Archive for December, 2006

A day without a smile

Monday, December 18th, 2006

Have you ever experienced with a lousy day without a single smile? Maybe you can smile, but it’s so bitter.

When you had this circumstances, you might ever wanna turn your head to the wall or even a glismpse of killing yourself.

A smile is worthed to begin and to end a day. It is so worthed, at least for me.

Even a smile can conquer the rocky mountain, that’s what the wiseman said. A smile can give a warning.. of happiness or sadness.. that’s why a smile can mean everything.

If you try to search upon the sky, where is the best smile ever in the world.. answers are flying according to the message. I might end up with the answer of my angels’ smile which are the best smile ever.

My angels..

Today I miss their smile.

Today I miss their kiss.

Today I miss their love.

Hopefully it’s not too late to get the smile again, tomorrow

Poligami Dalam Pandangan Isteri Kedua

Monday, December 11th, 2006

Akhir-akhir ini gosip miring tentang pernikahan kedua Aa Gym seakan menjadi jualan laris di stasiun tivi maupun tabloid gosip. Kebanyakan mencemooh, menyesali, bahkan tak segan-segan menghujat keputusan Aa untuk menikah lagi. Namun, ada pula yang mendukung sikap Aa, terutama dari kaum lelaki agamis yang berpegang teguh pada ketentuan agama.

Para ibu ada yang simpati dan ada yang empati pada Teh Ninih, sang isteri pertama. Mereka memuji sikap Teh Ninih yang begitu tegar dalam menghadapi cobaan ini. Sebagai wanita normal, tentunya perasaan Teh Ninih bagaikan dicabik-cabik kala menyadari harus berbagi kebahagiaan di hati Teh Ninih. Kita juga bisa melihat di tivi, walaupun teh Ninih kelihatan tegar, tapi terlihat semburat keletihan dan kekecewaan dari wajahnya.

Itu ekspresi dari Isteri Pertama. Lalu bagaimana dengan Teh Rini, sang isteri kedua?

Sepanjang liputan infotainment, hanya ditampilkan foto Teh Rini saja dan sesekali kilasan gambar Teh Rini saat menghadiri acara bersama dengan Aa dan Teh Ninih. Teh Rini hanya bisa tertunduk sambil sesekali membetulkan jilbabnya. Walaupun dalam posisi tertunduk, kita masih bisa melihat raut muka cantik Teh Rini. Maklum, Teh Rini dikabarkan sebagai mantan model.

Tentunya banyak yang mencemooh Teh Rini, walau ada pula yang memuji Teh Rini. Teh RIni dipandang sebagian orang sebagai duri dalam daging, dan akan membuat popularitas Aa akan terenggut.

Jika saya membayangkan posisi saya saat ini sebagai Teh Rini, saya sepertinya angkat topi. Betapa berat ujian dan cobaan yang harus dijalani Teh Rini.

Menjadi isteri kedua itu bukan sebuah keputusan yang mudah. Pertama, ia harus bisa mengalahkan egonya untuk membagi suaminya dengan isteri yang lain. Ini bukan hal yang mudah diterima seorang wanita. Setegar apapun seorang wanita, ia tidak akan rela pasangannya berbagi hati dengan wanita lain. Saya rasa, laki-laki juga akan seperti itu. Mereka tidak akan rela jika pasangannya berbagi hati dengan laki-laki lain. Itu sangat manusiawi sehingga bisa terjadi pada laki-laki maupun wanita.

Kerelaan membagi ’suami’ tersebut harus dari segala hal, baik materi maupun imateri. Secara materi, jika suami hanya beristrikan satu orang, otomatis semua harta suami akan dikelola oleh satu isteri. Tetapi, jika sang suami memiliki dua isteri, otomatis kue penghasilan harus dibagi dua secara adil. Pengertian adil itu sendiri harus bisa didefinisikan secara benar agar tidak menimbulkan suasana kecemburuan dari semua pihak.

Kecenderungan yang terjadi di masyarakat awam, isteri pertama akan mendapatkan porsi yang "lebih" dibanding dengan isteri kedua. Sebagian komuniti menganggap wajar karena si isteri tua harus rela berbagi dengan isteri pertama. Tetapi, pada dasarnya, sang isteri kedua juga memiliki harapan-harapan dalam hidupnya. Namun, karena dia ditakdirkan untuk jadi isteri kedua, banyak pengorbanan yang harus dilakukannya.

Selain yang bersifat materi, pengorbanan yang bersifat imateri juga harus dialami isteri kedua. Sang isteri kedua (sama hal nya dengan isteri pertama) tentu harus mengalami malam-malam sepi karena sang suami sedang berada di tempat isteri yang lain. Setegar apapun, sang isteri tetap memiliki naluri alamiah seorang wanita dan manusia yang juga memiliki keinginan batiniah. Di saat sang suami sedang bersama isteri yang lain, tentunya sang isteri kedua harus rela membagi tubuh suami nya untuk orang lain. Ini bukan ujian yang ringan.

Kedua, sang isteri kedua harus tebal telinga dengan berbagai cemooh dan omongan orang. Stigma yang diberikan di masyarakat adalah isteri kedua sebagai pengganggu rumah tangga, terlebih lagi jika proses pemilihan isteri kedua tersebut tidak melalui proses harmonisasi antara interested parties, baik isteri pertama, anak, dan keluarga besar lainnya. Untuk itu, resiko paling dekat yang dihadapi isteri kedua adalah harus tebal telinga dalam menghadapi berbagai macam cacian dari komuniti.

Ujian-ujian tadi tidak bisa dianggap remeh. Sehingga, keputusan menjadi isteri kedua juga merupakan sebuah keputusan yang berat, bahkan mungkin bisa dikatakan melebihi keputusan seorang wanita normal saat ingin dinikahi seorang pria.

Begitulah, pro dan kontra pernikahan kedua Aa gym sebaiknya jangan hanya dilihat dari sudut Aa saja. Sebagai laki-laki -katanya- sudah kodrat mereka untuk ingin memiliki pasangan lebih dari satu. Tetapi, bagaimana dengan wanita? Kodrat wanita -katanya lagi- sebagai pendamping bagi laki-laki.

Namun, satu hal yang membuat saya berpikir. Hubungan antara isteri dan suami ibarat pakaian. Isteri adalah pakaian bagi suaminya, begitu pula sebaliknya, suami adalah pakaian bagi isteri. Namun betapa sedihnya apabila pakaian itu harus disobek dan dibagi dua. Hanya ikhlas lah yang bisa mengantarkan seorang wanita untuk bisa merelakan pakaiannya dirobek dan diberikan kepada wanita yang lain. Dan hanya wanita yang ikhlas saja lah yang rela menerima pakaian robek tadi.

Mudah-mudahan pakaian yang robek tadi bisa ditambal dengan kebijakan dan keadilan sang suami. Sehingga, pakaian yang robek tadi tidak menjadi tambah lebar robeknya.

Menyikapi Perubahan

Monday, December 11th, 2006

Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa sepulang saya dari Inggris banyak hal yang berubah dari diri saya. Mulai dari cara bicara, cara berpikir, sampai dengan penampilan saya.

Sebagai diri pribadi yang menjalani, terus terang saya tidak bisa menjawabnya secara lugas dan tepat. Kenapa? Karena saya tidak merasa ada perubahan yang berarti dalam diri saya.

Menurut saya, saya masih seperti ini, masih seperti saya yang dikenal teman-teman saya setahun yang lalu. Saya yang menjalani kehidupan yang simple, ceplas ceplos dan selalu berusaha untuk open minded. Itu yang bisa saya gambarkan tentang diri saya; diri saya yang dulu sampai sekarang.

Lalu kenapa orang memandang terjadi perubahan dalam diri saya?

Kalau sejenak saya berpikir dan merenungi tentang diri dan kehidupan, memang saya menyadari ternyata ada perubahan dalam diri saya. Saya sendiri tidak tahu apa yang membentuk dan membuat perubahan itu.

Kecurigaan saya adalah karena saya memakai prinsip biarkan air mengalir dalam kehidupan saya. Proses pembelajaran dalam hidup saya anggap sebagai sebuah proses pendewasaan dan proses pencarian hakikat hidup itu sendiri. Pengalaman kesendirian selama setahun mau tidak mau telah menempa saya untuk bisa survive dan diterima di lingkungan saya yang baru, pada saat itu. Saya merasa menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak. Saya juga lebih menggunakan pola pikir yang jauh ke depan dalam segala hal, baik dalam hal berteman sampai terkait dengan kondisi finansial. Pertimbangan dan pemikiran seperti itu mungkin membuat saya merasa tertempa untuk lebih bersikap dewasa dan bijaksana.

Pola pikir yang open minded dan cenderung liberal dengan sendirinya juga terinfiltrasi ke dalam cara berpikir saya seperti sekarang ini. Mencermati secara objektif permasalahan dan gejala yang ada di sekeliling saya adalah hal yang harus saya lakukan jika ingin bisa tune in dalam kesendirian dan perjuangan saya saat itu. Dan memang saya tidak pernah punya masalah dengan berpikiran terbuka tersebut.

Saya menghargai segala bentuk perbedaan dan perubahan, baik itu ditinjau dari perspektif ideologi ataupun agama. Saya menghargai berbagai bentuk opini yang ada. Bagi saya, timbulnya berbagai opini merupakan benih dari sebuah proses komunikasi yang sehat. Tuhan menganugerahi umatNya dengan sebuah mesin otak yang dapat dioptimalkan untuk menjawab rahasia-rahasia alam yang ditinggalkan oleh Tuhan. Bentuk perbedaan tersebut dapat dijadikan sebuah jembatan dalam proses mencari jawaban atas rahasia2 tersebut.

Sejauh mana kita bisa menyikapi bentuk perbedaan dan perubahan?

Semua tergantung dari sudut mana kita melihat. Pro dan kontra terhadap sebuah sikap dan kebijakan selalu terjadi. Bahkan dalam sebuah teori pengambilan keputusan akan selalu ada trade off serta kondisi dimana kita tidak bisa memuaskan semua pihak.

Untuk itu, perubahan dan perbedaan harus disikapi secara menyeluruh dan bijak. Kita bisa melihat proses perubahan pada diri Aa Gym yang berubah pandangan tentang poligami. Kalau sebelumnya beliau sepertinya emoh ber-poligami, tapi sekarang malah beliau menjadi pelaku poligami. Tentunya proses untuk perubahan tersebut harus kita hormati dan hargai sebagai salah satu bentuk proses pembelajaran bagi diri Aa, keluarga Aa, dan kita semua.

Proses perubahan bisa menjadi positif dan destruktif. Saya tidak bisa mencap proses perubahan sikap Aa dari yang semula ‘berpikir-pikir’ untuk poligami sebagai proses perubahan yang destruktif. Itu merupakan hak prerogatif Aa dan juga keluarga Aa. Tentunya semua keputusan telah berdasarkan pertimbangan yang matang, baik dari segi the best case maupun dari sisi the worst case.

Begitulah, perubahan tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Selalu ada trade off dibalik perubahan yang terjadi. Hal ini sebuah proses yang alamiah sehingga harus disikapi secara bijaksana dan legowo.

So, bila saya berubah, bila Aa Gym berubah, bukan berarti kami mengenyampingkan rambu-rambu sosial dan stigma di masyarakat. Kami hanya berkaca pada pengalaman, dan berangkat dari kesadaran akan keharusan untuk dapat lebih baik dari hari kemarin. Semoga perubahan yang terjadi bisa menjadi positif dan tidak bersifat destruktif.

Walaupun demikian, kami memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Itulah salah satu trade off yang harus kami hadapi …..