Gloomy sunday
Sunday, February 12th, 2006Minggu pagi rasanya males banget untuk beraktivitas. Kepengennya nongkrong di depan tivi atau melototin screen laptop. Padahal .. duh duh .. ngga kreatif banget sich jadi anak muda! Jalan keq, cari inspirasi keq.. Ya, paling ngga baca buku keq..
Tapi mau jalan.. duh, Inggris ini dingin banget bo. Mau keluar pake jaket tebel tapi segen, mau keluar pake jaket gaul yang tipis semriwing tapi dingin banget. Serba salah kan. Mau keluar bawa mobil tapi bayar parkirnya mahal abis, tapi mau keluar naik bus musti jalan kaki ke bus stop. Emangnya kayak di Indo yang bisa naik bis darimana ajah.. hehe.. Duh kalo udah inget gitu, gue jadi kangen banget ama Indo. Enak banget bisa sesuka hati naik bus dari tempat mana aja dan bisa berhenti dimana aja. Belum lagi ada bajaj dan tukang ojek yang sangat berjasa sekali kalo pas gue dah telat atau dah nenteng barang belanjaan segambreng gitu.
Gimana khabarnya si abang bajaj dan tukang ojek ya?
Apa mereka masih setia menunggu klien di setiap pengkolan jalan ibukota? Ngga peduli ujan, panas, siang, malam .. mereka selalu setia menanti klien mereka. Kadang gue kagum dengan mereka. Begitu survive dengan kehidupan seperti itu. What for? Ya untuk makan lah dan tentunya sebagai bentuk responsibility mereka kepada keluarga mereka. Isteri tercinta, dua anak atau lebih (maybe). Sukur-sukur bisa menabung untuk cicilan rumah setelah dipotong dengan cicilan motor yang sekarang dipake untuk ngojek. Apa mereka punya cita-cita ya?
Tentu, mereka punya cita-cita.. gue pernah ngobrol sama salah satu tukang ojek yang biasa mangkal di perempatan Slipi Jaya. Dulu waktu mobil gue lagi sering di bengkel, gue sering numpang ojek sama abang jali. Orangnya ramah banget dan suka ngasih gue diskon (hehehe). Abang Jali punya 2 anak yang masih SD, satu kelas 6 SD dan yang satunya lagi masih kelas 3 SD. Abang Jali ini keluaran STM Penerbangan dan isterinya keluaran SMA swasta di salah satu kecamatan di Jakarta Barat. Waktu masuk STM itu, Abang Jali bercita-cita ingin menjadi montir yang handal. Dia ngambil STM dengan harapan begitu keluar sekolah langsung bisa kerja dan melanjutkan cita-citanya itu. Tapi apa daya, kalah saingan dan ngga punya chanel yang bisa membawa dia ke bengkel idamannya membuat Abang Jali terpaksa menjadi montir bagi motor bebeknya sendiri. Sedih memang, tapi ya apa daya.. begitulah kenyataan pahit yang harus dialami orang kecil seperti abang jali itu.
Tapi abang jali ngga menyerah sampai disitu. Dia masih punya cita-cita. Terhadap anaknya tentunya. Dia dan isterinya bekerja mati-matian supaya anak-anak mereka bisa meneruskan cita-cita mereka. Isteri Abang jali kerja serabutan, mulai dari tukang cuci pakaian, bantu-bantu rumah tetangga, dan paginya berdagang nasi uduk di depan rumah. Sungguh tipikal keluarga yang pekerja keras. Kalo dari obrolan saya dan bang Jali sih, tujuan hidup keluarga mereka simple banget, Bang Jali dan isterinya kepengen anak-anak mereka masuk perguruan tinggi dan jadi pegawai negeri. Mungkin bagi sebagian kita merasa, ‘duh apalah artinya cuman perguruan tinggi doang’ apalagi dengan kata ‘pegawai negeri’, banyak banget anak orang-orang kaya yang anti dengan kata-kata itu. Buat apa jadi pengawai negeri? Ngga mutu
Tapi sisi lain kehidupan (seperti kehidupannya bang jali dan keluarga) menunjuukan bahwa sebuah nilai akan sangat berarti tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Dalam kaca mata bang jali dan keluarga, masuk ke perguruan tinggi merupakan sebuah gerbang untuk ke arah masa depan yang lebih cemerlang. Apalagi bisa masuk ke pegawai negeri, mungkin bagi sebagian orang seperti abang jali akan melihat sebagai sebuah prestise tertinggi yang mungkin bisa diraih untuk ukuran orang-orang seperti mereka.
Ngga cuman Abang Jali aja yang punya pikiran seperti itu. Masih banyak (mungkin) abang jali-abang jali yang lainnya yang mempunyai ‘narrow’ objective seperti itu. Tapi sense of value nya sangat tinggi sekali. Itulah the ultimate achievement yang mereka harapkan.
Kembali mengingat fenomena yang ada di negeri sendiri tentunya sangat menarik untuk dijadikan sebuah refleksi diri, untuk sekedar mengingatkan, untuk sekedar memberitahu, dan mencoba meng-overcome. Walaupun kita ngga bisa sedramatis itu untuk melakukan perubahan, teteapi perubahan cara berpikir dan pola pandang kita akan membuat kita semakin mature dan tentunya suatu saat kalo kita sudah bisa menduduki posisi puncak di pemerintahan (amin), kita bisa mengaktualisasikan apa yang pernah terpendam dalam alam bawah sadar kita dan pas lagi ngelamun gini di hari minggu yang gloomy..
Well.. gloomy sunday ngga sepenuhnya gloomy.. masih ada secercah harapan akan sinar mentari menyinari Birmingham, walau hanya secuil sinar.