innocent ya?

Kenapa dia ngga berdaya menangkis semua ‘bisikan-bisikan’ dan godaan-godaan yang mampir pada saat dia menjabat jadi orang nomer satu di Indonesia?

Dia cuman human.. se-innocent apapun seseorang, tapi kalo godaan dan tuntutan yang begitu menohok, mungkin dia ngga kuat menangkisnya.

Walo saya ngga nge-fans sama eyang Harto, tapi saya tetep respect lah sama beliau, sebagai orang tua.. dan ya, mungkin saya seperti kebanyakan orang Indonesia yang cukup luluh kalo ngeliat orang tua..

Maaf buat yang anti-Soeharto.. hehe

Ternyata susah ya menetapkan tarif transportasi..

Wednesday, February 15th, 2006

Hari ini saya belajar tentang bagaimana menetapkan pricing charges for services provided by government -particularly local government.

Kasus yang tadi dilempar oleh Prof Nick Devas adalah bagaimana menetapkan tarif public transport untuk low-middle income country. Dilemanya adalah perusahaan daerah yang menyediakan public transport itu mengalami defisit yang cukup berkepanjangan dimana banyak sekali mengeluarkan expenditure untuk operating cost tetapi mengalokasikan sedikit untuk replacement cost. Tarif yang berlaku sangat rendah dan menggunakan flat rate untuk setiap jarak tempuh dan bila dibandingkan dengan tarif yang dicharge perusahaan swasta kesenjangannya bisa dua kali lipat. Public_transport2

Sempat tergelontar wacana bahwa kenapa ngga diprivatisasi saja perusa haan daerah tersebut supaya bisa memaksimalkan benefit dan ngga merongrong budget pemerintah daerah? Namun, ada konsiderans yang perlu ditekankan disini. Siapakah yang biasanya mendapatkan benefit terhadap public transport itu? Umumnya, bagi negara berkembang, those beneficiaries to public transport are mostly the poor. The rich -karena memiliki kapasitas untuk membeli mobil- akan mikir2 untuk naik publik transport. Inilah yang menjadi dilema. Jika tarif dinaikkan, maka akan berdampak pada kemampuan bagi kamu the poor yang menggunakan jasa publik transport tersebut.

Lalu apa konklusinya?

Sebenernya ngga ada model yang clear-cut untuk bisa meng-address permasahalan tersebut. Tapi saya berpendapat bahwa perusahaan daerah tersebut harus memberlakukan klasifikasi atas pembedaan tarif. Kenapa perlu? Pemberlakuan tarif yang berbeda ini dapat dilakukan dengan pertimbangan:

1. equity .. ini tentunya sejalan dengan prinsip bahwa yang menikmati pelayanan yang lebih harus membayar lebih

2. capacity constraint yang diakibatkan oleh marginal cost .. dalam artian apabila kapasitas bus selalu dalam keadaan penuh dan penumpang dicharge dengan tarif yang sama, tentunya akan merugikan orang lain yang juga ingin naik bus tersebut tapi kapasitas bus ngga bisa menampung semua penumpang

3. kompetisi dengan perusahaan swasta. Kalo perusahaan swasta bisa men-charge lebih atas pelayanan yang diberikan, mengapa perusahaan daerah tidak bisa menaikkan tarif (tentunya dengan tarif yang berbeda)

Namun, sistem ini tentunya akan ada kelemahan. Misalnya, akan ada tambahan cost untuk sistem pentarifan tersebut, yang berimplikasi -misalnya dengan penambahan staf untuk checking mechanim. It means, biaya yang akan dicharge untuk penerapan sistem ini tentunya akan bertambah lagi, dan itu harus dimasukkan ke dalam salah satu perhitungan dalam marginal cost pricing tadi. Mungkin cost ini akan dirasa berat untuk tahun-tahun pertama, tapi untuk tahun berikutnya (karena sudah ada sistem) bisa lebih direduce dan dengan asumsi yang sama dengan kondisi saat ini, tentunya akan meningkatkan revenue.

Tapi permasahalannya ngga berhenti sampai disitu. Jika kita konsern about the poor, apakah rekomendasi tadi tidak counter argument dengan upaya memberikan akses transportasi untuk the poor?

Well, argumen yang tadi saya berikan adalah bisa aja diberikan subsidi bagi komunal tertentu yang memang bisa dikategorikan sebagai wilayah yang poor. Dengan demikian untuk penduduk di area itu akan mendapatkan subsidi dan membayar lebih murah untuk akses terhadap transportasi tersebut. #

Tapi ternyata itu saja tidak cukup, karena ada lagi problem, apakah bisa di-ensure bahwa benefit itu memang bisa sampai kepada poor?

Weleh.. weleh… saya jadi binun… waktu presentasi di depan, saya jadi bengong karena ternyata ngga semudah yang saya pikirkan dalam mengurus pelayanan publik ini. Biasanya saya cuman bisa memaki pemerintah daerah kalo menaikkan tarif seenak udelnya. Tapi begitu saya dihadapkan pada posisi mereka, saya juga geleng-geleng kepala.

Akhirnya saya kembali kepada mindset pemerintahan bahwa dalam setiap policy yang ditetapkan, pasti akan ada trade-off antara satu kepentingan dan kepentingan yang lainnya. Sejauh mana pePublic_transportmerintah sensitif terhadap kepentingan yang lebih luas (dalam hal ini public benefit) tentunya akan membuat pemerintahan itu menjadi populer dimata publik.

Ternyata.. susah juga menetapkan tarif untuk service provision..

“All I Ask of You”

Tuesday, February 14th, 2006

No more talk of darkness,
forget these wide-eyed fears;
I’m here, nothing can harm you,
my words will warm and calm you.
Let me be your freedom,
let daylight dry your tears;
I’m here, with you, beside you,
to guard you and to guide you.

Say you’ll love me ev’ry waking moment;
turn my head with talk of summertime.
Say you need me with you now and always;
promise me that all you say is true,
that’s all I ask of you.

Let me be your shelter,
let me be your light;
you’re safe, no one will find you,
your fears are far behind you.

All I want is freedom,
a world with no more night;
and you, always beside me,
to hold me and to hide me.

Then say you’ll share with me one love, one lifetime;
let me lead you from you solitude.
Say you need me with you, here beside you,
anywhere you go, let me go too,
that’s all I ask of you.

Say you’ll share with me one love, one lifetime.
Say the word and I will follow you.

Share each day with me, each night, each morning.

Say you love me…

You know I do.

Love me, that’s all I ask of you.

Anywhere you go let me go too

Love me…
that’s all I ask of you.

Tiga Cinta

Tuesday, February 14th, 2006

"Jika detak jantungku berhenti, hilang semua resah hati, dalam hati kecilku berkata.. jika dapat aku memilih, cinta mana yang kupegang, jauh jika kugapai hatimu…"

"Usaikan kisahku, letih kuarungi hidup, tak dapat kupilih tiga cinta ini, namun ringankanlah kakiku untuk melangkah, tak ingin sakiti, lebih baik kutinggalkan semua.. sendiri lagi.."

by Melly Guslaw

Sukseskah desentralisasi di Indonesia?

Monday, February 13th, 2006

Banyak orang yang meragukan akan keberhasilan desentralisasi yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 2000. Awalnya, proses menuju ke arah desentralisasi dilalui dengan sangat tergesa-gesa. Maklum, saat itu Habibie sedang dituntut performance-nya untuk menjadi calon presiden yang handal. Walaupun saat itu Habibie sudah menjadi presiden, tapi banyak rakyat menganggap itu hanyalah sebagai ‘by coincidende’ belaka. Maka, dengan kondisi yang menuntut adanya reformasi di segala bidang, jadilah kedua undang-undang yang menopang pelaksanaan desentralisasi ditetapkan. Kondisi itu juga diperparah dengan ‘arahan’ dari lembaga donor internasional yang sangat menggembar-gemborkan implementasi desentralisasi di negara berkembang -dan Indonesia menjadi salah satu sasarannya.

Saat ini sudah memasuki tahun keenam pelaksanaan desentralisasi. Dan, kedua undang-undang yang disahkan pada masa pemerintahan Habibie telah diamandemen pada tahun 2004. Banyak alasan yang mendorong kenapa pemerintah memutuskan untuk mengamandemen undang-undang tersebut. Salah satu motif utama adalah semakin timbulnya kesenjangan atau inequality yang cukup tajam antar daerah. Selain itu, anekdot yang cukup nge-trend tentang definisi desentralisasi versi Indonesia adalah transfer of corruption from central to local government, atau kalo diterjemahkan secara bebas berpindahnya korupsi yang semula berada di tingkat pusat menjadi korupsi di tingkat daerah.

Sebenarnya apa yang salah dengan desentalisasi di Indonesia? System? sudah oke karena seperti  tadi yang saya sebutkan dimuka, dorongan desentralisasi di Indonesia salah satunya adalah tuntutan dari negara donor yang memang sedang menggiatkan kampanye ‘desentralisasi’ ini ke negara-negara berkembang. Oleh karenanya, sistem desentralisasi -baik itu dari segi penyerahan kewenangan, penyerahan keuangan, maupun perangkat yang lainnya- yang di establish di Indonesia, sudah sesuai dengan path yang ada di negara-negara berkembang.

Lalu kenapa gaung desentralisasi sepertinya kurang mendapat tempat dihati sebagian orang? Apakah itu berarti pelaksanaan desentralisasi di Indonesia sudah gagal?

Saya sebenernya cukup optimis dengan sistem yang sekarang sedang diusahakan oleh Pemerintah, walo tidak bisa dibilang sebagai sistem yang ideal. Dari beberapa segi, Pemerintah telah berhasil mentrasfer informasi kepada publik. Dan itu saya pikir merupakan sebuah terobosan yang baik dalam sebuah proses pembangunan. Proses komunikasi yang harmonis dan sinergis antara masyarakat dan pemerintah merupakan sebuah tonggak utama keberhasilan sebuah pelaksanaan demokrasi - yang dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk desentralisasi tadi.

Namun kalo boleh kita ambil salah satu contoh dari negara di Afrika, Uganda-misalnya, dorongan untuk desentralisasi bukan datang dari negara donor atau faktor eksternal, tapi dari komitmen internal -politisi, masyarakat, dan pemerintah- yang berkeinginan kuat untuk membangun sebuah rumah demokrasi yang dikokohi dengan desentralisasi. Bayangkan, negara seperti Uganda dapat hand-in-hand together dalam mengimplementasikan ‘public choice theory’ seperti yang diproposed oleh James Buchanan. Lantas, mengapa negara Indonesia tidak bisa seperti itu ya? Kenapa Indonesia harus dipecut dulu oleh negara donor? Sedih yach..

Mungkin itu salah satu alasan bagi yang pesimis-desentralisasi yang memandang desentralisasi di Indonesia telah gagal (walo saya masih berusaha untuk optimis nich..)

Tapi, dari sekian banyaknya hasil studi tentang desentralisasi di Indonesia dan umumnya di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa pengaruh desentralisasi terhadap pertumbuhan ekonomi, kesenjangan maupun peningkatan partisipasi masyarakat masih belum jelas. Ngga kurang dari ekspatriat dibidang desentralisasi seperti Paul Smoke, Roy Bahl, Anwar Shah, Jorge-Martinez dan kawan-kawannya itu mengungkapkan bahwa ada korelasi positif antara desentralisasi terhadap indikator yang tadi saya sebutkan diatas. Namun ngga kalah studi yang dilakukan oleh Kwan, Ziang, dan yang lainnya (maaf lupa..) mengatakan bahwa justeru yang terjadi adalah korelasi negatif. Nah lho.. bagaimana ini? Apakah ide desentralisasi yang digembar-gemborkan oleh lembaga donor itu sebenernya hanya jargon saja? Hmm.. kalo si Mandra ditanya, mungkin jawabannya ‘Au ah elap’.. hehe..

Tentunya.. ini butuh banyak studi lagi tentang itu.. terutama tentang gimana impactnya di Indonesia. Wah, untuk mendapatkan resultnya, tunggu hasil disertasi saya yach.. nanti saya posting lagi.. hehe.. sekarang ini saya hanya baru mendapatkan segitu aja, dan yach.. apa salahnya disharing (ya ngga??).

Jadi.. seberapa sukses desentralisasi di Indonesia? Mungkin jawaban yang terlintas sama saya pada saat ini adalah kita bisa mengukurnya dengan income distribution antar daerah, bagaimana tingkat pendidikan -apakah sudah menjangkau sampai ke pelosok tanah air atau tidak, apakah dareah terpencil sudah bisa merasakan nikmatnya listrik dan air bersih, atau apakah kesehatan sudah menjangkau rata ke seluruh pelosok tanah air. Karena inti dari desentralisasi adalah ‘internalising cost and benefit’ untuk people.. so, bagaimana mendekatkan pemerintahan kepada rakyatnya, itulah esensi yang terpenting dari sebuah jargon ‘desentralisasi’.

Learn to appreciate of what-we-thought-is-not-important

Sunday, February 12th, 2006

Siang ini saya kembali bereksperimen dalam hal memasak. Karena hari ini hari minggu, tak ada salahnya saya kembali ke dapur untuk sekedar memuaskan aspirasi perut Indonesia saya dengan masakan Indonesia. Sudah hampir seminggu lamanya perut ini cuman diisi sandwich ala inggris kalo pas lunch. Kangen juga dengan masakan Indonesia.

Akhirnya setelah meneliti isi lemari es dan mencermati apa yang tersisa di situ, saya menemukan terong, cabe merah besar, tempe, dan ayam. Hmmm.. tercenung sejenak, kira-kira apa yang bisa dimasak dengan kombinasi semua itu. Setelah merenung sejenak dan mencari inspirasi, akhirnya saya memutuskan akan membuat kombinasi : Terong balado dan Tempe penyet. Ayamnya? Hm.. buat diner aja dech, karena masih frozen gitu, dan butuh waktu lama lagi untuk mengolahnya, padahal perut udah bernyanyi keroncong.

Setelah semua bahan terkumpul, mulailah saya melakukan aktivitas masak-memasak itu, yang jarang sekali saya lakukan waktu saya di Indonesia. Malah kalo boleh dibilang, ngga pernah, kecuali terpaksa karena Staff dirumah pulang kampung .. hehe..

Begitulah, disela-sela saya memotong terong dan tempe, saya teringat Staff saya dirumah. Mungkin beginilah perasaan nya waktu melaksanakan tugasnya menjadi pembantu di rumah saya. Memasak untuk saya. Menyediakan yang terbaik untuk saya… Ngga terbayangkan sebelumnya. Yang terkadang suka muncul adalah perasaan amarah kalo staff saya melakukan kesalahan. Masakannya terlalu asin atau ngga ada rasanya. Atau masakannya ngga enak sama sekali. Padahal, memang susah pekerjaan masak memasak.

Mengapa saya bilang susah?

Bayangkan, untuk bikin terong balado, saya harus ngulek cabe, bawang merah, bawang putih, tomat.. dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Dan untuk bisa menghasilkan ulekan yang halus, saya harus bekerja keras menggerusnya sambil menahan air mata akibat aroma bawang yang memedihkan mata. Duh, sebuah pekerjaan yang ngga gampang. Saya cukup frustrasi karena ngga bisa menghasilkan gerusan yang halus, alhasil si bawang dan si cabe masih dalam kondisi yang cukup terlihat jelas dan ngga kegerus sama sekali.

Belum lagi waktu menggoreng tempe. Berapa kali saya kecipratan minyak panas waktu nggoreng si tempe. Alhasil beberapa titik di lengan saya harus rela diolesi odol, supaya ngga jadi luka. Duh duh.. goreng tempe aja so complicated gitu..

Pelajaran yang saya dapatkan dari memasak hari ini adalah, betapa berharganya jasa staff saya dirumah. Kecil sich sepertinya, tapi kalo tidak ada mereka, ngga tau deh apa yang terjadi sama saya. Mereka memang kelihatannya tidak berdaya .. hanya mengandalkan kebisaan memasak, mencuci, menyetrika, dan mengasuh anak. Mereka ngga punya bekal apa-apa untuk kehidupan mereka. Dan, again, apakah mereka punya cita-cita selain hanya mengabdi untuk majikan mereka?

Ngga terasa, air mata mengalir dari bola mata saya yang mungil dan imut itu (doohh..). Saya menyesal betapa saya kurang menghargai keberadaan mereka. Pekerjaan ngulek terong balado dan menggoreng tempe mungkin hal yang kecil buat mereka, tapi itu sangat berat buat saya. Saya mengagumi betapa kegigihan mereka untuk hidup dan mengabdi pada majikan mereka.

Well.. learn to appreciate of what-we-thought-is-not-important is a new thing that I learn today. I hope it’s not too late to express my apologize if I did wrong things to you, my staff.. Muroh and Suster Pu-ah, and two more.. Suster Maya and Titin.

Platform 9 3/4

Sunday, February 12th, 2006

Platform 9 3/4 .. a famous hidden place towards Hogwarts in Harry Potter. Here, you can look around the wizardry world and find out about the ways in which to travel.

"All you have to do is walk straight at the barrier between platforms nine and ten. Don’t stop and don’t be scared you’ll crash into it, that’s very important. Best do it at a bit of a run if you’re nervous. Go on, go now…"

In order to catch the Hogwarts Express train to Hogwarts, students must board at Platform Nine and Three Quarters at Kings Cross Station. This Platform is not visible to Muggles. In fact, you get to it by running toward the solid barrier between Platforms Nine and Ten, full tilt. Instead of hitting the wall, you’ll find yourself passing under a wrought iron sign that says "Platform Nine and Three Quarters." A guard sits there, monitoring the comings and goings through the portal, making sure that too many people don’t do it at the same time and alarm the Muggles. On days when the train is set to leave for Hogwarts, the Platform is filled with Witches and Wizards saying good bye to their children. Cats and owls are a common sight among the crowd.

…..

This platform is quite interesting for a fanatic fan of Harry Potter, like me :-)
It’s great finding this memorabilia in Kings Cross Station, London..
When I pull my chart towards the platform.. there I go.. Harry Potter’s world..

A Glimpse of Stiglitz from Manchester

Sunday, February 12th, 2006


Having had a lecture from a nobel laurette such as Joseph Stiglitz captured as a momentous moment for me. As a student who is eagered to meeting face-to-face with the ‘free trade for all’ initiator, I am rushed to Manchester just to see the lecture. I got left by the free-of-charge bus, so I had to take out my 18 quids just to purchase the return ticket to Manchester.

However, I managed to be there on time and fortunately I got the front sit. I am so fortunate because I can see Profesor Stiglitz from about 3 metres ahead. Sympathetic with his grey beard and friendly smile, the crowd applaused at his entrance to podium. I am amazed with his charisma, I don’t know why.

The lecture he gave to us mostly based on the ‘Free Trade for all’ book that he proposed. He mentioned about the failure of WTO aggreements which caused problems for developing countries. Uruguay round, Cancun, Washington consensus, Doha round .. all ends with some extent of failures. Based on his research, at about 70% developed countries benefit from the free trade but 30% less developed countries suffered more than before. This has created ‘unity’ between less developed countries to puzzle the jargon ‘trade liberalisation’ and ‘globalisation’ might be effective to foster them into developed country. Having considered that, free trade for all should be seen as the development round that is affected on all, not partially.

Well, I haven’t finished reading his book, though.. Therefore I can’t make proper comment on that. To some extent I agree with him that not every western-idealism might be effective to encounter the problems which underpin less developed countries. Hence, the ‘clinical economic’ proposed by Jeffrey Sachs could be employed to overcome the problem.

A glimpse of Stiglitz has opened my eyes open to brainstorm the ideal way of facing the less developed countries problems. Would free trade be better off for Indonesia or even worse off? Would Porter’ s diamond for national competitive advantage can be combined with Stiglitz free trade for all proposal?

I don’t know..
Another world is still possible…

Evening trip to Old Trafford

Sunday, February 12th, 2006


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di negaranya ratu Elizabeth ini, sudah terbayang di mata mengunjungi stadion bola. Maklum, dulu sempet ngefans banget sama olahraga yang satu ini..

Ngga terkecuali dengan Old Trafford yang menjadi salah satu sasaran pemuasan nafsu saya dalam rangka pemenuhan visa sebagai full-time turis. Setelah menunggu sekitar 4 bulan (lama banget bo), akhirnya sempet juga menjajagi kaki di Old Trafford. Klasik banget sich alasan kenapa baru sekarang ke Old Trafford .. apalagi kalo bukan pekara assignments dan reading list yang setumpuk. Maklum, walaupun visa saya full-time tourist dan part-time student, tetep aja naluri kepengen belajar tetep menggebu-gebu, akhirnya saya jadi terjebak ama rutinitas seputar tempat kos-priorsfield-library..

Hari itu, saya melongok stadion Old Trafford bersama Tim Badminton yang sedang bertandang ke Birmingham dalam rangka All England. Ada mas Icuk Sugiarto, Sigit, Chandra, Grace, Hendra. Dari Tim Birmingham ada Pak Surya dan Donke. Kami bertolak dari Birmingham sekitar jam 3 dengan jarak tempuh sekitar 2 jam via motorway.

Saat mobil memasuki pelataran parkir stadion Old Trafford, mulut saya sudah ternganga dengan papan bilbord segede gajah bertuliskan "Manchester United". Duh duh… my dream akhirnya comes true.. Yang tadinya cuman keliatan di TV akhirnya sekarang bisa dilihat dengan mata kepala sendiri.. Decak kagum juga bergumam diantara segenap All England players.. Maklum, dari kesekian kalinya mereka bertandang ke Birmingham, baru kali ini mereka bisa berkesempatan mengunjungi Old Trafford.

Dilihat dari segi fisik, stadionnya MU ini so usual sich, ngga ada yang special. Namanya juga stadion bola, yang ada cuman gedung berbentuk lingkaran yang tengahnya bolong. Dari segi ukuran, ngga lebih gede dari Stadion Senayan lah. Tapi ditata sedemikian apik sehingga banyak turis yang bela-belain datang untuk sekedar foto-fotoan aja di depan stadion ini.

Memasuki reception, kami sudah disambut sama logo Manchester United yang gede banget.. Akhirnya kami menyempatkan diri untuk potret bersama (kayak foto yang di publish ini nih). Receptionnya ramah dan membolehkan kami potret-potret.. maklum, dengan muka memelas gitu kami meminta ijin untuk potret. Ngga kalah heboh, Mas Icuk (yang udah uzur gitu, hehe) juga ikutan foto bareng.

Ohya, salah satu yang menarik di stadion ini yaitu MU Outlet. Di Outlet ini dijual merchandice MU yang kalo di Indonesia harganya selangit gitu. Harga disini katanya sich lebih murah dibandingkan Outlet di luar Manchester (walo diconvert ke rupiah masih aja tetep mahal bo). Saya ngga sempet beli sich karena pas mau ke situ dah keburu tutup toko nya. Sebel euy!

Tapi ada satu hal yang bikin saya sempet pusing. Toilet wanita. Ngga di Inggris, ngga di Jakarta, kondisi Toilet wanita tetep aja menyedihkan. Kotor, bau, jorok.. Apalagi kondisi toilet di Inggris gini yang ngga ada air untuk membersihkan, makin menambah pusing kepala aja. Hanya karena keharusan dan ngga bisa ditahan lagi, akhirnya dengan berat hati saya memasuki toilet wanita di Old Trafford itu.

Well, setelah satu jam asik melihat-lihat suasana Old Trafford ditengah udara Manchester yang dingin banget, akhirnya kami memutuskan pulang kembali ke Birmingham. Dalam perjalanan pulang saya sempet mencontreng Old Trafford dalam daftar pencarian nafsu sebagai Full-Time Tourist saya..