One day before submitting the essays

April 23rd, 2006 by edisiinggrisraya

Citra2

Ini postingan Citra, temen gue yang super-duper lucunya, di Milis Chev05. To be honest, jokes ini amat teramat lucu sehingga membuat gue tertawa meringis. Lho? Iya, gue sejatinya kepengen ngakak, tapi kaga bisa karena saat gue buka jokes ini gue lagi di Learning Centre. Yang ada, gue cuman meringis-ringis menahan tawa gue.

Bravo, Citra.. you light up my day.. soalnya pas gue buka jokes ini, gue udah tuntas tas tas ngerjain assignment gue.. Jokes ini bener-bener cerdas dan membuat gue tersenyum menyambut hari esok penuh kemenangan (karena dah kelar ngerjain essay bowww…)..

Thanks ya, Citra..

Ini dia jokes nya..

==========================================================================

BOSS DAN PELAMAR

Boss : "Nama saudara siapa?"
Pelamar : "Prawojo pak …"
Boss :  "Coba ceritakan tentang keluarga saudara !!…"
Pelamar : "Saya 2 bersaudara,  adik saya masih kuliah di Jogya…, Orang Tua saya tinggal di Surabaya…,Kakek  dan nenek dari Bapak tinggal di Solo…, Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di  Semarang…, Paman dan
Pakde semua tinggal di Tegal…"
Boss : "Apakah  saudara dapat berbahasa Inggris?"
Pelamar : "Yes .. sir .."
Boss : "Now  tell me about your family in English !!…"
Pelamar : "Sorry sir .. I  don’t have family in English…, they’re all living in  Indonesia"

TEACHER AND STUDENT (1)

Teacher : "Where were u born?"
Student : "Singapore,  Sir."
Teacher : "Which part?"
Student : "All of me,  Sir."

TEACHER AND STUDENT (2)

A teacher was asking her class: "What is the difference between ‘unlawful’ and ‘illegal’ ?"
Only one hand shot up. "Ok, answer, Joan," said the teacher.
"’unlawful’ is when u do something the law doesn’t allow and ‘ill-egal’ is a sick eagle…  sir"

TOOTH EXTRACTION

Patient : "How much to have this tooth pulled?"
Dentist :  "$90.00"
Patient : "$90.00 for just a few minutes work???"
Dentist : "I  can extract it very slowly if you like…"

NUBRUK BULE

Seorang cewek yang bahasa Inggrisnya kacau-balau suatuhari nubruk seorang bule ketika jalan-jalan di mall.
Cewek : "I’m sorry."
Bule : "I’m sorry, too."
Si cewek bingung. Doi ngerasa harus ngejawab tuh bule.
Cewek : "I’m sorry, three."
Bule : "What are you sorry  for?"
Cewek : "I’m sorry,  five."

PEMALAK

Seorang polisi menangkap seorang pemalak yang juga peminum berat.  Doi sangat meresahkan masyarakat di sekitarnya.
Polisi : "Kenapa kamu malak?"
Pemalak : "Terus terang, saya malak  supaya dapat uang untuk beli minuman keras."
Polisi : "Lalu kenapa kamu  minum?"
Pemalak : "Supaya dapat keberanian buat  malak."

PERPUSTAKAAN

Di tengah malam, telepon di rumah seorang petugas perpustakaan bernama Bobi berdering.
"Selamat malam. Maaf mau tanya, perpustakaan buka jam berapa ya?" tanya suara seorang lelaki di telepon.
"Ya ampun, Anda menelepon tengah malam begini hanya ingin tahu kapan perpusatakaan buka?" tanya Bobi.
"Tapi ini sangat penting", kata penelepon.
"Jam sembilan pagi", kata Bobi.
"Jam sembilan??? Tidak bisa lebih pagi lagi?" tanya si penelepon.
"Memangnya kenapa Anda ingin datang pagi-pagi?" tanya  Bobi.
"Siapa bilang saya ingin datang? Saya ingin keluar
dari perpustakaan ini…"

BIS

Suatu malam seorang lelaki yang sedang mabuk naik bisdan duduk di sebelah perempuan berumur. Si nenek memandangnya dari atas ke bawah, kemudian berkata,"Tahu nggak, kamu akan ke neraka!"
Si lelaki melompat kaget dan berteriak,
"Stop…kirriii. Salah naik bis!!!."

DARI MANA DULU ?

Penjaga kolam menghampiri seorang anak lelaki dan menegurnya, "Kamu tidak boleh kencing di kolam renang ini, mengerti?!"
Dengan wajah tak mengerti si anak berkata, "Tapi semua orang kan pada kencing di kolam??"
Penjaga mencoba bersabar, "Iya, memang. Tapi kencingnya tidak dari atas papan  loncat."

Cerita dibalik perjalanan sebuah ‘Somay’

April 23rd, 2006 by edisiinggrisraya

Image_00042 Hari sabtu kemaren (21 April) ada ‘arisan’ yang diprakarsai ama pengurus PPI-MIB which is gue juga salah satu pengurusnya kalee.. Judulnya aja yang ‘arisan’, padahal sejatinya sich cuman pul kumpul biasa aja antar penghuni Birmie, baik yang kawula muda dan para tetua. Doooh, tetua.. maaf ya Pak Fatur.. maaf ya Pak Barlin…

Thus, untuk meraih simpati warga Brummie, Virdi sang wakil ketua berinisiatif untuk memesan somay. Walah.. inisiatif yang sangat cerdas. Gue dengan serta merta langsung menyatakan persetujuan gue, walau saat itu kondisi kas PPI-MIB (maklum, bendahara nich guee..hik hik) engga memungkinkan untuk berhajatan ria. Tapi, demi somay, gue sich oke oke aja.. mudah2an nanti akan ada donatur yang mau mendanai kas PPI-MIB lage.. hehe

Lantas, apakah cerita si somay berakhir sampai di situ?

Tidak, saudara-saudara.. ternyata perjalanan si siomay untuk bisa masuk ke perut gue, penuh cobaan yang berliku. Adanya faktor X menyebabkan terhambatnya perjalanan si somay untuk bisa gue nikmati. Sejatinya, gue udah nge-book ruangan di Guild of Image_00043 Student BU untuk acara pul-kumpul itu seminggu sebelumnya. Waktu gue reserve for a place di reception Guild, statusnya okeh-okeh aja dan gue ngeliat sendiri di komputernya Guild. Tapi saudara-saudara, waktu gue n pengurus nyampe sana (sebenernya sich para Tamunya duluan yang dateng, hehe) ruangannya ngga bisa dibuka. Jangankan ruangan rapatnya, Guild-nya sendiri kaga bisa dibuka. Mati dech gue… hu uuu… Koq bisa an gitu kaga dibuka? Padahal Guild student kan mana pernah tutup…

Pusing juga sich ngadepin kondisi gitu, ya.. rada panik lah.. Gue kaga berani ngeliat wajah Nandar sang Ketua yang ‘hik-hik’ memerah getu.. (maap ya, Ndar.. it’s beyond ma control). Apalagi waktu nerima berita itu, gue dan pengurus yang lain (virdi, dan diaz) masih on the way ke BU, huu…

Trus, masih dengan wajah panik, begitu gue parkir di guild, Pak Fatur ngasih saran, gimana kalo kita coba ke common room nya School of Education yang letaknya deket ama Barber Institute of Arts.  Apa salahnya dicoba dan agh .. leganya, ternyata ruangan itu dibuka dan kita boleh pul-kumpul disitu. Puih, lega dech..

Image_00041 Setelah semua settle, akhirnya Virdi memutuskan untuk menyantap somay dulu sebelum kita mulai rapat. Wah, tawaran menarik nich, pikir gue. Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu kata pepatah kuno. Sregep banget gue makan somay. Nikmat… Semua persoalan beres dan akhirnya bisa juga menyantap somay..

AKhirnya, cerita si somay berakhir sampai disini. Eits, masih belum berakhir sich, karena pas pulang Virdi ngasih gue dua box somay lagi buat souvenir..wuih, makasih ya Vir.. paling engga, masih bisa merasakan nikmatnya siomay untuk tiga hari ke depan.. kekeke…

One Day in Your Life

April 22nd, 2006 by edisiinggrisraya

Pernah ngga one day in your life kepikiran untuk menjadi sesuatu atau seseorang yang sangat  berbeda dengan diri kita yang sebenernya?

To be honest, gue pernah kepikiran tentang hal ini. Waktu itu gue merasakan boring yang luar biasa dengan kehidupan gue, dan I made a wish ‘one day I want to be somebody new in a new place and different kind of people around me’. World34Rupanya, waktu gue make a wish itu, ada bintang jatuh yang menyebabkan my wish is coming true now.

Gue saat ini memang menjadi seseorang yang ‘baru’ di tempat yang ‘baru’ dan bertemu dengan orang-orang yang ‘baru’ pula. Gue juga melakukan hal-hal yang ‘baru’ yang ngga pernah gue lakukan di tempat ‘lama ‘ gue. Gue juga memiliki pemikiran yang ‘baru’ ditengah absurdnya mindset gue yg sudah terpola menjadi birokrat. Dan gue juga mendapatkan kekecewaan ‘baru’ yang ngga pernah terdeteksi sebelumnya.

Memang, mensyukuri dan memahami hakikat diri adalah sesuatu yang sangat sulit. Kadang kita bisa aja memberi nasihat kepada sahabat, kepada pacar, kepada adik, kakak.. tapi memaknai diri kita sendiri itu sebenernya sangat sulit. Seperti dalam kasus gue ini. Gue kepingin menjadi ‘orang lain’ bagi diri gue sendiri. Untuk sebagian orang, mungkin hal seperti ini aneh atau bahkan ngga pernah terlintas dalam pikiran. Seberapa keras gue mencoba untuk mensyukuri hakikat diri gue, ujung-ujungnya gue selalu menemukan kekecewaan yang bermuara pada keinginan untuk menjadi somebody else tersebut.

Gue ngga tau apakah dari teori psikologi ada nama untuk penyakit yang sedang gue derita ini (Ozy, please help me). Apakah gue mengalami krisis identitas? Ataukah memang sebenernya gue ngga punya identitas? Gue hanya menjalani hidup dan kehidupan gue seperti layaknya air mengalir. Dari kecil, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, Kawin.. kehidupan yang ‘biasa’. Walau disela2 proses kehidupan itu banyak sekali riak-riak kecil yang kadang menggoyahkan ‘kayak’ gue ditengah arus air yang cukup tenang. Apakah memang hidup seperti ini yang gue cari?

Entah lah, namanya juga lamunan ‘one day in your life’. Sah-sah aja kalo kita kepingin melakukan sesuatu yang sesuai dengan lamunan kita. Gue menganggapnya sebagai bahan introspeksi diri dan ajang ‘tepo seliro’ dengan diri gue dan lingkungan gue. Walau terkadang, gue jadi bingung kemana harus melangkah saat gue melewati ’spaghetti junction’ seperti yang ada di motorway Birmingham ini. Mudah-mudahan gue bisa melangkahkan kaki ke junction yang tepat, yang membawa gue ke pemberhentian terakhir tujuan gue.

One day in your life.. There will be no ‘you’ in ‘you’.

Keep the spirit, guys….

Nangka Seharga 1,99 GBP

April 20th, 2006 by edisiinggrisraya

Sore tadi gue mampir ke warungnya Aa (East West) untuk beli sayuran, soalnya lagi kepengen banget makan pecel sayuran getu. Begitu gue nyampe disitu, yah.. sayuran yang ada cuman kacang panjang doang. Sedih dech, tapi ngga papa juga kali, karena dirumah masih ada wortel dan terong bulet. Image_00016

Tapi ada sebentuk benda berwarna kekuningan yang tergeletak dengan manisnya di freezer. Gue langsung teriak…. Nangka…. Wuih… udah lama banget engga ngeliat, apalagi memakannya.  Seketika gue jadi ngiler gitu, dan tanpa berbasa basi lagi, gue langsung beli. Namun, harganya yang lumayan nonjok, bikin gue sakit hati juga sich. Tapi apa daya, nafsu sudah mengalahkan segalanya. Gue harus beli nangka itu. Titik.

Akhirnya.. jadilah nangka itu gue beli. Dan sudah bisa kebayang kan betapa nikmatnya rasa si nangka. Karena sejatinya, nangka dan duren adalah dua buah favorit gue sewaktu di Indo. Akhirnya bisa ngerasain makan salah satu dari mereka. Tersalurkan sudah nafsu ku atas nangka… nyam nyam…

Key Elements of Fiscal Decentralisation

April 20th, 2006 by edisiinggrisraya

The rule ‘finance follows function’ would be the best way of showing that fiscalBesniks_first_slide decentralisation had taken place in a devolved system. The substance of ‘finance follows function’ is assigning a set of functions which is adequately matched with the assigning of own source revenues or transfers (Bahl, 1999). In addition, adequate and reliable resources to carry out the given functions are part of the requirements of effective decentralisation (Devas, 2006). Hence, it is worth noting the key elements of fiscal decentralisation in the decentralisation of functions1.

·        An appropriate set of functions for sub-national governments

This element addresses the question of ‘who does what?’ or ‘what are the functions and expenditure responsibilities of each level of government?’ (Bird and Vaillacourt: 1999, Boeix, 1999). An ideal method of examining the adequacy of assigning functions to lower levels of government is to analyse how well the actual assignment of responsibility fits the fundamental rules of expenditure functions given to sub-national governments (Vasquez, 1999).  In addition, Smoke (2001) emphasises that recognising a clear, gradual, and pragmatic strategy is necessary to set the functions more appropriately to lower levels of government.

Why is such assigning of expenditure responsibilities important for ensuring that fiscal decentralisation is implemented in a decentralised government system? In responding, Boeix (1999) notes that the assignment of expenditure responsibilities has a multi-dimensional component, that is, the responsibility to provide, finance, and regulate a certain government function. In this regard, it notably underlines the need to recognise certain functions in order to minimise disputes and potential conflicts amongst tiers of government. Henceforth, fiscal decentralisation should ideally be preceded by political and administrative decentralisation (Braun and Grote, 2002).   

·        An appropriate revenue-resource responsibilities

The ideal way to assign revenue responsibilities is to bring about revenue mobilisation and revenue-raising powers (Bahl, et al, 1999).   Therefore, it is necessary to have tax-autonomy to match the assigned functions. As a result, taxpayers may increase their demands on a highly public service provision.

This argument can be derived from the OECD (2004): that ‘when sub-national expenditure is financed predominantly with resources mobilised locally, sub-national jurisdictions face stronger incentives to evaluate the benefits of an increase in spending against the costs of incremental taxation’.  Therefore, the argument would be best exercised using the principles of tax-autonomy to sub-national governments, thus enabling the rich regions to finance the service provision from their own revenue and collecting revenues from local residents in order to provide the benefits to local people (Bird and Vaillacourt, 1999). 

·        A well-designed intergovernmental fiscal transfer system

There is growing concern over the contribution of intergovernmental fiscal transfer which until recently still constituted the primary source for local budgets2. The likely reason is that since revenue assignments did not provide sufficient revenues for funding local expenditures, intergovernmental transfer had to ensure the enough revenue at the local level (Boeix, 1999).

Transfers can be formulated in some cases, depending on purpose. They can be unconditional or conditional, or can also form matching or non-matching grants. The principle is that transfers should be generous enough to ensure that sub-national governments can afford to implement the decentralisation of functions.

·        Adequate access to development capital

Access to development capital is vital for enhancing local discretion over financing local expenditures. The purpose of giving substantial access to financial institutions and markets is mainly to accelerate development generating increased local revenues (Devas, 2006). This gives sub-national governments alternatives in financing their expenditures, particularly capital investment, which is assigned by central government. However, considering that such access would create potential problems due to overall macroeconomic stability, it is, therefore, important to set conditionality above local borrowing.

·        An adequate enabling environment for fiscal decentralisation

The political will which enables government to establish constitutional and legal mandates for fiscal decentralisation is also essential, since it implies a strong foundation for fiscal decentralisation.

Such an internal driving-force for decentralisation, rather than external driving-forces (i.e., pressures from donors) fosters successful fiscal decentralisation.

Uganda

and

Ethiopia

, for instance, initiated their fiscal decentralisation when they experienced a strong national commitment to decentralise (Smoke, 2001). Indeed, instruments of fiscal decentralisation were then vigilantly introduced, with robust and clearly defined constitutional and legal provisions.

While Prud’Homme (2003) almost agrees with these provisions, he holds the presence of accountability mechanism to be a critical value in enforcing fiscal decentralisation. Letting an effective fiscal decentralisation instruThere_u_go_finally_i_can_begin_my_presenment also relates to central government controls, guidelines and constraints upon local government. In this sense, such control would relate to upward accountability to the centre, which would make an accountability mechanism possible between tiers of government.

Naik Bus Lagi

April 20th, 2006 by edisiinggrisraya

Pict1033Gara-gara ada isu Amrik mau nyerang Iran (menurut Aryati), harga unleaded semakin menggila. Pagi ini gue lihat di Shell deket Harborne, harganya sudah mencapai 92,9 p/litre. Padahal dua hari lalu waktu gue isi bensin pas Jeng Ika datang, harganya masih 90,9 p/l. Gilaaaa…..

Nah, demi mengamankan posisi keuangan gue, akhirnya gue memutuskan untuk naik bus lagi. Kebetulan banget gue tinggal di area yang dilalui bus nomer 46 yang free of charge. Walau harus sedikit jalan kaki karena jarak dari bus stop ke rumah lumayan jauh, tapi gue mencoba untuk tabah. Just like the old days.. sebelum gue dimanja ama Honda Accord merah gue itu..

Setelah menunggu sekitar 20 menit bersama housemate gue (Coletha), aGoing_home_bye_bye khirnya gue si bus datang juga. Wah ternyata nyaman juga naik bus, sepanjang cuaca cerah saja.. Dan, bener aja.. waktu gue meninggalkan rumah, sinar matahari kinclong banget menyinari 58 Winnie Road. Karena terbiasa bawa mobil, gue jadinya ngga siap2 dengan perabotan untuk survival, kayak payung or topi. Alhasil, setelah 2 jam gue meninggalkan rumah karena harus ngurusin surat extension gue ke John Watson dan moto kopi bahan untuk essay, eh… si hujan datang. Anjrit, gue kaga bawa payung.

Tapi.. memang gue lagi diblessed ama yang diatas. Pas gue lagi keujanan gitu, ada classmate gue nawarin pulang bareng dengan mobilnya… Wuih, emang dech.. nasib gue lagi untung gitu. Padhaal gue udah ngebayangin bakalan ujan-ujanan gitu dech

However, pengalaman naik bus lagi cukup menyenangkan juga, selama itu gratis .. hahahaha….

Pengalaman Nyolong Daffodills

April 20th, 2006 by edisiinggrisraya

Rotation_of_image_00008 Here comes the spring. Walaupun ngga gitu ngaruh ke cuaca (karena masih aja dingin), tapi Birmingham sudah diselimuti oleh bunga-bunga yang cantik. Ngga terkecuali Daffodills.

Sumpah mati gue sangat suka dengan suasana cerah ceria penuh warna warni bunga. Kuningnya Daffodils, Tulips, Aster, dan bunga-bunga lain yang gue ngga hafal namanya menghiasi taman-taman di kampus dan di jalan-jalan.

Waktu kunjungan jeng Ika ke kampus gue, dia sempet cerita kalo dia suka nyolong bunga-bunga itu untuk ditanam di kos nya dia. Dalam hati gue bepikir, hmm.. kenapa juga ngga gue coba colong beberapa Daffodils itu untuk menghiasi kamar gue yang cantik? Nah, pikiran kotor langsung menghantui kepala gue. Akhirnya gue utarakanlah niat gue itu ke Ika, dan seketika Ika bilang : Oke.. mari kita langsung ber-operasi..

Setelah lirak lirik kanan kiri, dengan sigapnya Ika memotek beberapa tangkai daffodils yang tumbuh liar di deket perpustakaan. Terus terang gue deg deg an, karena katanya sich orang sini care banget ama masalah lingkungan gitu.. Ngga boleh metik sembarangan! Wuih, alhamdulilah berhasil dan delapan tangkai daffodils berhasil kita petik. Lega… akhirnya lumayan ngirit 2 pounds nich, karena biasanya gue harus ngluarin sekitar 2-3 pounds untuk membeli bunga segar di Sainsbury. Cihuy dech Ika.. thanks yach atas pelajarannya.

Dua hari setelah kepulangan Ika ke Coventry, gue njajal untuk nyolong sendiri. Dengan rada kikuk, gue meraih tangkai2 daffodils yang terkapar dengan indahnya di taman belakang perpus. Dan, tiga tangkai daffodils berhasil gue petik. Sangking gugupnya, daffodils yang berhasil gue petik langsung gue masukkin ke dalam jaket gue.. hehe….

Wah, pengalaman nyolong daffodils seru juga yach…. (ssst.. do not try this ya kalo ngga mau ketahuan..)

Thanks for comin’, Ika

April 20th, 2006 by edisiinggrisraya

Rotation_of_rotation_of_image_00013 Hari minggu lalu gue kedatangan tamu dari kampung sebelah -Coventry. Tamu gue itu namanya Ika. Asli, gue bahagia banget kedatangan tamu di sela-sela kesunyian gue karena cuman bercokol di kamar dan ngerjain assignment. Akhirnya, ada alasan untuk keluar rumah dan menghibur diri dari kekangan reading lists yang menggunung di kamar gue.

Ika anaknya asik banget. Ngocol dan bocor abis. Kita pernah ketawa ngakak pas berhenti di lampu merah dan ada iklan ‘cum 2 bed’ persis di tiang lampu merah Selly Oak. Ngebayangin kalo iklan kayak gitu ada di Jakarta, langsung dech bakalan di sobek-sobek ama FPI. Kalo perlu tiang lampu merahnya dicopot dan dimusnahkan, hehe.

Setelah asik menyusuri pelataran kota Birmingham, ngga lupa untuk melongok suasana malam di Broad street. Ditemenin ama Mayang, akhirnya kita memutuskan untuk sekedar kongkow di Velvet. Waktu kita lagi asik2nya ngobrol ngalor ngidul, ada bule mabok ngedeketin kursi kita. Rada takut juga sich karena tau ndiri lah kalo orang lagi mabok kan ngga bisa dikontrol. Tapi untungnya ada temen si bule mabok itu yang ngikutin dari belakang, jadinya kita selamet. Dan, akhirnya kita pulang ke rumah masing2 setelah lewat jam 1 pagi.

Keesokan harinya, acara muter2 bersama Ika lebih gila lagi. Seharian jalan di canal dan belanja di one stop shopping. Gue cuman menahan napas supaya kaga keikutan napsu pengen belanja. Tapi, tetep aja bo… 40 pounds melayang karena gue ngga kuat menahan diskon nya Next clearance.. hehe.. 

Sorenya kita memulai acara masak-memasak. Karena kedatangan tamu Indonesia, akImage_00014hirnya gue memutuskan untuk memasakkan makanan khas Indonesia. Akhirnya, sayur asem dan tumis ikan teri kacang menjadi sasaran gue. Belanja di Sing Fat, dan memulai meracik bumbu seadanya. Alhasil, sayur asem lengkap dengan ikan teri kacang. Nuikmat luar biasa… Ika makan dengan lahapnya, dan dalam hati gue bersyukur, kalo kaga ada Ika, mana mau gue repot2 masak beginih.. hehe.. Wah pokoke sayur asem gue ngga terkira dech nikmatnya. Nikmat luar biasa.. keke.. Nih dia fotonya…Image_00015

Tapi, berhubung jeng Ika harus pulang dan meneruskan proposal disertasi dia yang harus dikumpul hari Jumat, akhirnya dia memutuskan untuk pulang hari selasa. Selasa siang, setelah mengunjungi Cadbury World, akhirnya jeng Ika pulang.. I hate good bye.. makanya, I just said ’see you again’..

Well, thanks for comin’, Ika…. si yu ley eh…

Unleaded.. oh Unleaded…

April 17th, 2006 by edisiinggrisraya

Sudah dua minggu ini harga unleaded melonjak tajam. Terakhir saya isi bensin untuk mobil Honda Accord saya, dua minggu lalu, harga unleaded masih 89,9 pence/liter. Tapi hari ini, wuih… sudah mencapai 91,9 p/litre di Tesco dan 94,9p/litre di Total. Duh.. semakin berat aja buat pengendara mobil pas-pasan di UK kayak saya ini….. 

Ada apa gerangan yach??? Somebody tell me why…..

Medium-Term Expenditure Framework

April 15th, 2006 by edisiinggrisraya

Jakarta_euy Salah satu reformasi budgeting yang sedang menggejala di berbagai belahan dunia adalah Medium-Term Expenditure Framework (MTEF). Metode ini sangat gencar diadvokasi oleh lembaga donor seperti World Bank dan IMF. Dengan jargon sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan sebuah ‘Poverty Reduction Strategy Programs’, kedua lembaga donor tersebut meng-enforce negara-negara yang menerima bantuan dari kedua institusi tersebut untuk mengimplementasikan MTEF dalam proses penyusunan dan pengimplementasian budgeting mereka.

Sebenarnya, apa sich MTEF itu? Menurut definisi dari World Bank (1998), MTEF merupakan sebuah kerangka berpikir yang mensinergikan antara perencanaan (dari sisi penerimaan dan pengeluaran pemerintah), pelaksanaan anggaran, dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara untuk tahun bersangkutan dan beberapa tahun yang akan datang. Sekilas sich sama dengan bentuk metode budgeting biasa, tetapi yang membedakan adalah proses kesinambungan dari sebuah public expenditure management. Dengan demikian, yang difokuskan tidak hanya bersifat short term saja, tetapi juga kepada broad policies untuk jangka menengah. Dalam MTEF, unsur terpenting yang harus dilakukan adalah institutional arrangements. Unsur penentu kebijakan dibidang perencanaan dan finance sebaiknya diintegrasikan untuk mempermudah dalam proses pengelaborasian broad policies tadi.

Mengapa MTEF menjadi penting? Pertama, menjamin predictability. Dengan berbasiskan metode 100_1486 forward estimates aggregate resources, unsur predictability menjadi lebih mudah untuk diraih. Kendala yang selama ini dialami oleh negara berkembang adalah overly estimates terhadap proyeksi penerimaan negara. Sementara itu, sikap yang terlalu optimis ini tidak dibarengi oleh kapasitas ‘pemungut’ pajak ataupun tax potential itu sendiri. Di sisi pengeluaran, terdapat perbedaan pandangan antara Ministry of Finance dan  Line ministries, dimana MoF menganggap bahwa expenditure estimation tergantung pada "availability", sementara Line ministries umumnya melakukan estimasi terhadap iberdasarkan "needs". Mismatch perception ini kerap menimbulkan friksi dalam proses penyusunan anggaran.

Dengan mengimplementasikan MTEF, kemungkinan konflik tersebut bisa diperkecil. Dengan mengkonstruksi sebuah kerangka kerja dan prioritas jangka menengah yang mendeskripsikan broad policies untuk -at least- lima tahun ke depan, hal ini akan lebih memudahkan dalam melakukan kontrol terhadap uang publik. Khusus bagi bagi MoF, kondisi ini akan mempermudah dalam mengenalkan istilah ‘hard budget constraints’ kepada line ministries.  Hal ini karena penyakit yang selama ini menjalar di negara berkembang adalah line ministries cenderung melakukan rent-seeking behaviour dalam menetapkan anggaran belanja mereka. Kecenderungan untuk tidak efisien dan memaksimalkan anggaran pengeluarannya, membuat MoF kesulitan dalam mengatur uang negara tersebut. Terkadang upaya ‘pemotongan’ anggaran line ministries tersebut dianggap sebagai upaya ‘pengurangan’ kualitas atas public service, padahal dari kaca mata MoF, segalanya tergantung availability keuangan negara. Makanya, MTEF menjembatani konflik tersebut melalui perencanaan yang berkesinambungan dan terkontrol, dan lebih penting lagi, menjamin predictability dalam resource flows dan kriteria untuk public expenditure.

Kedua, meningkatkan kualitas dalam pengambilan kebijakan. MTEF menjamin terbentuknya sebuah mekanisme untuk sarana konsultasi dan debat antara MoF, line ministries, parlemen, dan civil society (salah satu bentuk citizen participatory dalam budgeting). Dengan adanya serangkaian diskusi dan pembahasan yang ’sehat’ antara para pengambil kebijakan tersebut, kualitas proses penyusunan anggaran tersebut dapat legitimate. Untuk itu, para ekspatriat di WB dan IMF menyebut MTEF sebagai sarana untuk me-legitimate proses pengambilan kebijakan.

Daerahkumuh Ketiga, MTEF juga terbukti dapat menjadi sarana untuk mekanisme transparansi dan accountability. Pengalaman di negara-negara berkembang yang telah mengadopsi MTEF (seperti South Afrika dan Uganda) menunjukkan bahwa MTEF terbukti meningkatkan audit trail dalam rangka meningkatkan akuntabilitas publik. Bentuk dan jabaran anggaran negara ke dalam sebuah konstruksi berdasarkan fungsi (organisasi), program, kegiatan, dan jenis belanja dari sisi nilai ekonomi membuat penganggaran berdasarkan MTEF ini memberika ruang gerak bagi MoF, Parlemen, dan civil society dalam melakukan check and balances terhadap kinerja dan performance line ministries.

Namun, tidak semua model sempurna. Problem yang mungkin ditimbulkan dari information assymetry antara MoF dan line ministries dapat mengganggu kesinambungan dalam proses kerja sama antar instansi tersebut. Sebuah kondisi yang menempatkan MoF sebagai planner sementara  line ministries sebagai administrator, membuat distance antara MoF dan line ministries. Bila kondisi ini tidak di-overcome melalui sebuah rekonsiliasi politik, maka problem assymetry tersebut agak sulit untuk diminimalisasi.

Permasalahan yang lain adalah dibutuhkannya kombinasi antara top-down dan botton-up decision yang harmonis. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang kapabel untuk bisa mengelaborasi kedua pendekatan tersebut. Pentingnya informasi yang valid dan reliable, juga menentukan keberhasilan pengimplementasian MTEF di negara berkembang.

Permasalahan lain yang cukup penting adalah political will. Tanpa komitmen politik yang cukup tinggi untuk menerapkan MTEF, maka mustahil MTEF akan berlaku secara efektif. Mengapa ini menjadi sebuah bentuk permasalahan? Hal ini karena the nature of MTEF itu sendiri yang menjamin tercapainya akuntabilitas publik  melalui audit trail tersebut sehingga menyebabkan dibutuhkannya political commitment dari kalangan eksekutif, legislatif, dan judikatif. Tentunya hal ini akan sangat ‘membahayakan’ bagi para rent-seeker yang mengambil ‘keuntungan’ dari uang publik. Political commitment juga terkait dengan bekerjanya law enforcement sehingga memungkinkan proses akuntabilitas publik ini dapat terlaksana.

Dari uraian tersebut kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna.  Sebuah model akan diperbaharui lagi dengan model yang lainnya karena adanya kelemahan terhadap model tersebut. Begitu seterusnya sampai ditemukan metode yang terbaik yang dapat mengakomodasi kemungkinan kelemahan yang mungkin ditimbulkan. MTEF belum tentu merupakan model yang terbaik untuk menyusun, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan anggaran negara, tetapi konsep dasarnya yang mengedepankan prinsip kesinambungan, transparansi, dan akuntabilitas sangatlah menarik untuk dikaji lebih lanjut.Anak_indo