Archive for August, 2006

Arti Sebuah Kebersamaan

Tuesday, August 29th, 2006

Ngga terasa waktu berjalan begitu cepat. Hampir setahun aku sudah di UK. It’s time to go back. Gank_of_fiveFacing the reality and meeting the old friends. Meninggalkan semua cerita di UK, meninggalkan teman2 tercinta selama di UK. Teman-teman yang selalu menghiasi hari-hari kelabu gue. Tema n2 yang selalu ada di samping gue kalo gue butuh.

Besnik, Marina, Mariella, Christiana, Mellisa..they are my best mates ever from Kosovo, Bolivia, Peru, Jerman, and Venezuella.

Minggu kemarin, Besnik sudah lebih dulu meninggalkan kami. Dia harus pulang ke Kosovo dan mungkin baru akan kembali pas graduation nanti.

Besnik adalah sahabat yang kami sayangi. Aku, Marina, Mariella, Christiana, dan Mellisa adalah thBesnik_chris_mariellae Besnik’s girls. Kami sudah sahabatan sejak awal kami masuk di IDD. Banyak suka, cerita, duka sudah kami alami sama-sama. Kini Besnik telah pergi ke negara nya. Sebentar lagi, my lovely Chris and Marina juga akan pergi. Oh God, ngga tau perasaan aku jadi ngga keruan gini. Serasa ada sesuatu yang missing yang ngga mungkin bisa terdeskripsikan. Mereka sudah seperti jadi bagian dalam diri aku dan sekarang semua nya dicabut dari aku. Entah kapan aku bisa bersama-sama mereka lagi.

Kebersamaan dan persahabatan dengan mereka ngga ternilai dengan apapun.With_besnik Jadi, walau pun Kosovo, Peru, Venezuella, Bolivia, Jerman dan Indonesia sangat berbeda kultur, bahasa dan jarak, tapi kebersamaan itu tetap ada dan akan selalu ada. Kebersamaan yang akan selalu membawa kenangan akan indahnya menjalani hari-hari di UK.

Selamat jalan sahabat-sahabatku..Me_christiana Hasta Luego, and till we meet again…. God Bless you all…

Oleh-oleh dari Budapest

Thursday, August 24th, 2006

Pic_0104 Cerita ini berawal dari lawatan saya beberapa waktu lalu ke Budapest, ibukota Hungary. Saya menyempatkan diri untuk meng-explore kota terindah di  Central Europe itu selama 2 minggu.

Budapest sangat indah. Dengan Danube river-nya. Dengan Buda var-nya. Dengan danau Balaton-nya. Dengan keramahan orang-orangnya.

Sebelum saya memutuskan diri untuk berlibur di Budapest, terbayang betapa angkuh Pic_0075 dan arogannya orang-orang Eropa Timur dengan stigma eks-negara komunis. Entah mungkin persepsi itu hasil dari propaganda Amerika yang sudah berhasil ditanamkan di benak saya, ataukah memang kenyataan nya seperti itu.

Tapi, alangkah terkejutnya saya melihat kenyataan yang sebenarnya. Budapest dan orang-orangnya sangat ramah. Walau mereka memang jarang tersenyum -itu mungkin sudah default mereka- tetapi perilaku mereka tidak se-angker propaganda Amerika tadi.

Satu hal yang membuat saya kagum. Negara tersebut baru mulai menggeliat dari keterpurukan Uni Sovyet sekitar tahun 1997. Persis dengan tahun dimana krisis ekonomi yang menimpa Indonesia. Tapi, kemajuan yang sudah mereka raih sungguh ajaib. Banyak isu berredar tentang kemajuan Hungary dibanding dengan negara-Pic_0072 negara eropa timur lainnya. Salah satu isu yang cukup santer adalah kehadiran jewish yang cukup dominan di negara itu. Dan kalau saya melihat dengan kepala sendiri, memang benar isu tersebut. George Soros sangat berperan di negara tersebut. Bahkan, di jantung kota Budapest, berdiri dengan megah Synagoge yahudi. Selidik punya selidik, bangsa hungaria memiliki keterikatan yang cukup dalam kepada bangsa yahudi. So, isu tersebut ternyata benar adanya.

Sejenak, saya ingat diskusi saya dengan teman serumah saya tadi malam. Betapa powerfulnya bangsa yahudi ini sehingga mereka seolah-olah menjadi ‘invisible hand’ dibalik kekuasaan yang ada di dunia. Lihat saja kejadian di Lebanon. Ngga ada satupun yang berani mengutuk dan memberi sanksi pada Israel. Kenapa? Karena semua orang sudah jadi bangsa yahudi, apalagi Amerika dan Inggris.

Tapi, sudahlah. Kembali ke Budapest.

Kota ini sebenarnya terdiri dari dua wilayah: Buda dan Pest. Kedua wilayah ini Pic_0029 dipisahkan oleh Danube river, dan ada sekitar 5 jembatan yang menghubungkan antara Buda dan Pest. Buda adalah wilayah yang lebih tenang dan lebih cantik. Di Buda ini lah terdapat tempat-tempat atraktif yang sangat membelakakkan mata. Buda Var, St Martin Church, Centinel.  Beberapa lokasi Bath and Spa juga banyak di sini. Ngga hearan banyak hotel-hotel disini. Sementara itu, Pest adalah pusat bisnis. Banyak kantor-kantor, pertokoan, dan klub malam di sepanjang Pest.

Buda dan Pest hidup dalam keteraturan mereka. Lokasi perumahan, pusat bisnis, bahkan pariwisata, sudah di set sedemikian rupa supaya tidak campur aduk. Ini juga Pic_0001 memudahkan dalam mengorganisir public transportasi. Di Buda dan Pest, selain transportasi reguler seperti bus dan metro (underground), mereka juga memiliki trem yang menghubungkan pusat-pusat strategis. Selama 2 minggu kunjungan saya disana, praktis saya sangat nyaman menikmati public transportation dan tidak pernah kepikiran untuk naik taksi.

Itulah, kenapa Jakarta tidak bisa mencontoh seperti itu ya? Hmm.. Mungkin Pak Sutiyoso sebaiknya harus study banding ke Budapest, daripada study banding ke Brasil beberapa waktu lalu untuk mempelajari sistem transportasi disana.

Gimana, Pak Sutiyoso.. nanti saya temenin kalo mau ke

Budapest

.. hehehe

Belajar Terbiasa Dengan Globalisasi

Saturday, August 19th, 2006

Group4_1

Kata-kata globalisasi tentunya bukan hal yang asing buat kita. Maknanya bisa luas; bisa mencakup hubungan politik internasional, perdagangan, ekonomi, komunikasi, sampai badan intelijen.

Buat saya, makna globalisasi tidak lain adalah pertukaran informasi. Dengan adanya globalisasi, kita jadi tahu apa yang terjadi di Libanon saat digempur pasukan Israel. Kita juga tahu bahwa ada busung lapar di Ethiopia dan negara-negara Afrika. Dengan globalisasi, kita juga bisa ikutan mengutuk Bill Clinton saat terlibat skandal dengan Monica Lewinski.

Itulah hebatnya globalisasi.

Kita bisa menikmati gurihnya KFC dan McDonald. Kita juga bisa dengan leluasa menelpon pacar dengan HP Nokia buatan Findland. Kita juga bisa dengan mudah berkomunikasi via Skype buatan Estonia untuk menghubungi teman dan sahabat kita yang ada di luar negeri. Selain itu, kita juga bisa jalan gaya dengan tas Gucci dan jam Benetton untuk berangkat kerja.

Itulah hebatnya globalisasi.

Banyak orang yang kagum dengan kecanggihan globalisasi. Banyak pula yang mengecam bahaya dibalik globalisasi. Bahaya akibat kapitalisme dan konsumerisme selalu diusung kaum penggugat globalisasi. 

Tapi, lagi-lagi, itulah hebatnya globalisasi.

Rasa ketakutan yang berlebihan bisa ditepiskan dengan serentetan keuntungan yang diberikan dalam globalisasi. Kemudahan komunikasi dan jaringan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, sampai kepada akses ke lembaga peminjam internasional.

Namun, saya tidak mau beropini terhadap serentetan keuntungan tersebut. Selain udah basi dan terlalu sering diusung oleh orang lain, saya ingin memberikan sedikit wacana tentang globalisasi dari sudut pandang yang lain, yaitu mengenai pertukaran informasi.

Pertukaran informasi menjadi krusial agar kita bisa cope dengan lingkungan dan perubahan dunia yang demikian cepat. Bagaimana kita bisa dengan mudah beradaptasi dengan perubahan tersebut dan bisa berkompetisi dengan orang-orang dari negara lain?

Tentunya kita harus bisa menguasai alat komunikasi, yaitu melalui bahasa. Saat ini, dunia mengenal 6 jenis bahasa yang diakui secara internasional, yaitu bahasa inggris, perancis, jerman, china, spanyol, dan arab. Keenam bahasa asing ini diyakini sebagai bahasa internasional berdasarkan populasi yang menggunakan bahasa tersebut.

Kita kecilkan ke dalam bahasa inggris saja. Sejak saya TK sampai sekarang, pelajaran bahasa inggris sudah menjadi lalapan saya sehari-hari. Saya masih ingat betapa orang tua sangat menggembleng saya untuk bisa mahir berbahasa Inggris. Alasan mereka, kalo saya ingin maju dan bisa menembus dunia internasional, saya harus pintar bahasa inggris. Tentunya, buah ini saya petik sekarang. Saya bisa confidence cas cis cus berkomunikasi dengan orang lain di negara nya Prince William ini, karena saya dulu begitu menghayati pentingnya bahasa inggris ini.

Namun, seiring waktu dan jam terbang saya menembus dunia internasional, saya semakin ragu dengan ide globalisasi dari perspektif bahasa sebagai alat komunikasi global. Dalam beberapa kiprah saya di beberapa negara eropa -yang notabene dekat dengan negara Inggris- masih banyak masyarakatnya yang tidak mau dan tidak bisa bahasa inggris. Tak terkecuali dengan orang Perancis yang dulu terkenal anti dengan bahasa inggris. Kesulitan berkomunikasi juga kerap saya jumpai di negara-negara eropa timur, walau sebenarnya hal tersebut wajar aja karena mereka baru saja menggeliat dari rejim komunis pasca kejatuhan Uni Sovyet.

Bahkan, dalam kunjungan saya ke Markas PBB di Vienna beberapa Img_0002 waktu lalu, ada cerita bahwa bahasa inggris ternyata bukanlah menjadi bahasa pengantar dalam rapat pleno di PBB. Argumen yang diberikan adalah lebih kepada kenyamanan dan kepercayaan dalam berkomunikasi. Untuk itu, peran interpreter atau penerjemah sangat krusial untuk menjembatani language problem tersebut.

Dari sini saya kemudian mencoba mencari, apakah benar justifikasi ayah saya bahwa kalo saya ingin terjun ke dunia internasional saya harus pintar bahasa inggris?

Saya kemudian teringat dengan kejadian lucu dan cukup memalukan yang dialami Nadine, seorang putri cantik Indonesia yang diikutkan dalam acara Miss Universe 2006. Mungkin masih ramai dibicarakan di milis-milis betapa memalukanya seorang putri cantik Indonesia tidak bisa berkomunikasi secara lancar dalam bahasa Inggris di ajang internasional.

Tapi, lagi-lagi, Nadine bukanlah perempuan super. Dia memang cantik dan berbakat. Hanya saja kemampuan bahasa Inggris dia perlu diasah lagi kalau dia ingin lebih confidence dalam berbicara dalam bahasa asing.

Tapi Nadine juga tidak salah. Bahasa Inggris belum lah menjadi second language di Indonesia. Nadine mungkin tidak berkomunikasi secara aktif dalam bahasa inggris. Lain dengan Nadine-Nadine di Malaysia dan India yang menjadikan english sebagai second language mereka.

Melihat kenyataan Nadine ini, ada dua proposisi yang mungkin bisa ditarik. Pertama, jika Nadine aware, at least dia tidak perlu menceburkan diri dalam globalisasi bahasa yang dia sendiri tidak kuasai. Alangkah elegannya jika Nadine berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan bahasa Indonesia-bahasa yang setiap hari diucapkan oleh 250 juta orang. Itu bukan suatu hal yang buruk dan memberikan penilaian yang sedikit buat Nadine. Karena, terbata-batanya Nadine dalam menjawab pertanyaan, membuat Nadine dan dunia pendidikan di Indonesia (terutama pendidikan Bahasa Inggris) menjadi tercemooh.

Kedua, jika Nadine aware untuk terjun ke dunia internasional, jangan lah setengah-setengah. Kesempatan selalu ada untuk bisa meng-up date kemampuan berbahasa asing agar bisa mampu berkompetisi di arus globalisasi bahasa tersebut. Proposisi kedua inilah yang dikenalkan ayah saya sehingga saya merasa confidence untuk melebarkan jaringan internasional saya.

Kesimpulannya, belajar terbiasa dengan globalisasi bisa dilihat dari dua sisi. Menerima informasi dan perubahan yang ada, atau mencoba membuat perubahan dari sebuah bentuk kesepakatan informal yang selama ini telah terbangun. Dalam hal ini, kasus pengenalan bahasa indonesia dalam wawancara Nadine dapat merefleksikan sisi yang kedua.

Dengan melihat globalisasi dari kedua sisi tersebut, kita tidak perlu takut untuk belajar terbiasa dengan globalisasi.

Img_0080 Anda boleh sependapat, boleh juga tidak .

Refleksi Merah Putih

Saturday, August 19th, 2006

Burung_garudaBirmingham, Kamis-17 Agustus 2006

Tidak seperti biasanya, hari ini seperti ada yang tidak biasa. Ada sesuatu yang mengganjal yang sepertinya tidak bisa saya hilangkan begitu saja.

Rasa gundah saya t erjawab dengan text dari salah satu teman di Amsterdam yang mengingatkan pada detik-detik proklamasi kemerdekaan RI. Saya tersadar bahwa berada jauh dari negeri tercinta, semangat dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara tetap saja ada. Seketika saya rindu dengan Indonesia.

Saya rindu dengan masa-masa kecil saya saat perayaan 17 Agustusan. Mulai dari pagi dimana harus ada ritual upacara di sekolah, sampai ikutan berbagai lomba yang  diadakan di sekolah dan lingkungan RT. Walaupun tidak pernah menang, tapi at least, ada sesuatu yang tersirat dari perayaan tersebut sehingga saya sangat menantikan kedatangan hari kemerdekaan tersebut.

Saat ini saya terjaga dari lamunan masa kecil tentang indahnya perayaan 17 Agustus-an bagi seorang anak kecil. Yang kemudian tersisa adalah bagaimana Anak_indomerefleksikan gempitanya perayaan tersebut, bagaimana bisa merefleksikan kehadiran merah putih dalam jiwa dan hati saya?

Banyak kawan yang menyebut negara Indonesia dengan negara kampret. Jujur harus diakui, bahwa porsi rakyat kampret sudah cukup menggila. Politisi, pejabat pemerintahan, kalangan bisnis, bahkan kalangan pendidik, bisa terbilang kampret.

Politisi yang berpakaian perlente di DPR, berbondong-bondong ‘merayakan’ kemerdekaan di gedung DPR. Entah persepsi ‘merayakan’ apa yang mereka anut. ‘Merayakan’ kemerdekaan dari belenggu kemiskinan mereka sendiri, karena sebelum jadi politisi, mereka hanya bajingan tengik. Atau, apakah masih ada politisi tersebut yang memang membela kemiskinan rakyat? Itu patut dipertanyakan. Saya tidak bermaksud mengecilkan arti dari sebuah perjuangan sekelompok orang yang ‘katanya’ memperjuangkan nasib wong cilik. Wong cilik yang mana? Tukang becak? Tukang Jakartanasi pecel? Guru di daerah terpencil? Bagi saya, platform wong cilik yang diusung sekelompok orang ini juga belum jelas. Seandainya wong cilik tersebut akan dibela dan dibantu, seperti apakah bantuannya? Membagi-bagikan uang pada wong cilik tersebut? Itu juga sama tidak jelasnya.

Kemudian, para pejabat di lingkungan pemerintahan rame-rame berkumpul di lapangan upacara untuk mengenang detik-detik proklamasi dengan khidmat. Sepatah dua patah kata dari sang pemimpin upacara selalu mengorasikan hal-hal klise dimana kita harus bisa mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang. Kita juga harus bisa mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah kita raih. Tapi, bagaimana kita bisa merefleksikan pengorbanan para pahlawan itu disaat para pejabat di pemerintahan berlomba-lomba untuk korupsi? Pejabat di pusat maupun di daerah terlibat dalam korupsi secara berjamaah. Mungkin justifikasi ‘manuasiawi’ dan ‘kewajaran’ melakukan kowupsi yang berlaku di banyak tempat, bahkan di negara sekaliber Amerika, membuat para pejabat dan kalangan institusi pemerintahan semakin giat memupuk korupsi tersebutAnak_sekolah. Jika lingkaran setan korupsi berjamaah itu diputus, maka akan timbul lingkaran setan yang lain yang semakin sulit untuk ditembus.

Tidak hanya di jaringan Senayan dan institusi pemerintahan, gegap gempita perayaan 17 agustus juga dilakukan oleh pelaku bisnis. Dengan menebarkan spanduk-spanduk berisi mendukung penuh perayaan kemerdekaan dan jiwa kemerdekaan, pelaku bisnis -yang notabene kapitalis- tak lupa menyertakan simbol-simbol produk mereka sebagai sarana marketing mereka. Semua juga tidak terlepas dari propaganda kapitalis barat yang mencoba menginflitrasi ke dalam sendi perekonomian. Justifikasi globalisasi, perluasan investasi demi efisiensi, serta pertumbuhan ekonomi adalah alasan mujarab yang dilontarkan oleh ekonom neo-liberalism. Demi alasan tersebut pula lah, pelaku bisnis mulai mengepakkan sayap mereka dengan merayu para pejabat dan koruptor ulung untuk menelurkan kredit ringan yang akhirnya membuahkan bencana bagi anggaran negara. Kasus BLBI yang tidak tuntas-tuntas sampai sekarang semakin blur dan tidak bisa lagi dilihat dengan kaca mata telanjang.

Refleksi tadi merupakan bentuk ajaib wajah negara yang mendapatkan kemerdekaan sejak tahun 1945. Sebenarnya patut dipertanyakan apakah memang para pahlawan kita berjuang mati-matian untuk kemerdekaan ataukah kita menghiba-hiba untuk mendapatkan kemerdekaan? Karena, kalo kita menilik sejarah, kita adalah bangsa tertindas yang diuntungkan dengan adanya World War yang membuat Jepang harus bertekuk lutut dengan pasukan sekutu. Kecanggihan negosiasi para the founding fathers juga yang bisa membuat Indonesia merdeka.

Namun, sebuah negosiasi tidak hanya menguntungkan satu pihak saja. Tetap ada conditionality di balik semua negosiasi. Entah negosiasi seperti apa yang dulu dilakukan oleh SOekarno cs waktu mengadakan serangkaian perundingan-perundingan. Entah mengapa pula Kerajaan Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 2004 yang lalu. Itu menjadi sebuah tanda tanya buat saya, dan tentunya buat rakyat Indonesia yang juga concern.

Seorang anak kecil mungkin akan membayangkan sebuah perayaan 17 Agustus sebagai ajang lomba makan kerupuk, joget balon, gigit kelereng, atau karnaval sepeda hias. Anak kecil tersebut tida k salah, karena hanya itu yang dia tahu tentang makna hari kemerdekaan. Bahkan jiwa dan semangat hari kemerdekaan ini tidak saya temukan sampai saya memasuki bangku sekolah menengah umum. Yang ada di otak saya adalah menang lomba di sekolah.

Mungkin refleksi merah putih ini bisa membangunkan saya dari hanya sekedar memenangkan lomba di perayaan 17 Agustusan. Mungkin pula refleksi ini bisa membangunkan saya untuk bisa memberi arti dan kontribusi yang terbaik bagi negara yang bersimbol merah putih ini.

Anak_timor_1

Selamat ulang tahun, Indonesia

Kreativitas Menjelang Pagi

Saturday, August 19th, 2006

                                      GreetingsPic_0097

Terkadang ide dan kreativitas bisa muncul kapan saja. Tak mengenal waktu, tak mengenal tempat, tak mengenal sikon. Karena ini pula lah yang membuat ide dan kreativitas menjadi suatu hal yang mahal, dan kadang menjadi irasional karena tidak bisa ditaksir secara materi.

Buat saya, menjelang pagi adalah masa dimana ide dan kreativitas saya muncul dan berubah menjadi sebuah karya yang cukup membanggakan buat saya.

Menjelang pagi adalah waktu dimana saya berefleksi dan berusaha mengungkap keseharian dan pencarian berharga saya dalam hidup. Terkadang, moment bertemu dengan beggar di jalanan city centre Bullring di siang hari bisa membuat saya terjaga sampai menjelang pagi, hanya sekedar merenungi "what, why, when, where, and how" tentang si beggar tadi. Makanya, ngga melulu ide dan kreativitas superb yang harus saya elaborasikan. Pelajaran penting dari arti pencarian diri dalam hidup adalah satu hal yang sangat berati dalam mengungkapkan ide dan kreativitas saya tersebut.

Namun, saya ngga mau terkekang oleh munculnya ide dan kreativitas. Justru saya ingin mengendalikan mereka. Itulah sebabnya, saya menciptakan waktu khusus menjelang pagi untuk berekspresi bebas dan menuangkan kreativitas tersebut.

So, selamat menikmati ide dan kreativitas saya yang biasanya saya telurkan menjelang pagi.