Archive for April, 2006

Medium-Term Expenditure Framework

Saturday, April 15th, 2006

Jakarta_euy Salah satu reformasi budgeting yang sedang menggejala di berbagai belahan dunia adalah Medium-Term Expenditure Framework (MTEF). Metode ini sangat gencar diadvokasi oleh lembaga donor seperti World Bank dan IMF. Dengan jargon sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan sebuah ‘Poverty Reduction Strategy Programs’, kedua lembaga donor tersebut meng-enforce negara-negara yang menerima bantuan dari kedua institusi tersebut untuk mengimplementasikan MTEF dalam proses penyusunan dan pengimplementasian budgeting mereka.

Sebenarnya, apa sich MTEF itu? Menurut definisi dari World Bank (1998), MTEF merupakan sebuah kerangka berpikir yang mensinergikan antara perencanaan (dari sisi penerimaan dan pengeluaran pemerintah), pelaksanaan anggaran, dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara untuk tahun bersangkutan dan beberapa tahun yang akan datang. Sekilas sich sama dengan bentuk metode budgeting biasa, tetapi yang membedakan adalah proses kesinambungan dari sebuah public expenditure management. Dengan demikian, yang difokuskan tidak hanya bersifat short term saja, tetapi juga kepada broad policies untuk jangka menengah. Dalam MTEF, unsur terpenting yang harus dilakukan adalah institutional arrangements. Unsur penentu kebijakan dibidang perencanaan dan finance sebaiknya diintegrasikan untuk mempermudah dalam proses pengelaborasian broad policies tadi.

Mengapa MTEF menjadi penting? Pertama, menjamin predictability. Dengan berbasiskan metode 100_1486 forward estimates aggregate resources, unsur predictability menjadi lebih mudah untuk diraih. Kendala yang selama ini dialami oleh negara berkembang adalah overly estimates terhadap proyeksi penerimaan negara. Sementara itu, sikap yang terlalu optimis ini tidak dibarengi oleh kapasitas ‘pemungut’ pajak ataupun tax potential itu sendiri. Di sisi pengeluaran, terdapat perbedaan pandangan antara Ministry of Finance dan  Line ministries, dimana MoF menganggap bahwa expenditure estimation tergantung pada "availability", sementara Line ministries umumnya melakukan estimasi terhadap iberdasarkan "needs". Mismatch perception ini kerap menimbulkan friksi dalam proses penyusunan anggaran.

Dengan mengimplementasikan MTEF, kemungkinan konflik tersebut bisa diperkecil. Dengan mengkonstruksi sebuah kerangka kerja dan prioritas jangka menengah yang mendeskripsikan broad policies untuk -at least- lima tahun ke depan, hal ini akan lebih memudahkan dalam melakukan kontrol terhadap uang publik. Khusus bagi bagi MoF, kondisi ini akan mempermudah dalam mengenalkan istilah ‘hard budget constraints’ kepada line ministries.  Hal ini karena penyakit yang selama ini menjalar di negara berkembang adalah line ministries cenderung melakukan rent-seeking behaviour dalam menetapkan anggaran belanja mereka. Kecenderungan untuk tidak efisien dan memaksimalkan anggaran pengeluarannya, membuat MoF kesulitan dalam mengatur uang negara tersebut. Terkadang upaya ‘pemotongan’ anggaran line ministries tersebut dianggap sebagai upaya ‘pengurangan’ kualitas atas public service, padahal dari kaca mata MoF, segalanya tergantung availability keuangan negara. Makanya, MTEF menjembatani konflik tersebut melalui perencanaan yang berkesinambungan dan terkontrol, dan lebih penting lagi, menjamin predictability dalam resource flows dan kriteria untuk public expenditure.

Kedua, meningkatkan kualitas dalam pengambilan kebijakan. MTEF menjamin terbentuknya sebuah mekanisme untuk sarana konsultasi dan debat antara MoF, line ministries, parlemen, dan civil society (salah satu bentuk citizen participatory dalam budgeting). Dengan adanya serangkaian diskusi dan pembahasan yang ’sehat’ antara para pengambil kebijakan tersebut, kualitas proses penyusunan anggaran tersebut dapat legitimate. Untuk itu, para ekspatriat di WB dan IMF menyebut MTEF sebagai sarana untuk me-legitimate proses pengambilan kebijakan.

Daerahkumuh Ketiga, MTEF juga terbukti dapat menjadi sarana untuk mekanisme transparansi dan accountability. Pengalaman di negara-negara berkembang yang telah mengadopsi MTEF (seperti South Afrika dan Uganda) menunjukkan bahwa MTEF terbukti meningkatkan audit trail dalam rangka meningkatkan akuntabilitas publik. Bentuk dan jabaran anggaran negara ke dalam sebuah konstruksi berdasarkan fungsi (organisasi), program, kegiatan, dan jenis belanja dari sisi nilai ekonomi membuat penganggaran berdasarkan MTEF ini memberika ruang gerak bagi MoF, Parlemen, dan civil society dalam melakukan check and balances terhadap kinerja dan performance line ministries.

Namun, tidak semua model sempurna. Problem yang mungkin ditimbulkan dari information assymetry antara MoF dan line ministries dapat mengganggu kesinambungan dalam proses kerja sama antar instansi tersebut. Sebuah kondisi yang menempatkan MoF sebagai planner sementara  line ministries sebagai administrator, membuat distance antara MoF dan line ministries. Bila kondisi ini tidak di-overcome melalui sebuah rekonsiliasi politik, maka problem assymetry tersebut agak sulit untuk diminimalisasi.

Permasalahan yang lain adalah dibutuhkannya kombinasi antara top-down dan botton-up decision yang harmonis. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang kapabel untuk bisa mengelaborasi kedua pendekatan tersebut. Pentingnya informasi yang valid dan reliable, juga menentukan keberhasilan pengimplementasian MTEF di negara berkembang.

Permasalahan lain yang cukup penting adalah political will. Tanpa komitmen politik yang cukup tinggi untuk menerapkan MTEF, maka mustahil MTEF akan berlaku secara efektif. Mengapa ini menjadi sebuah bentuk permasalahan? Hal ini karena the nature of MTEF itu sendiri yang menjamin tercapainya akuntabilitas publik  melalui audit trail tersebut sehingga menyebabkan dibutuhkannya political commitment dari kalangan eksekutif, legislatif, dan judikatif. Tentunya hal ini akan sangat ‘membahayakan’ bagi para rent-seeker yang mengambil ‘keuntungan’ dari uang publik. Political commitment juga terkait dengan bekerjanya law enforcement sehingga memungkinkan proses akuntabilitas publik ini dapat terlaksana.

Dari uraian tersebut kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna.  Sebuah model akan diperbaharui lagi dengan model yang lainnya karena adanya kelemahan terhadap model tersebut. Begitu seterusnya sampai ditemukan metode yang terbaik yang dapat mengakomodasi kemungkinan kelemahan yang mungkin ditimbulkan. MTEF belum tentu merupakan model yang terbaik untuk menyusun, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan anggaran negara, tetapi konsep dasarnya yang mengedepankan prinsip kesinambungan, transparansi, dan akuntabilitas sangatlah menarik untuk dikaji lebih lanjut.Anak_indo

Tips untuk mengusir kesepian di negeri orang

Saturday, April 15th, 2006

Aditya Semua orang yang berada jauh dari keluarga, teman-teman, pacar, suami, Ari isteri, tentunya pernah merasakan situasi dimana ia merasa sepi dan empty -walaupun banyak orang disekelilingnya. Ngga terkecuali saya, yang sedang menata hidup dan kehidupan saya di negeri Prince William ini. Suasana sepi, empty, lonely, kerap menghinggapi saat sendiri saya. Ngga jarang buliran air mata menetes kala mengingat anak-anak dan keluarga saya yang terpaksa harus saya tinggalkan, betapa berharganya arti pertemanan dengan Ari, Andini, Syadam, Eko, dan Adit selama kami menjalani rutinitas di departemen keuangan, dan betapa berharganya arti seorang tukang bakso, tukang somay, tukang pempek, dan tukang ayam bakar langganan saya. Andini

Eko Saat saya merasakan kegundahan seperti itu, kerap pula saya menjerit dan melarikan angan saya sekencang-kencangnya ke dunia maya yang bernama indonesia. Namun, semuanya ngga bisa membuat saya menghilangkan rasa sepi dan empty tersebut.

Untuk mengurangi kegundahan saya, ngga ada gunanya cuman nangis dan teriak-teriak. Ngga produktif dan cuman nyakitin diri sendiri. So, saya mencoba menganulir kebodohan itu dengan melakukan hal-hal berikut : Sadam_1

  • rajin meng-update blog. Ini bisa dijadikan sarana untuk menumpahkan segala macam keluh kesah yang saya rasakan. Blog merupakan sebuah diary untuk saya, dimana saya bisa mengekspresikan seluruh keinginan saya. Dengan rajin meng-update blog, saya sedikit terhibur, paling engga, saya punya kegiatan produktif, yaitu dengan menulis. Ya, siapa tahu dari blog ini bisa dijadikan ‘memoirs’ di kemudian hari ..
  • rajin mengeksplore. Kebetulan saya hobi banget travelling sendiri yang menguji ketahanan saya dalam mengeksplorasi segala sesuatu. Dari dulu sampe sekarang, saya suka banget travelling by myself. Selain bisa mengoptimalkan kemampuan saya dalam survival, saya juga bisa semakin confidence dalam menghadapi masalah. Walau ngga jarang sich kesendirian dalam ber-travelling malah membikin semakin mellow aja, tapi ngga jarang pula justru itu menjadi obat untuk mengatasi kesepian. Travelling disini ngga melulu harus keluar kota gitu, bisa juga di sekeliling kita. Seperti tadi pagi, saya mengeksplore kampus saya -Birmingham University- ditengah keheningan. Saya baru sadar betapa ‘jam gadang’ yang berdiri dengan megah di kampus saya ternyata menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Ditambah dengan mulai bermekaran daffodils yang semakin menambah semarak suasana kampus saya pagi itu. Saya terus mengeksplore sampai pada satu titik saya mendapatkan angle keindahan kampus saya. Melihat semuanya itu, sejenak saya merasa bangga dan bahagia bahwa saya saat ini menjadi bagian dari sebuah bangunan megah dan indah ini… dan kelak kenangan ini akan saya bawa sepulangnya saya dari sini..
  • nonton telly. Ini terbukti cukup ampuh untuk mengusir sepi saya. Kalo saya lagi sedih dan sendiri, saya kerap nonngkrong di depan telly, gonta ganti channel dan langsung pencet paramount comedy1 (nomer 130 buat pelanggan telewest). Banyak banget komedi yang lucu-lucu yang bikin saya ketawa dan rileks. Sitkom ‘Stacked’ yang dibintangi Pamela Anderson itu super duper kocaknya. Dengan penampilan ‘huge boops’ nya itu, Pam udah berhasil memancing saya untuk ketawa dan ngga mellow. Trus, kalo dah bosen dengan komedi, saya pindah ke channel yang lebih serius, biasanya di Hallmark (nomer 190) disajikan film-film yang lumayan asik-asik. ‘Bravo’ juga kadang-kadang menyuguhkan film yang seru pula, walo kalo dah tengah malam berubah menjadi adult channel gitu… hehehe. Intinya, nonton telly bisa membuat urat syaraf yang tegang bisa kendur lagi… (maaf, tips ini berlaku buat yang punya telly.. hehehehe)
  • Exercise. Ini cukup ampuh untuk mengurangi stress dan tentunya membuat badan jadi fit. Kebetulan saya suka berenang, dan biasanya saya berenang di Aston Uni. Kolam renangnya lumayan bagus, bersih, dan tentunya hangat… Ini membuat saya semakin betah untuk melakukan exercise. Thanks banget buat Donke yang udah mengenalkan saya dengan kolam renang di Aston Uni ini.. Dhonke kangen sama kamu….
  • Mengingat tuhan. Tentunya ini menjadi aji pamungkas saya dikala sepi dan merana. Ngga ada tempat kembali selain kembali ke hadapan Tuhan.. Dengan kembali mengingat Dia dikala saya sedih dan gulana, seketika hati saya tenteram dan damai. Kembali berada dalam pangkuan Nya membuat saya merasa saya adalah orang yang paling beruntung di muka bumi ini. Diberikan anugerah sedikit kepintaran sehingga bisa mendapatkan scholarship, diberikan anugerah wajah yang cukup enak dipandang mata sehingga membuat saya confidence enough untuk bersocialise, diberikan anugerah anak-anak yang begitu lucu dan pinter, diberikan keluarga yang penuh supportive, diberikan anugerah bos-bos yang begitu baik dan pengertian, juga diberikan teman-teman yang selalu sayang dan care sama saya. Semuanya itu bangkit setelah saya kembali mengingat Nya. Mengingat semua nikmat yang telah saya peroleh dan ngga boleh saya sia-sia kan.

Dsc00504 Mungkin itu sedikit tips saya untuk mengurangi rasa sepi, empty, dan gundah saya selama berada di UK. Dan yang terpenting, enjoy your life.. don’t make it complicated, coz the nature of life is already complicated.

Lagipula, September 2006 tinggal 5 bulan lagi…

Sekelumit Kisah tentang Sebuah Negeri Bernama “Estonia”

Saturday, April 15th, 2006

Eestimapbmp Estonia -sebuah negara bekas persekutuan Soviet Union- dapat dijadikan sebuah potret ‘the winning of the youth’. Setelah menyatakan keluar dari Soviet Union pada tanggal 20 Agustus 1991, Estonia telah berhasil membentuk wajahnya menjadi sebentuk ‘gadis’ cantik yang siap disunting oleh para jejaka. Sebagai result dari upaya si ‘gadis’ mematut dirinya, pada tahun 2004 lalu Estonia telah resmi menjadi salah satu anggota European Union dan NATO.

Negara seluas 633 km dengan penduduk sekitar 1,4 juta dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar -0,64%  ini telah mampu bangkit dari keterpurukan akibat kolapsnya Soviet Union. Reformasi di bidang perekonomian dan perdagangan, khususnya, ditekankan kepada modern market economy yang berorientasi pada pasar, terutama pasar Eropa. Penetrasi teknologi dari negara tetangga -seperti Sweden dan Findland- memberikan advantage tersendiri bagi Estonia sehingga memudahkan ruang gerak dalam melakukan inovasi tekhnologi. Saat ini Estonia sudah berhasil mengembangkan berbagai tekhnologi yang cukup dikenal dikalangan per-tekhnologian. Skype, misalnya, adalah salah satu contoh inovasi tekhnologi berasal dari negara yang bermottokan "United We Stand" ini.

Tak terkecuali itu, free movement of labour -seiring dengan accession to EU-  memungkinkan perpindahan tenaga kerja Estonia ke negara-negara kawasan Eropa. Hal ini cukup membantu mengurangi tingkat pengangguran di negara tersebut menjadi hanya sebesar 9.2% tahun 2005. Semua ini membuat pertumbuhan ekonomi Estonia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu 7.4% pada tahun 2005, bahkan termasuk yang paling tertinggi di antara negara Eropa. Tallin_1

Selain tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan tersebut, ada satu hal cukup menarik perhatian saya selama 7 hari lawatan ke negeri yang terkenal dengan ‘Medieval’ style nya tersebut, yaitu kebangkitan angkatan muda Estonia di berbagai sektor perekonomian. Terlebih lagi di sektor pemerintahan. Dalam kunjungan saya ke beberapan instansi pemerintahan, betapa tercengangnya saya mendapati orang-orang yang saya kunjungi ternyata seperti ‘teman sebaya’.

Ello -salah satu Deputi di Ministry of Economics Affairs- adalah contoh anak muda yang menduduki posisi papan atas di pemerintahan. Ello, yang ternyata salah satu alumi Chevening Scholar tahun 2001, dapat menduduki posisi strategis bersama dengan kawan-kawan muda lainnya. Tugas dan tanggung jawab mereka cukup besar, terlebih lagi saat Estonia sedang menggeliat dan mencari perhatian dari EU dan NATO untuk menyunting negara tersebut. Serangkaian negosiasi harus dilakukan oleh Ello dan kawan-kawannya. Dalam kesempatan informal kami sewaktu dinner di restoran ‘Olde Hansa’ (restoran ala zaman Medieval), saya sempat bertanya sama Ello apakah ia mengalami kesulitan waktu melakukan negosiasi dengan para ‘tetua’ yang ada di EU dan NATO. Dan, Ello dengan confidence menjawab bahwa pada awalnya rasa kesulitan tersebut tetap ada karena mereka dianggap sebagai sebuah negara yang belum mature karena di-manage oleh kalangan muda yang terkesan ‘minim’ pengalaman dalam mengatur negara. Tetapi dengan tekad dan kapasitas yang mereka miliki, mereka bisa memposisikan diri mereka secara sejajar dan profesional. Saya cukup bangga mendengar hal tersebut, karena terbukti bahwa ‘anak muda’ yang katanya minim pengalaman ternyata bisa memerintah sebuah negara.

Interest saya ngga berhenti sampai disitu. Setelah mengunjungi Ello dan kawan-kawannya, saya mengunjungi rekan-rekan di Ministry of Finance.  Begitu saya memasuki ruang rapat, saya disambut oleh petinggi di kementrian finance yang, lagi-lagi, sebaya dengan saya. Klas Klaas, nama si pemberi ceramah buat saya di siang itu. Begitu mendengar dia memperkenalkan nama antiknya tersebut, sejenak saya tertawa kecil karena nama tersebut memiliki kesamaan dengan nama sunda yang cenderung melakukan repetisi, seperti ‘ajat sudrajat’, hehe.. Anyway, saat dia berceramah mengenai proses accesssion Estonia ke EU yang melalui proses yang cukup panjang dan njlimet, diam-diam saya menuliskan sesuatu dalam notebook saya, "kenapa orang-orang muda ini bisa masuk ke dalam posisi strategis di pemerintahan?"

Cityscuare Sungguh menarik melihat fenomena kebangkitan para pemuda di Estonia. Saya semakin penasaran, apakah ini juga berlaku di private sector. Akhirnya saya melangkahkan kaki ke sebuah enterprise yang merupakan sebuah foundation untuk mengembangkan entrepreneur skala kecil dan menengah. Saya bertemu dengan Sigrid, Direktur Enterprise Estonia, yang menurut saya sangat kompeten dalam memberikan pencerahan kepada saya tentang yayasan ini yang sudah berhasil mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat Estonia. Sigrid, seorang perempuan usia 35 tahun, dengan cakap dan confidence menjelaskan bahwa mereka saat ini sedang melakukan pendekatan kepada segenap rakyat Estonia untuk bersama-sama mengembangkan perekonomian Estonia. Saya cukup tergelitik saat Sigrid menceritakan sebuah success story sekelompok anak muda Estonia yang kreatif membentuk company yang memproduksi perahu kayak. Dengan bermodalkan kemauan keras dan daya kreativitas, sekelompok anak muda tersebut telah berhasil mengembangkan bisnis mereka sehingga produk mereka sudah diekspor ke manca negara. Usaha-usaha enterpreneurship seperti ini, menurut Sigrid, sangat perlu untuk menggiatkan perekonomian Estonia.

Menilik hikmah dari perjalanan saya ke institusi-institusi tersebut, saya hampir tidak melihat kegagalan yang cukup signifikan. Korupsi, yang menjadi duri dalam daging bagi pengelolaan sebuah negara, rasanya sangat minor. Saat saya mengunjungi sebuah LSM yang  bergerak dibidang research economic and development Estonia, saya menemui seorang researcher muda dan ganteng bernama Tarmo Kalvet. Tarmo, yang merupakan jebolan PhD dari UK, mengungkapkan bahwa tingkat korupsi di Estonia sangatlah rendah, bahkan hampir tidak terdengar. Dengan sallary civil servant yang cukup tinggi -bahkan equal dengan private sector- Tarmo bahkan tidak mengungkit masalah korupsi bisa membayangi pengelolaan keuangan di Estonia.

Interesting sekali bukan? Dengan jumlah sallary yang cukup fair serta pemberdayaan angkatan muda di jabatan strategis pemerintahan, tingkat korupsi di Estonia sangatlah minim. Selain itu, peraturan di bidang pengangkatan dan pemberhentian pegawai negeri juga dibuat se-fleksibel mungkin. Sistem rekrutmen civil servant tersebut tidak bersifat ‘life time employment’ sehingga turnover ke sektor swasta ataupun institusi lain sangat lah memungkinkan bila si PNS tersebut memutuskan ingin keluar dari institusi pemerintahan. Mari, seorang konsultan cantik berusia 36 tahun yang semula serving for the ministry of finance, bertutur bahwa ia sangat beruntung mendapatkan kesempatan berkarir di kementrian finance selama 4 tahun, sehingga saat ia memutuskan ingin menjadi konsultan di EU, ia menjadi lebih confidence. Mari, potret perempuan muda Estonia -yang merupakan salah satu penerima Chevening Scholar untuk tahun 2007- merasa bahwa empowerment terhadap angkatan muda di Estonia telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap Estonia dalam melakukan penetrasi kepada pasar Eropa and the rest of the world.

Estonia, yang baru merdeka tahun 1991, telah mencapai GDP per capita sebesar $16,400 di tahun 2005. Hikmah atas keterpurukan Soviet Union seakan memacu negara tersebut untuk terus memoles dirinya untuk menjadi bagian dari ‘dunia’. Angkatan muda Estonia yang me-manage negara kecil tersebut terus melakukan inovasi dan reformasi yang tak berujung (begitu kata Tarmo). Yah, kita doakan saja semoga angkatan muda tersebut tidak gamang ditengah godaan globalisasi dan kapitalis yang semakin menggila.

Apakah Indonesia bisa mengikuti jejak Estonia dalam memberikan empowerment terhadap angkatan muda di institusi pemerintahan? Well, doakan saja salah seorang penerima Chevening Scholar ini (saya, red.. hehe) bisa mewujudkan mimpi itu… 

Rotation_of_tallinn_058

Ohya, ada satu hal lagi yang mengingatkan saya pada Indonesia waktu saya di Estonia. Saat saya mengunjungi Tartu, kota kedua terbesar setelah Tallin, saya menyempatkan diri mengunjungi proyek-proyek yang dibiayai dari EU fund, yaitu antara lain proyek pembangunan Museum Toys. Begitu saya menyusuri koridor lantai 2 yang menampilkan koleksi mainan dari berbagai negara, saya terhenyak begitu melihat ‘wayang kulit’ dan ‘wayang golek’ juga menjadi salah satu bagian dari koleksi mereka. Tak terkecuali itu, sebuah boneka dari Papua ikut menjadi bagian dari koleksi mereka… Wah, saya cukup surprais menyaksikan pemandangan itu. Wayang kulit -yang udah out of date- ternyata cukup dihargai di negeri kawasan NORDIC tersebut. Hebat lah Indonesia…