Dear Aji dan Bila
Tuesday, March 14th, 2006Dear Aji dan Bila
Hari ini kembali Bunda menangis. Menangisi ketiadaan Bunda disisi kalian. Menangisi kealpaan Bunda untuk mengecek makanan kalian waktu sarapan tadi. Menangisi ketidakhadiran Bunda saat Pak Wawan menjemput kalian ke sekolah..
Terkadang Bunda menyesali diri Bunda. Keegoisan Bunda telah merampas kebahagiaan kalian untuk bisa mendapatkan kasih sayang dari Bunda. Keegoisan Bunda telah membuat kalian harus diantar si ‘Uwok’ saat kalian sekolah, pergi ke TPA, bahkan mengambil Raport hasil evaluasi belajar kalian. Maafkan Bunda atas keegoisan Bunda ini.
Aji, Bila..
Bunda tahu, Bunda yakin, kalian adalah anak-anak yang sangat tegar. Bahkan lebih tegar daripada Bunda. Ketegaran kalian membuat Bunda malu.. malu karena kalian adalah anak-anak yang sangat hebat. Kalian adalah anak-anak yang sangat mandiri. Kalian bisa belajar dan bertindak dengan mandiri, tanpa kehadiran Bunda disisi kalian. Kalian tidak malu saat teman-teman kalian mengejek karena ketiadaaan Bunda disisi kalian. Bahkan, khusus untuk Bila, kamu tidak protes saat Bunda tidak ada pada saat ulang tahun mu yang ke-enam..
Aji, Bila..
Entah penghargaan apa yang bisa Bunda berikan untuk kalian berdua.. Mungkin surat ini saja yang bisa mengungkapkan penghargaan Bunda atas pengorbanan yang telah kalian berikan untuk Bunda, untuk keegoisan Bunda. Someday, kelak kalian dewasa, semoga kalian bisa memaafkan ketiadaan Bunda di sisi kalian selama lima musim ..
Sayang..
Buliran air mata Bunda.. mengiringi doa Bunda untuk kebahagiaan kalian, dan harapan Bunda untuk kebersamaan kita lagi, September nanti.
Selamat tidur, anak-anak ku.. Mimpi indah.. Cium hangat untuk kalian selalu..
-Bunda-
